NEW YORK – Harga minyak kembali turun drastis untuk kedua kalinya pada pekan ini, setelah melemah USD4,4 per barel. Jika diakumulasikan, penurunan harga minyak dalam dua hari terakhir ini telah mencapai lebih dari USD10 per barel, dan memunculkan spekulasi bahwa harga emas hitam ini akan kembali melejit.
Harga minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Agustus pada perdagangan Kamis (17/7/2008) di New York Merchantile Exchange anjlok USD4,14 menjadi USD134,60 per barel, setelah sebelumnya melorot di level USD132.
Penurunan pada perdagangan Rabu itu mengikuti pelemahan sehari sebelumnya yang sebesar USD6,44 per barel, dimana hal ini penuruan terbesar selepas Perang Teluk.
Penurunan harga selama dua hari yang sebesar USD10,58 per barel itu merupakan pelemahan dramatis setelah harga komoditas ini sempat menyentuh level tertinggi USD147 per barel akhir pekan lalu.
Namun, meski harga ini telah melorot drastis, tetap saja lebih tinggi 80 persen dari posisi setahun lalu dan sekitar 40 persen dari posisi awal tahun ini.
Para analis belum bisa memproyeksikan, apakah penurunan ini sifatnya jangka panjang atau koreksi singkat mengingat dalam satu bulan ini terus berfluktuatif.
Para pengamat industri khawatir harga minyak akan kembali melonjak, jika melihat gejala beberapa waktu lalu, yaitu penurunan tajam kemudian diikuti dengan lompatan harga dramatis.
Sementara itu, harga minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Agustus turun USD2,56 menjadi USD136,19 per barel di bursa ICE Futures di London. [Okezone]
Kamis, 17 Juli 2008 at 8:44 am
harga minya turun??
wah kabar baik nih.. soalnya kita udah lama krisis minyak…
antri trus di SPBU… capee deehh :)
Kamis, 13 Nopember 2008 at 12:08 am
Sekarang harga minyak dunia sudah USD51/barrel, entah apa lagi alasan pemerintah untuk bilang masih trilyunan subsidi untuk rakyat. Sekarang rakyat yang subsidi pemerintah, dan minyak ’subsidi’ akan lebih mahal dan non subsidi, tapi pemerintah masih ngotot bilang kasih subsidi ke rakyatnya. Itu belum kalo dianalisa soal biaya produksi dan harga jual dalam negeri, nonsense subsidi, semua kebohongan. Yang menarik, kalo harga dunia naik, pemerintah bilang menderita rugi besar karena kasih subsidi rakyatnya, tapi kalo harga minyak dunia turun spt skrg ini, pemerintah juga menderita rugi besar akibat harga ICP turun, pemasukan dari migas anjlok. Lha, lagi2 rakyat jadi kambing hitam, seolah beban yang gak kunjung habis dan dalam posisi yang serba salah.