Oleh M. Anwar Djaelani

Berapa royalti yang didapat Habiburrahman El-Shirazy (HES) dari buku mega bestseller-nya, Ayat-Ayat Cinta? Karena setelah itu menyusul pula karya-karya HES yang lain, seperti dwilogi Ketika Cinta Bertasbih, Dalam Mihrab Cinta, Di Atas Sajadah Cinta, atau Ketika Cinta Berbuah Surga, berapa pula yang didapat dia?

“Kaya” dan Kaya
“Bisakah kita hidup layak dengan menulis?” Pertanyaan di seputar berapa ’penghasilan’ penulis memang masih sering kita dengar. Sebab, tak seperti di negara maju, profesi penulis di sini masih dipandang sebelah mata.

Suatu ketika, pertanyaan “Setujukah Anda dengan pernyataan bahwa menulis itu bisa bikin kaya?” juga ditujukan kepada Helvy Tiana Rosa (HTR), yang oleh Tempo dijuluki Lokomotif Penulis Muda Indonesia.

Saat itu HTR menjawab, “Saya sangat kaya”. Pernyataan tersebut lalu dilengkapi HTR dengan penjelasan bahwa seseorang yang menulis -fiksi atau nonfiksi- pasti kaya karena dia memberikan pemikiran kepada orang lain. Orang yang berposisi memberi pasti lebih kaya ketimbang yang diberi.

Dalam konteks jawaban di atas, HTR benar bahwa si penulis pasti ’kaya’, yaitu kaya ilmu, wawasan, imajinasi, dan ide. Bukankah sebelum berkarya seorang penulis harus membaca (bahan bacaan yang tersurat atau yang tersirat)? Tulisan bagus hanya akan lahir dari penulis yang lahap membaca. Prinsip inilah yang membuat penulis ’kaya’.

Saat didesak, bisakah penulis tak hanya ’kaya’ (yaitu kaya secara jiwa), tapi juga secara finansial, HTR lalu menunjuk contoh Asma Nadia -adiknya sendiri- sudah menulis lebih dari 30 buku. Dari buku-buku itu, Asma Nadia minimal menerima royalti Rp 30 juta tiap tiga bulan.

Sekadar Rp 10 juta tiap bulan? Bagaimana dengan “catatan keuangan” penulis lain? Hilman menerima Rp 800 juta dalam lima tahun penerbitan karya laris dia, Lupus. Lalu, lewat Ayat-Ayat Cinta, HES telah menerima Rp 1,5 miliar untuk ratusan ribu buku yang terjual kurang dari empat tahun.

Lalu, silakan taksir sendiri berapa yang didapat Mohammad Fauzil Adhim (MFA), penulis yang lekat dengan tema pernikahan dan parenting itu. Berikut ini sekadar menyebut contoh buku bestseller dia: Indahnya Pernikahan Dini. Atau, Mencapai Pernikahan Barakah. Atau, Kado Pernikahan untuk Istriku.

MFA memiliki lebih dari 20 judul buku, yang sebagian juga menjadi buku laris. Ada catatan, buku Kupinang Engkau dengan Hamdalah, yang telah terjual 100.000 eksemplar, mendatangkan royalti antara Rp 15 juta – Rp 25 juta per bulan.

Ada juga Pipit Senja. Penulis senior ini dapat membuktikan bahwa kita bisa hidup dari menulis. Lebih dari 100 novel dan kumpulan cerpen telah dia tulis. Dari aktivitas menulis ini, konon, Pipiet memperoleh royalti sekitar Rp 30 juta per tiga bulan.

Namun, ada yang paling fenomenal. Jika HES telah menerima Rp 1,5 miliar dari Ayat-Ayat Cinta (AAC), berapa kira-kira yang patut diterima Aidh Al-Qarni yang karyanya, La-Tahzan, terjual jutaan eksemplar di Timur Tengah dan -edisi terjemahnya- terjual ratusan ribu di Indonesia?

