Memanas, Rusia dan Tiongkok Cemaskan Situasi
PRISTINA – Deklarasi kemerdekaan Kosovo 18 Februari lalu mulai mendapatkan perlawanan, terutama dari Serbia. Sisi utara wilayah tersebut, yang berbatasan dengan Serbia, mulai memanas. Hal itu disebabkan wilayah utara Kosovo yang dihuni etnis Serbia masih merasa menjadi bagian dari Serbia.

Menghadapi situasi tersebut, pasukan NATO dan PBB menutup perbatasan itu sejak Selasa malam (Rabu, 20/2 dini hari WIB). Penutupan tersebut dilakukan demi mencegah merangseknya warga Serbia ke wilayah utara di Kosovo.

Puluhan pasukan perdamaian dari Prancis dan Amerika Serikat memasang pagar kawat berduri di sepanjang perbatasan tersebut. Pagar kawat itu melintasi pos perbatasan Jarinje, yang selama ini menjadi pintu masuk ke Kosovo dari wilayah Serbia.

Selasa lalu, sekelompok etnis Serbia di Kosovo Utara membakar posko perbatasan tersebut. Polisi harus menggunakan kendaraan berat untuk mengusir mereka menjauh dari perbatasan. Insiden itu merupakan yang terburuk sejak deklarasi kemerdekaan Kosovo.

Perdana Menteri Kosovo Hashim Thaci menilai insiden tersebut tidak terlalu serius. Dia yakin pasukan perdamaian PBB dan NATO mampu mengatasi. “Semua masih di bawah kontrol kekuasaan NATO, polisi Kosovo, dan PBB,” ujarnya.

Sebaliknya, Serbia menilai insiden itu sebagai bentuk ketidaksetujuan warga etnis Serbia di Kosovo atas kemerdekaan wilayah tadi. Menteri Serbia untuk masalah Kosovo Slobodan Samardzic menegaskan bahwa wilayah itu masih menjadi bagian negerinya.

Untuk membuktikan itu, pemerintah Serbia, menurut Samardzic, akan mengambil kontrol pos imigrasi. Dia berdalih pos pengendalian tadi adalah bentuk otoritas Serbia atas Kosovo.

Dia menambahkan, rencananya Serbia akan mengambil alih kendali di Kosovo Utara. “Kami tidak menyetujui peralihan titik tersebut dengan cara ini,” katanya.

Sehari sebelumnya, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (EU) Javier Solana menjadi orang pertama yang menyatakan akan berkunjung ke Kosovo sejak kemerdekaannya. Solana mengabaikan masih terpecahnya sikap negara-negara EU terkait dengan kemerdekaan Kosovo.

Sementara itu, Rusia terus memperingatkan bahwa kemerdekaan Kosovo mengancam stabilitas internasional. Menlu Rusia Sergei Lavrov menyampaikan peringatan tersebut kepada Menlu AS Condoleezza Rice. “Kami menggarisbawahi adanya konsekuensi membahayakan pada setiap tindakan itu, yang nanti mengancam kehancuran stabilitas dunia internasional,” ujarnya.

Kekhawatiran yang sama disampaikan Tiongkok. Beijing mendesak Pristina dan Beograd melakukan dialog terbuka. (Rtr/BBC/erm)

Sumber : Jawa Pos