Bismillaahi wal hamdu lillaahi.  Assalaamu’alaikum.

Diantara kerinduan para orang tua yang aktif dalam kegiatan dakwah adalah terwariskannya semangat berdakwah kepada anak cucu keturunan mereka. Ini adalah kondisi alamiah yang bahkan diabadikan dalam al-Quran dalam munajat Nabi Zakaria as:

“… yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’qub; dan jadikanlah dia, wahai Rabbku, seorang yang diridhai” (QS Maryam, 19:6)

dan juga tersurat dalam do’a hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah:

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Furqan, 25:74)

atau pada do’a seorang hamba yang mencapai kematangan spiritual ketika usianya menginjak 40 tahun:

“Kami perintahkan manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Wahai Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah kau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS al-Ahqaf, 46:15)

Tentu saja harapan, doa dan pewarisan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran ini hanya dapat dilakukan melalui proses pendidikan (at-tarbiyyah).

Pada prakteknya secara tidak disadari saat ini tengah terjadi ketidakseimbangan porsi perhatian pada pendidikan anak. Ketidaksadaran orang tua ini bisa terjadi paling tidak karena tiga faktor:

   1. Kesibukan;
2. Kesalahan persepsi;
3. Kesulitan ekonomi.

Kesibukan

Aktifitas dakwah saat ini memang memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibandingkan pada era tahun 80-an atau 90-an. Pada era 80-an dakwah masih berdimensi pembinaan internal para kadernya. Pada era 90-an perluasan sasaran dakwah baru berkembang pada masyarakat lewat pendekatan kultural. Saat ini dimensi kerja dakwah selain melingkupi apa yang telah dikerjakan sejak tahun 80-an, mesti memikul juga tugas-tugas struktural kenegaraan lewat aktifitas politik.

Ada banyak imbas pada kehidupan keluarga aktifis dakwah dengan semakin luasnya bidang garapan dakwah. Dalam konteks pendidikan anak imbas ini berupa semakin sedikitnya waktu teralokasi untuk pendidikan anak-anak.

Kesalahan Persepsi

Sebagian orang tua secara tidak sadar beranggapan bahwa pewarisan nilai dakwah terjadi karena hubungan darah semata. Kemudian terlupakanlah bahwa proses pendidikan membutuhkan perhatian seksama, dialog, keteladanan, hingga pemilihan institusi pendidikan formal tempat anak-anak bersekolah.

Terkait dengan pemilihan sekolah anak. Alhamdulillah seiring tumbuhnya anak-anak kader memasuki usia sekolah, berdiri sekolah-sekolah dengan kurikulum pendidikan Islam secara terpadu. Makna terpadu diantaranya adalah memadukan muatan-muatan ‘ulum diniyyah dan ‘ulum kauniyyah (ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu alam/sosial). Ini satu pendekatan yang baik. Pada pendekatan ini bukan hanya faktor pragmatis memenuhi kebutuhan sekolah bagi anak-anak muslim. Akan tetapi di dalamnya tersimpan motivasi kuat untuk mengimplementasikan ide besar para ilmuwan dunia Islam untuk melakukan islamization of knowledge.

Sampai pendirian institusi pendidikan tidak ada masalah, walaupun mesti diakui melahirkan kurikulum islami dan realisasi praktisnya bukanlah pekerjaan mudah. Butuh kerja keras dan usaha untuk senantiasa memperbaharui kurikulum ini.

Yang menjadi masalah adalah, sebagian orang tua merasa ketika mereka sudah mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah islam terpadu, mereka merasa selesai dengan tugas mendidik. Diantara parameter kejadian ini adalah dengan jarangnya mereka menghadiri pertemuan-pertemuan orang tua dan wali kelas yang diselenggarakan sekolah. Walaupun belum menjadi trend umum, ada pengelola pondok pesantren yang bercerita, bahwa ada orang tua (yang nota bene aktifis dakwah senior) yang selama tiga tahun belum pernah hadir dalam pembagian raport anaknya.

