Buntut Pengakuan Kosovo Merdeka
BEOGRAD – Dukungan Amerika Serikat dan negara Barat lain terhadap kemerdekaan Kosovo memantik bara kebencian di hati warga Serbia. Lautan pengunjuk rasa meluapkan emosi itu dengan membakar dan merusak kantor kedutaan besar, antara lain, AS, Inggris, Jerman, dan Prancis pada Kamis malam (Jumat pagi WIB).

Aksi anarkis itu menyusul protes sekitar 150.000 warga Serbia di luar gedung parlemen, yang menentang deklarasi kemerdekaan Kosovo. Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman termasuk negara yang mengakui kemerdekaan Kosovo. Sejauh ini, 23 di antara 27 negara anggota Uni Eropa mendukung kemerdekaan Kosovo.

Sebelum pecahnya peristiwa tersebut, para pengunjuk rasa terus mendengungkan, “Kosovo adalah hati Serbia.” Mereka juga mendengarkan pidato emosional yang menentang pemisahan wilayah itu. Insiden kekerasan serta pembakaran tersebut merupakan wujud ketidakrelaan warga Serbia bila Kosovo terpisah dari wilayah mereka.

“Kita harus menentang kemerdekaan palsu ini. mengambil Kosovo dari Serbia layaknya mengambil kaki, lengan, atau bahkan anak kami,” ujar Vesna Vujacic, guru berusia 54 tahun.

“Kami di sini mendukung orang-orang Serbia yang masih berada di Kosovo,” kata Dejan Milosevic, salah seorang peserta demo lain. “Kami ingin mereka tahu bahwa kami tidak akan membiarkan Kosovo lepas. Kami akan memperjuangkannya.”

Perdana Menteri Serbia Vojislav Kostunica kembali menegaskan tidak menerima kemerdekaan Kosovo. “Kosovo adalah milik Serbia, milik rakyat Serbia. Selama ini sudah seperti ini dan biarkan tetap seperti ini,” ujar Kostunica. Sebagian besar warga Serbia menganggap Kosovo sebagai pusat agama dan kebudayaan mereka.

Sejak pertengahan 1999, Kosovo berada di bawah kendali Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Itu terjadi setelah NATO mengebom wilayah tersebut untuk mengusir tentara yang setia kepada mantan pemimpin Serbia, Slobodan Milosevic, yang ketika itu bergerilya melawan separatis Albania.

Amerika Serikat langsung komplain setelah mengetahui gedung kedubesnya di Beograd jadi sasaran aksi massa. Wakil Menlu AS Nicholas Burns menemui PM Serbia Vojislav Kostunica dan Menteri Luar Negeri Serbia Vuk Jeremic untuk mengajukan protes secara resmi.

“Pesan yang disampaikan sangat jelas bahwa situasi menjadi sangat tidak bisa ditoleransi,” ujar Juru Bicara AS Sean McCormack. Dia pun mengaku telah memperingatkan PM dan Menlu Serbia soal kemungkinan serangan itu.

Juru Bicara Gedung Putih, Dana Perino, mengatakan bahwa dirinya telah menerima laporan kejadian tersebut sebelum kembali ke Washington setelah melakukan kunjungan ke lima negara Afrika. “Kami telah menyampaikan keprihatinan kami kepada pemerintah Serbia. Mengapa kepolisian mereka tidak bisa mencegah insiden ini?” ujar Dana Perino yang menyatakan bahwa kedutaan besarnya telah diserang dengan sangat kejam.

Presiden Serbia Boris Tadic yang sedang berkunjung ke Rumania menyerukan agar kekerasan segera dihentikan. “Kepada semua yang terlibat dalam kerusuhan, saya minta segera mundur. Hal itu hanya merusak integritas pertahanan dan kedaulatan kita serta pertahanan kita atas Kosovo,” kata Tadic seperti dikutip kantor berita Beta.

Bersamaan dengan pembakaran gedung Kedutaan Besar AS, Kedutaan Besar Jerman dan Kanada mengalami nasib serupa. Pengunjuk rasa membakar pos keamanan Kedubes Jerman dan membakar sebuah mobil yang diparkir di luar gedung misi diplomatik Kanada. Kedutaan Bosnia, Kroasia, dan Turki juga menjadi sasaran.

Lalu, para pengunjuk rasa berpindah ke bagian lain. Mereka membakar restoran cepat saji McDonald’s, merampok toko pakaian Levi’s. Bahkan, mereka menggunakan rambu-rambu lalu lintas dan potongan ranting untuk menyerang polisi.

Tragedi tersebut dikecam dunia internasional. Di antaranya, disampaikan Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Javier Solana. Dia mengatakan bahwa kekerasan tersebut sangat tidak bisa diterima. Solana meminta agar semua pihak tenang, mengendalikan diri, dan bertanggung jawab.

Juru Bicara UE Cristina Gallach pun mengecam tragedi tersebut dengan mengatakan bahwa hal itu tidak bisa diterima. Tanggapan lain datang dari Menteri Luar Negeri Kroasia Gordan Jandrokovic. Karena Kedutaan Besar Kroasia juga turut menjadi korban, dia memprotes keras serangan tersebut.

Menlu Inggris David Miliband menuturkan bahwa kerusakan yang dialami kedubesnya relatif kecil dan tak ada staf yang terluka. “Meskipun masalah Kosovo menimbulkan perasaan yang kuat di Serbia, kekerasan tetap tidak bisa dibenarkan,” tegasnya. “Kami telah menyampaikan kepada pemerintah Serbia bahwa kami mengharapkan mereka benar-benar melaksanakan kewajiban mereka untuk melindungi kedubes kami serta perwakilan diplomatik lainnya di Beograd.”

Serbia yang didukung Rusia dan Tiongkok menganggap bahwa deklarasi kemerdekaan Kosovo yang dilakukan Minggu lalu telah mengancam hukum internasional. Karena itu, Kostunica menarik duta besarnya untuk AS. Sementara itu, beberapa minggu ke depan, misi Uni Eropa yang diperkuat 2.000 personel akan ditugaskan ke Kosovo untuk membantu mengembangkan satuan kepolisian dan kehakiman. (AFP/AP/BBC/dia/tik/ami)

Sumber : Jawa Pos