JAKARTA – Pihak PLN tetap berkeyakinan program diskon dan denda yang diberlakukan dalam tarif progresif merupakan upaya untuk menghemat energi. Dengan cara itu, diharapkan pelanggan bisa mengontrol penggunaan strum.

Menurut Direktur Utama PLN Eddhie Widiono, masih kurang pengetahuan masyarakat tentang hitung-hitungan berapa kwh (kilowatt hour) yang dikonsumsi. Karena itu, PLN menyiapkan panduan yang bisa menjadi gambaran apakah perilaku konsumsi listrik sebuah keluarga termasuk hemat atau boros. “Supaya masyarakat bisa mengira-ngira sendiri,” ujar Eddie.

Menurut Eddie, ada tiga faktor utama yang memengaruhi penghematan, yaitu peralatan listrik yang efisien, perilaku hemat, dan sistem yang mendukung perilaku hemat. Misalnya, jam buka operasi mal diperpendek, jam tayang TV diperpendek, dan jam lembur kantor dibatasi. “Khusus untuk pelanggan rumah tangga, kami mempunyai gambaran,” katanya.

Keberhasilan program penghematan memang sangat bergantung bagaimana perilaku konsumsi listrik pelanggan rumah tangga. Sebab, konsumsi listrik pelanggan jenis ini memang paling besar.

Berdasarkan data PLN, di antara empat jenis pelanggan PLN, yaitu rumah tangga, bisnis, industri, dan instansi pemerintah, sektor rumah tangga yang berjumlah 34,1 juta merupakan konsumen listrik terbesar. Yakni, hingga 4.009 giga watt hour (gwh) per bulan.

Lalu, bagaimana gambaran rumah tangga yang boros dan hemat? PLN memiliki data hasil survei bagaimana perilaku boros maupun hemat dari pelanggan rumah tangga, khususnya R1, mulai 450 VA hingga 2.200 VA.

Lantas, dia mencontohkan perilaku konsumsi listrik pelanggan rumah tangga 450 VA yang termasuk boros. Boros itu bila pelanggan memiliki 1 buah kulkas 75 watt yang beroperasi 24 jam, pompa air 100 watt beroperasi 1 jam sehari, TV 14 inci 60 watt beroperasi 18 jam sehari.

Kemudian, dua lampu kamar tidur 20 watt menyala 18 jam sehari, 1 lampu ruang belajar 20 watt menyala 4 jam sehari, 1 lampu ruang tamu 20 watt menyala 5 jam sehari, 1 lampu ruang makan 20 watt menyala 1 jam sehari, 1 lampu kamar mandi 8 watt menyala 2 jam sehari, 1 lampu luar 20 watt menyala 2 jam sehari, 1 lampu dapur 20 watt menyala 2 jam sehari.

Ditambah peralatan lain berupa 1 kipas angin 40 watt beroperasi 10 jam sehari, 1 rice cooker 250 watt menyala 1 jam sehari, 1 setrika 350 watt beroperasi 2 jam sehari, dan 1 mesin cuci 125 watt beroperasi 0,5 jam sehari. Dengan perilaku tersebut, berarti dalam satu bulan pelanggan mengonsumsi listrik 133,76 kwh.

TDL (tariff dasar listrik) golongan R1 450 watt dibagi dalam tiga tarif sebesar Rp 172, Rp 380, dan Rp 530 per kwh. Karena itu, jika diambil contoh nilai tengah, pelanggan tersebut harus membayar biaya penggunaan listrik Rp 50.828 ditambah biaya beban Rp 12.000 sehingga total Rp 62.828 per bulan.

Menurut Eddie, pelanggan jenis itu nanti akan dikenai disinsentif. Jika tidak ingin terkena disinsentif, masyarakat pelanggan R1 450 VA harus mengubah perilaku konsumsi seperti di atas. “Caranya, mengurangi jam operasi, seperlunya saja,” terangnya.

Lalu, bagaimana pelanggan R1 450 VA yang masuk golongan hemat dan berpotensi mendapatkan insentif atau diskon? Berikut data survei PLN tentang gambaran pelanggan yang hemat: 1 pompa air 100 watt 1 jam sehari, TV 14 inci 60 watt 10 jam sehari, 2 lampu kamar tidur 8 watt 4 jam sehari, 1 lampu ruang belajar 8 watt 4 jam sehari, 1 lampu ruang tamu 8 watt 5 jam sehari, 1 lampu ruang makan 8 watt 1 jam sehari, 1 lampu kamar mandi 8 watt 2 jam sehari, 1 lampu luar 8 watt 2 jam sehari, 1 lampu dapur 8 watt 2 jam sehari.