Aidh Al-Qarni berasal dari dan tinggal di Arab Saudi. Andai Aidh Al-Qarni berdomisili di Indonesia, mari sejenak berhitung berapa kira-kira royalti yang mungkin bisa dia terima. Edisi terjemahnya dijual Rp 85.000 per buku. Sementara, rumus dari rata-rata penerbit saat memberi royalti adalah 10% x harga jual buku x jumlah buku yang dicetak. Wow, luar biasa besar yang bisa diterima Aidh Al-Qarni.

Di luar royalti, ada berkah lanjutan jika buku seseorang bestseller. Seiring dengan melambungnya nama sang penulis, apa pun yang berasal dari dia akan bernilai komersial. Yang pasti, buku-buku karya dia berikutnya akan tertolong promosinya, sekalipun mutu buku itu tak sebagus buku sebelumnya.

Dengan demikian, ternyata, kita bisa hidup sejahtera dengan menulis. Caranya? Menulislah banyak buku yang cukup laku. Atau, menulislah buku yang berkategori bestseller. Apa kriterianya? Secara umum, buku bestseller berciri: Penting, menarik, bagus, dan sedang dibutuhkan masyarakat.

Penting, artinya, topik yang dipilih memang bermanfaat bagi publik. Menarik, artinya, temanya menggoda, karena menawarkan pengetahuan / hal-hal baru. Bagus, artinya, isi buku digarap secara serius dan dikemas dengan desain cover yang ’cantik’ serta dengan kualitas cetakan yang prima. Sedang dibutuhkan masyarakat, artinya, kemunculan buku itu bersamaan dengan masyarakat yang sedang memerlukannya.

Lihat, AAC hadir sebagai novel pembangun jiwa di saat publik (mulai) muak dengan roman-roman beraroma syahwati nan vulgar. Lalu, terjemah La Tahzan, secara umum, muncul secara tepat ketika bangsa ini dicekam rasa sedih berkepanjangan akibat krisis multidimensi yang sepertinya tak menampakkan tanda segera berakhir.

Lantas, secara khusus, saat La Tahzan terbit, kaum muslim sedang “dipukul” isu liberalisme pemikiran Islam yang berakar pada relativisme (dalam beragama) dan memiliki ’buah’ seperti sekularisme dan pluralisme. Intinya, ketika La Tahzan terbit, bersesuaian dengan kaum muslimin yang sedang membutuhkan bacaan penguat iman, penyejuk kalbu, dan penghibur duka. La Tahzan (Jangan Bersedih)!

Profesi Lintas Batas

Di masa krisis seperti sekarang ini, penulis adalah profesi yang cukup menjanjikan. Sebab, ternyata, minat baca publik terus tumbuh menggembirakan. Itu artinya, pasar membutuhkan banyak buku, terutama yang asli karya penulis dalam negeri. Inilah peluang yang bisa ditangkap.

Peluang itu milik semua orang. Siapa saja bisa menjadi penulis, tak peduli tua atau muda, kaya atau miskin, birokrat atau rakyat, dan seterusnya. Maka, tak heran, jika banyak kita temui orang yang sukses berprofesi ganda, yaitu sebagai profesional dan selaku penulis. Sekadar menyebut contoh, dari kalangan dokter ada Faisal Baraas dengan tema tulisan beragam, mulai seksologi hingga masalah sosial. Atau, Marga T. yang menulis novel Karmila.

Kini, pilihan di tangan Anda. Yang belum berprofesi resmi bisa memilih ’jalur’ HES, MFA, atau HTR yang mengibarkan satu ’bendera’ saja, yaitu penulis. Sementara, bagi kalangan profesional, bisa mengikuti jejak Faisal Baraas atau Marga T. Kedua pilihan itu sama-sama menjanjikan ’kaya’ dan kaya. Ayo, mulailah menulis!

M. Anwar Djaelani, staf Humas PI Raudlatul Jannah, Waru, Sidoarjo

Dari : Opini Bebas Indonesiaku