Inilah contoh kesalahan persepsi orang tua yang mengakibatkan anak-anak merasa diabaikan. Tentu kondisi seperti ini akan melahirkan suasana kejiwaan yang labil pada anak. Tidak heran kalau kemudian terjadi kasus-kasus anak seorang aktifis dakwah yang “bandel”-nya melebihi proporsi yang semestinya.

Kesulitan Ekonomi

Seiring pertumbuhan usia anak-anak kader dakwah, kebutuhan ekonomi pun meningkat. Ditambah lagi suasana perekonomian negara membuat laju inflasi sering tidak terkendali. Harga-harga semakin mahal. Termasuk biaya pendidikan pun semakin hari semakin mahal. Pada sekolah islam terpadu terdekat dari rumah kami saja, uang pangkal masuk SD sudah mencapai 9 juta rupiah tahun ini. Dibandingkan 5 tahun ke belakang, uang pangkal ini sudah hampir dua kali lipat lebih mahal.

Kesulitan ekonomi ini tentu saja bukan hanya terasa pada biaya pendidikan anak. Berbagai kebutuhan primer pangan, papan dan sandang pun semakin membutuhkan biaya besar. Akibatnya, kondisi kejiwaan para kader dakwah, sebagai suami-istri ataupun sebagai orang tua, sering tidak stabil. Pada kondisi ini keharmonisan komunikasi rumah tangga terganggu. Demikian juga pemenuhan peran sebagai orang tua tidak dapat dilakukan secara optimal. Orang tua, terutama suami, dipacu untuk mencari penghasilan yang mencukupi. Sementara itu kesibukan dakwah pun tidak dapat ditinggalkan. Keadaan seperti ini, langsung atau tidak langsung, mempengaruhi kualitas pendidikan anak-anak kader dakwah.

***

Sejak awal dakwah ini dicanangkan, disadari bahwa marahilul ‘amal (tahapan-tahapan ‘amal) mesti melalui jenjang perbaikan pribadi muslim, perbaikan keluarga-keluarga muslim, perbaikan masyarakat, hingga perbaikan kondisi negara dan bahkan dunia. Karenanya kesibukan memperbaiki negara, diantaranya melalui aktifitas dakwah pada dimensi kepartaian akan menjadi semu, ketika proses perbaikan keluarga terabaikan.

Sekarang, bagaimana perasaan para orang tua yang aktif dalam dakwah mendapatkan ucapan anak mereka,”Kalau sudah besar aku enggak mau seperti abi dan ummi?” Tentu secara kejiwaan orang tua akan terpukul dengan ucapan ini. Apalagi, sebagaimana disampaikan pada mukadimah tulisan, kerinduan untuk mewariskan nilai-nilai dakwah adalah fitrah para orang tua.

Sebetulnya perkataan anak-anak ini bisa dianggap wajar sebagai respon ketidaksenangan dengan sibuknya orang tua mereka. Akan tetapi pernyataan ini bisa berarti serius, ketika kalimat ini tersimpan dalam benak terdalam mereka dan akan terus melekat hingga usia dewasa nanti.

Lalu bagaimana kita meneropong permasalahan pendidikan anak kader dakwah dalam konteks sosial di tanah air, yang memang tidak kondusif dalam masalah pendidikan anak dan remaja? Cukupkah pendidikan anak hanya mengandalkan institusi sekolah, sementara penciptaan lingkungan masyakarat yang “ramah pendidikan anak/remaja” terabaikan? Mengapa pada era 80-an dan 90-an begitu marak aktifitas remaja masjid, sedangkan sekarang tidak ada lagi kemarakan itu? Bagaimana pula langkah-langkah sistematis yang harus ditempuh gerakan dakwah  untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi pendidikan anak? Insya Allah pada seri tulisan mendatang permasalahan di atas akan kita diskusikan.

— bersambung —

Bogor, 24 Januari 2008,


Adi Junjunan Mustafa

Sumber : www.adijm.multifly.com