Kemudian, 1 kipas angin 40 watt 6 jam sehari, 1 rice cooker 250 watt 1 jam sehari, 1 setrika 350 watt 1 jam sehari, dan 1 mesin cuci 125 watt 0,5 jam sehari.

Dengan perilaku tersebut, berarti dalam sebulan pelanggan mengonsumsi 48,59 kwh. Jika dihitung tagihan listrik, pelanggan tersebut harus membayar biaya penggunaan Rp 18.464 ditambah biaya beban Rp 12.000 sehingga total Rp 30.464 per bulan.

Dengan konsumsi 48,59 kwh per bulan, berarti di bawah angka 80 persen dari rata-rata nasional sebesar 60 kwh. Dengan demikian, pelanggan tersebut nanti berhak mendapatkan insentif atau diskon.

Eddie mengatakan, dengan gambaran tersebut, pelanggan bisa menghitung sendiri apakah selama ini dia hemat atau boros. “Jika ternyata termasuk boros dan tidak ingin terkena disinsentif atau denda, ya harus mulai berhemat,” jelasnya.

Selanjutnya, berikut adalah gambaran pelanggan R1 900 VA yang termasuk boros. Gambaran ini diambil dari rata-rata pemakaian pelanggan listrik di PLN distribusi Jakarta dan Tangerang.

Selengkapnya, 3 lampu kamar tidur 20 watt 10 jam sehari, 1 lampu ruang tamu 40 watt 2 jam sehari, 1 lampu ruang belajar 40 watt 4 jam sehari, 1 lampu ruang makan 40 watt 1 jam sehari, 1 lampu kamar mandi 25 watt 2 jam sehari, 1 lampu dapur 25 watt 2 jam sehari, 2 lampu luar 25 watt 10 jam sehari.

Kemudian, 1 TV 20 inci 75 watt 10 jam sehari, 1 rice cooker 250 watt 1 jam sehari, 1 kulkas 100 watt 24 jam sehari, 1 radio tape 30 watt 4 jam sehari, 1 mesin cuci 125 watt 1,5 jam sehari, 1 setrika 350 watt 2 jam sehari.

Selanjutnya, 1 pompa air 100 watt 2 jam sehari, 2 kipas angin 50 watt 10 jam sehari, 1 magic jar 35 watt 24 jam sehari, 1 hair drier 75 watt 1,5 jam sehari, dan 1 VCD player 60 watt 3 jam sehari.

Dengan perilaku tersebut, berarti pelanggan itu mengonsumsi 182,82 kwh per bulan. TDL golongan R1 900 watt yang dibagi dalam tiga tarif sebesar Rp 390, Rp 490, dan Rp 530 per kwh. Karena itu, jika diambil contoh nilai tengah, pelanggan tersebut harus membayar biaya pemakaian listrik Rp 89.581 ditambah biaya beban Rp 23.000 sehingga total Rp 112.581 per bulan.

Dengan demikian, pelanggan tersebut masuk kategori boros. Dan jika tetap berperilaku demikian mulai bulan Maret ini, saat membayar tagihan listrik Maret pada April nanti, pelanggan ini akan terkena disinsentif atau denda sehingga bakal membayar lebih mahal.

Direktur Pelayanan Pelanggan dan Niaga PT PLN Sunggu Anwar Aritonang menambahkan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan pelanggan untuk berhemat. Misalnya, mengganti lampu pijar dengan lampu hemat energi. “Selain itu, perilaku juga harus diubah,” ujarnya.

Sunggu mencontohkan beberapa perilaku yang tidak hemat listrik. Misalnya, penggunaan magic jar sepanjang hari/malam meskipun nasi di dalamnya tinggal sedikit, menyinari lukisan di dinding, menggunakan lampu pada siang meskipun cahaya matahari dapat masuk, serta menyalakan TV atau radio/tape meskipun tidak ditonton atau didengarkan. “Hal seperti ini kelihatannya sederhana. Tapi, jika tidak disadari dan berlarut-larut, ini akan berakibat pemborosan besar,” katanya. (owi/tof)

Sumber : Jawa Pos