Karet biasa tidak mudah direkatkan kembali ketika putus. Potongan-potongan karet Prancis bisa menyatu kembali ketika ditempelkan beberapa menit.

SEKELOMPOK ahli kimia Prancis berhasil menciptakan karet yang bisa memulihkan diri sendiri ketika rusak. Terobosan tersebut diharapkan mampu mendorong penciptaan pakaian yang bisa memulih sendiri ketika robek, atau mainan yang bisa membetulkan diri sendiri ketika rusak.

“Bola yang dipotong menjadi dua bisa disatukan kembali hanya dengan menempelkan kedua potongan tersebut menjadi satu, jika bola tersebut dibuat dengan karet ini,” ujar ketua tim peneliti, Ludwik Leibler, ilmuwan Laboratorium Kimia dan Material Lunak, Pusat Riset Ilmiah Nasional Prancis (CNRS).

Tim peneliti mengungkapkan, karet tersebut terbuat dari campuran bahan-bahan sederhana.Yakni asam lemak (zat yang terdapat dalam minyak sayur) dan urea (zat dalam air kencing, yang bisa diproduksi secara sintetis). Molekul-molekul asam lemak dan urea tersebut kemudian dirangkai dan diperkuat dengan ikatan hidrogen.

Karena itu,material itu menjadi elastis,dapat ditarik memanjang hingga beberapa ratus persen dari panjang asli. Sifat elastis itu memang dimiliki karet biasa.Namun, karet biasa tidak mudah disatukan kembali ketika putus atau robek. Untuk menyatukan kembali karet biasa, karet harus dipanaskan lebih dulu.

Sebaliknya, karet Prancis ini tidak perlu dipanaskan untuk disatukan kembali ketika putus atau robek. Tim peneliti mengungkapkan, potongan-potongan karet istimewa ini dapat menyatu kembali ketika ditempelkan dengan erat selama sekitar 15 menit dalam lingkungan bersuhu delapan derajat Celsius.Karet Prancis ini bisa ditarik memanjang hingga lima kali lipat sebelum putus atau robek.

“Karet ini bisa disatukan kembali berulang-ulang setelah putus atau robek. Pemanfaatannya bisa sangat banyak. Karet ini bisa dijadikan bahan pakaian, mainan, bahkan pelapis dinding,” tutur Leibler. Tim ilmuwan CNRS itu bekerja sama dengan perusahaan Prancis Arkema untuk meneliti karet yang bisa memulihkan diri tersebut.Arkema akan memproduksi massal karet itu dalam waktu dekat.

Leibler memperkirakan, produk-produk pertama yang menggunakan material tersebut akan muncul dalam satu atau dua tahun mendatang. Ilmuwan yang lain menilai, karet karya ilmuwan Prancis tersebut tidak mengancam kelestarian lingkungan hidup.

“Karet tersebut menjadi semakin istimewa karena terbuat dari bahan ramah lingkungan dan mudah didaur ulang. Material pemulih diri sendiri ini juga mudah diproduksi massal dan cukup kuat,”ujar ilmuwan University of Tokyo Takuzo Aida. Kemajuan teknologi memungkinkan manusia menciptakan material yang belum pernah terbayang sebelumnya.

Tim ilmuwan Georgia Institute of Technology, AS, pada bulan ini memperkenalkan tekstil serat nano. Tekstil itu mampu membangkitkan energi dari gerakan manusia ketika dijadikan pakaian. Pakaian pembangkit listrik tersebut diharapkan mampu menyuplai energi alat-alat elektronik portabel seperti ponsel dan PMP (portable media player).

“Metode pembangkitan listrik ini disebut piezoelectric effect.Dua serat saling bergesekan dan mengubah gerakan mekanik menjadi energi listrik,”ujar Zhong Lin Wang, ketua tim peneliti. Di samping dijahit menjadi pakaian, tekstil pembangkit listrik tersebut bisa juga dijadikan tirai,tenda,bahkan layar untuk membangkitkan energi dari gerakan angin, getaran suara, atau energienergi mekanik yang lain.

Hingga kini, Wang dan rekan-rekan sudah berhasil membuat lebih dari 200 generator mikroskopik berskala nanometer untuk dipasang pada tekstil tersebut.Satu nanometer setara dengan satu per satu miliar meter.

Serat-serat nano tekstil Wang dibuat dari bahan seng oksida.Ini menjadi salah satu kelemahan teknologi tersebut. Seng oksida sangat sensitif terhadap air.Apabila tekstil seng oksida tersebut dijadikan pakaian,maka pakaian itu tidak boleh dicuci agar tidak rusak. (AP/AFP/Rtr/ahmad fauzi) 

Sumber : Koran Sindo

20 Shafar 1429 H