Tak Berbekas, Restoran Sate di Kawasan Syamiah
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi dalam bulan ini kembali melakukan pembongkaran besar-besaran di sekitar Masjidilharam, Makkah. Sejumlah hotel dirobohkan. Tak kecuali Pasar Seng yang sangat terkenal itu. Berikut laporan wartawan senior Jawa Pos Anas Sadaruwan yang baru saja mendampingi jamaah umrah dari sana.

Bagi jamaah asal Indonesia, nama Pasar Seng sangatlah populer. Lokasinya di ujung tempat sai. Dari Marwah, belok kanan sedikit. Pasar Seng sebenarnya sebuah gang panjang yang di atasnya dipasangi atap seng.

Di tempat inilah dijual berbagai macam oleh-oleh jamaah haji, mulai kurma, tasbih, kacang Arab, surban, minyak wangi, kopiah, minyak zaitun, kerudung, perhiasan emas, hingga barang-barang elektronik.

Tapi, sekarang pasar yang sangat terkenal itu sudah tak ada lagi alias sudah rata dengan tanah. Seluruh bangunannya sudah dirobohkan. Bukan hanya pertokoan dan pasar yang dibongkar. Bangunan lain di sekitarnya, baik hotel kecil maupun hotel sebesar Sheraton, dalam proses dihancurkan.

Ketika saya umrah 10 April lalu, Hotel Sheraton masih utuh. Namun, sudah mulai berbenah. Tampak kesibukan luar biasa di hotel itu. Banyak pekerja mengangkuti barang-barang yang masih dianggap berharga.

Masjid Kucing dan Hotel Soraya, yang juga berdekatan dengan Pasar Seng, masih terlihat menyala lampunya dan masih digunakan. “Di musim haji tahun ini, masih bisa dipakai, setelah itu wallahu alam,” kata manajer Hotel Soraya, yang keberatan menyebutkan namanya.

Pasar Seng bagi jamaah haji Indonesia memang penuh kenangan. Di sinilah banyak berdiri warung sederhana masakan Indonesia. Mulai gule kambing, soto, dan rawon yang rata-rata enak. “Di atas wilayah itu terdapat kamar-kamar yang disewakan untuk jamaah. Saya pernah menyewa di situ ketika umrah pada Ramadhan,” cerita Munif Basuni, salah satu jamaah umrah asal Indonesia.

Jamaah haji atau umrah yang mendapat penginapan di kawasan tersebut, ketika menuju Masjidilharam memang harus melewati Pasar Seng dan melintasi tempat sai.

Tempat sai sekarang juga berubah. Saat ini sudah dibangun tempat sai yang baru lagi, yakni tiga tingkat di samping tempat sai lama. Sedangkan tempat sai yang lama sudah dibongkar dan akan dibangun kembali tiga tingkat. Kabarnya, dua tempat sai tersebut akan digabung, masing-masing menjadi satu arah.

Bagaimana Hotel Makkah yang terkenal itu? Tiga tahun lalu hotel ini direnovasi dan berganti nama menjadi Grand Makkah.

Dulu, sebelum hotel-hotel baru yang berbintang empat dan lima muncul, Hotel Makkah menjadi rebutan penyelenggara Haji Plus. Meski kelasnya bintang satu, karena tempatnya persis di sebelah Masjidilharam, lokasi hotel tersebut sangat strategis. Sebentar lagi hotel yang sudah direnovasi itu pun harus roboh. Ketika saya ke sana, terlihat kaca-kaca jendela sudah dicopoti dan barang-barang yang dianggap masih berharga sudah diambili.

Begitu strategisnya hotel tersebut, sehingga jamaah yang menginap di sana, sering baru mau keluar dari kamar kalau mulai mendengar azan. Bahkan, banyak jamaah yang baru turun untuk ikut salat di Masjidilharam setelah iqomah dilantunkan. Jaraknya memang dekat, hanya 50 meter.

Malah ada juga jamaah yang “berani” ikut salat jamaah cukup di kamar. Kebetulan kamar mereka menghadap Masjidilharam dan dari dalam kamar bisa melihat Masjidilharam.

Ada satu hotel lagi yang posisinya seperti Hotel Makkah. Yakni, Hotel Qurtuba, yang jaraknya hanya 20 meter dari Masjidilharam. Saya punya kenangan menarik dengan hotel tersebut. Di hotel itulah saya untuk kali pertama menempatkan enam jamaah haji plus pada 1995. Hotel itu pun pasti akan dirobohkan juga.

Di deretan tak jauh dari Qurtuba, masih ada Hotel Zahret, Hotel Darkum, Hotel Talal, Hotel Firdaus Umrah, Hotel Firdaus Makkah, dan banyak lagi. Saya melihat sendiri, 12 April lalu, sebuah alat berat mulai membongkar Hotel Firdaus Makkah. Hotel-hotel lain, seperti yang saya saksikan, juga mulai dikosongkan dan listriknya juga sudah dipadamkan.

Saya kemudian masuk Jl Subaikah, yakni dari Hotel Makkah arah ke kanan sekitar 100 meter. Di jalan ini biasanya ramai orang berjualan berbagai oleh-oleh, makanan, dan beberapa tempat penukaran uang. Juga ada puluhan hotel di jalan ini, mulai yang kecil sampai yang besar.

Namun, ketika saya ke sana, toko-toko dan kios-kios makanan sudah kosong melompong. Demikian juga hotel-hotel itu banyak yang dirobohkan. Debu-debu pun beterbangan.

Salah satu yang sudah dirobohkan adalah Hotel Ibadur Rahman. Pemiliknya asal Sumbawa yang sudah menjadi warga negara Arab Saudi. Saya pernah menempati hotel itu ketika berhaji pada 1995. Hotel Sahah Karim yang baru setahun direnovasi, juga berada di Jl Subaikah. Hotel ini berbintang empat, dan sebenarnya juga baru saja direnovasi. Hotel ini pun, ketika saya ke sana, juga sudah dikosongkan dan segera dirobohkan.

Mungkin di antara para jamaah Indonesia juga tahu di mana letak Hotel New Safa. Jaraknya relatif dekat dengan Masjidilharam, sekitar 60 meter. Hotel ini berada di Jl Syamiah. Kalau dari arah Hotel Makkah, berjalan ke kiri sekitar 80 meter, ada jalan arah ke barat. Inilah Jalan Syamiah. Ratusan hotel berada di jalan itu. Mulai Hotel Asia, Hotel Rawabi, dan yang paling ujung adalah Hotel Al-Safa. Kini hotel-hotel itu sudah rata dengan tanah.

Sebelumnya, ketika kita berjalan di jalan itu, suasananya dingin karena sinar matahari terhalang oleh bangunan hotel yang tinggi-tinggi. Sekarang di kanan-kiri jalan tampak tumpukan puing-puing reruntuhan hotel. Debu-debu pun beterbangan karena alat-alat besar sedang membongkar puing-puing dan mengangkut keluar dengan truk-truk besar.

Saya teringat pada 1997, jamaah yang saya dampingi menempati Hotel Al- Safa. Hotel ini jaraknya sekitar 600 meter dari Masjidilharam. Hotel ini cukup besar meski kamarnya biasa-biasa saja. Tapi, liftnya banyak.

Di hotel inilah seorang jamaah saya meninggal dunia dan dimakamkan di Makkah. Hotel ini memang belum dibongkar, tapi listrik sudah mati dan sudah dikosongkan, siap dirobohkan. Ternyata batas pembongkaran bukan di Hotel Al Safa saja. Di sebelah baratnya hotel-hotel yang lain sudah mati listriknya. Diperkirakan pembongkaran sampai jarak 900 meter dari Masjidilharam.

Saya punya langganan tempat makan sate, namanya Restoran Buyung. Sate daging sapi di tempat itu rasanya sangat enak. Apalagi ada kuah panas, dicampur daun bawang. Yang paling mengesankan adalah sambalnya, sangat pedas. Ketika umrah 12 April lalu, saya kehilangan tempat itu karena berada di kawasan Syamiah.

Ayam panggang, misalnya, di mana-mana ada. Tapi, ayam panggang di Jalan Syamiah itu rasanya beda. Bumbunya merasuk ke dalam, agak pedas. Belum lagi ausolnya yang empuk. Ausol adalah sate kambing yang dagingnya besar-besar dan tusuknya dari besi. Semua itu juga tidak ada lagi. Jalan Syamiah, selamat tinggal.

Para Jamaah pun Kehilangan Tempat Belanja Lebih dari Separo

Banyaknya hotel yang dibongkar di sekitar Masjidilharam membuat hotel yang masih berdiri jual mahal. Mereka memasang tarif hingga dua kali lipat daripada harga biasanya kepada para jamaah.

Ketika berjalan-jalan menyaksikan sejumlah hotel yang sudah dirobohkan di sekitar Masjidilharam, saya menuju ke Hotel Sofitel. Musim haji tahun lalu, hotel ini berganti nama menjadi Makkah Royal.

Hotel bintang empat itu terletak di ujung tempat sai, yakni di Marwa. Bahkan, hotel itu dihubungkan dengan jembatan yang terletak di tempat sai lantai dua.

Kamar-kamar Makkah Royal cukup bagus. Restorannya di lantai 10 juga cukup luas. Sambil makan di sana, kita bisa melihat Kakbah dari atas. Banyak penyelenggara umrah dan haji khusus yang memakai hotel tersebut.

Manajemen hotel itu sebenarnya masih menawarkan kamar untuk musim haji tahun depan. Tapi, pemerintah keburu memutus aliran listriknya. Ini tanda bahwa hotel tersebut juga bakal dihancurkan.

Di sekitar Makkah Royal, masih banyak hotel kecil. Misalnya, Hotel Huda. Semua bernasib sama.

Di depan Makkah Royal, ada jalan bernama Ghararah. Di jalan itu banyak terdapat hotel besar. Misalnya Buruj Elaf, Hotel Marwa, dan Golden Palace.

Ketika saya ke sana, listriknya juga sudah diputus. Termasuk puluhan hotel kecil dan toko-toko di sekitarnya. Saya terus berjalan ke utara, menjumpai hotel bernama Sofwah Palace. Ternyata, listriknya masih menyala, juga masih menerima tamu. Dari Masjidilharam ke hotel ini, jaraknya sekitar 600 meter.

Dengan dibongkarnya kawasan Jabal Kakbah, Subaikah, Syamiah, Ghararah, dan Pasar Seng, para jamaah kehilangan tempat belanja lebih dari separo.

Hotel Daruttauhid Intercont, Hilton Tower, Hotel Hilton, hotel baru Zam Zam Tower memang masih berdiri kukuh. Termasuk ratusan hotel ke arah selatan dan timur.

Hotel-hotel dan toko-toko di daerah itu saat ini ketiban rezeki nomplok karena para penyelenggara umrah dan haji khusus kelabakan mencari hotel setelah pembongkaran. Hotel-hotel kecil yang dulu tidak pernah ditempati jamaah umrah Indonesia kini jual mahal. Mereka merasa dibutuhkan. Sebelumnya, harga per kamar di hotel-hotel kecil itu rata-rata 100 real per hari. Kini, melonjak menjadi 150 real. Bahkan, ada yang menaikkan harga sampai dua kali lipat.

Para pedagang yang kawasannya dibongkar tidak bisa begitu saja pindah ke tempat lain. Mereka terpaksa berhenti berdagang. Begitu juga karyawan atau pegawai ratusan hotel yang dibongkar. Di balik itu semua, tampaknya, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mempunyai rencana besar jangka panjang.

Di sekitar Masjidilharam mungkin akan dijadikan kawasan yang bersih dan luas. Kalau toh ada bangunan, barangkali bangunan itu akan ditata rapi dan terencana, seperti kawasan di sekitar Masjid Nabawi, Madinah, sekarang.

Masjid Nabawi sebelum diperluas dulu banyak pedagang yang jualan di sekitarnya. Ada kesan kumuh. Pada masa Raja Fahd, Masjid Nabawi disulap menjadi masjid yang tercantik di seluruh dunia.

Dibatasi halaman masjid yang luas, barulah ada bangunan hotel-hotel besar yang tertata rapi. Banyak jamaah yang saya dampingi kerasan di Masjid Nabawi karena sangat indah dan cantik. “Saya jatuh cinta,” kata salah seorang di antara mereka.

Kawasan Masjidilharam bukan hanya sekarang saja diperluas. Pada zaman Raja Fahd, Masjidilharam sudah diperluas dengan menambah dua menara dan pintunya dinamakan Pintu Malik Fahd. Tempat ini dulu adalah terminal bus. Sekarang menjadi kawasan Masjidilharam yang ber-AC.

Raja Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud, pengganti Raja Fahd, tampaknya, mempunyai rencana besar jangka panjang.

Barangkali karena jamaah haji dan umrah dari seluruh dunia setiap tahun terus bertambah, fasilitas pelayanan juga harus diperbesar dan diperluas. Lokasi pelemparan jumrah misalnya. Tempat yang dulu hanya dua tingkat dan sering terjadi kecelakaan itu langsung dibongkar habis, kemudian dibangun kembali dan direncanakan menjadi empat tingkat.

Tiang jumrah, yang dulu kecil, sekarang diganti lebih besar dan lebar sehingga para jamaah haji tidak perlu berjubel di satu titik yang sempit. Dua tahun ini, pembangunan tempat jumrah terus berjalan dan belum selesai.

Banyak orang bilang, manajemen tempat pelemparan jumrah pada musim haji tahun lalu paling sukses. Karena jamaah bisa melempar dengan aman, diatur rapi sedemikian rupa, sehingga yang pergi dan yang pulang tidak berpapasan.

Tempat sai juga berubah. Di samping tempat sai yang lama, secara berdampingan dibangun tempat sai baru tiga tingkat.

Tempat sai yang lama sekarang dibongkar. Di tempat sai yang lama, di Safa dan Marwa, ada bukit kecil atau gundukan batu yang dimelamin sebagai tanda bahwa tempat itu adalah Bukit Safa dan Marwa.

Tapi, di tempat sai yang baru, bukit batu itu tidak ada lagi. Dibongkar dan dibangunnya kembali tempat sai yang lama, boleh jadi, akan digabung dengan tempat sai yang baru, sehingga perluasan tempat sai itu bermakna sebagai antisipasi bertambahnya jamaah haji dan umrah dari seluruh dunia.

Mungkin saja tempat sai yang lama dan yang baru masing-masing menjadi satu arah.

Dengan perubahan tempat sai itu, mungkin akan timbul pertanyaan, apakah sah bersai di tempat yang baru itu? Apakah masih bisa dikatakan bersai di antara Bukit Safa dan Marwa? Barangkali, pemerintah Arab Saudi sudah mempunyai alasan yang kuat untuk itu.

Masjidilharam yang di tengahnya ada Kabah memang terletak di sebuah lembah yang diapit oleh gunung batu.

Dalam perkembangannya, untuk menampung jamaah yang terus bertambah, orang kemudian membangun hotel di bibir-bibir gunung batu itu. Bertambah tahun, bertambah berjubel.

Lima tahun lalu, ratusan hotel di bibir Jabal Umar di sebelah kiri Hotel Daruttauhit Intercont, arah ke Misfalah, sudah dirobohkan. Dengan demikian, Jabal Umar, yakni gunung batu yang besar itu, terus digempur untuk diratakan dengan tanah.

Karena besar dan luasnya Jabal Umar, sampai saat ini penggempuran terus berjalan dan belum selesai. Dengan dibongkarnya hotel-hotel di bibir Jabal Umar, sekarang ditambah lagi dengan dirobohkannya hotel-hotel di kawasan Subaikah, Syamiah, Ghararah, dan Pasar Seng, maka jumlah hotel di Makkah berkurang drastis.

Pembangunan kembali kawasan tersebut, kabarnya, menunggu gunung-gunung batu itu digempur dan diratakan dengan tanah. Nanti kawasan sekitar Masjidilharam akan tampak sangat luas dengan gedung-gedung yang besar, indah, dan tertata dengan sempurna. Masjidilharam berada di tengah-tengahnya.

Dengan demikian, rencana besar Raja Abdullah sebagai Khadimul Haramain (pelayan dua Tanah Suci, Makkah dan Madinah) akan terealisasi dengan sempurna.

Makkah benar-benar berubah secara fisik. Besar-besaran dan radikal. Selamat tinggal kekumuhan. Selamat datang kebersihan dan ketertiban.

Tinggal para jamaah haji yang harus menyesuaikan diri. Dengan begitu, upaya pembersihan dan penertiban tersebut tidak bertepuk sebelah tangan hanya karena sikap jamaah haji yang kurang rapi dan kurang tertib. (Jawa Pos)

About these ads