Oleh I NYOMAN ADE

Pada hari Jumat, 22 Februari 2008 sekitar pukul 20.00, saya dan teman wanita bermaksud pulang dari kantor di kawasan Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, menuju daerah Kalimalang dan menghentikan taksi Express (nomor pintu: MC 2555) dikemudikan oleh ”J” yang berusia sekitar 35 tahun. Selang beberapa lama berjalan, kami baru menyadari bahwa pengemudi tidak menutup kaca jendelanya dan saya minta dengan sopan agar menutup jendela.

Pengemudi menolak dengan alasan sirkulasi udara. Namun, jalan yang dilalui berdebu karena ada lumpur yang mengering ditambah tanah bekas galian yang juga mengering sehingga saya terpaksa mengingatkan kembali agar ia menutup jendela. Namun, pengemudi kembali menolak dengan alasan teman wanita saya batuk dan dia takut tertular. Akan tetapi, karena debu semakin banyak masuk ke mobil, kami berdua memberi tahu jika dia takut tertular batuk, kami akan turun. Saat itu taksi masih di kawasan Kuningan.

Namun, pengemudi tidak memenuhi permintaan kami untuk turun dan terus berjalan sehingga terjadi perdebatan. Setelah berjalan melewati kawasan Kuningan, pengemudi taksi itu malah bermaksud menurunkan kami saat itu juga di daerah bukan jalan utama yang dilalui kendaraan umum dan keadaannya cukup gelap. Saya menolak dan meminta diturunkan di tempat yang saya kehendaki.

Kejadian selanjutnya membuat kami terkejut dan sangat marah karena dia akhirnya mengusir keluar. Bahkan, pengemudi dengan arogan turun dari kendaraan dan menantang saya berkelahi di pinggir jalan. Merasa tindakan dia sudah sangat keterlaluan, saya marah dan terlibat percekcokan di tengah jalan. Apalagi saat itu dia mencaci maki teman wanita saya dengan kata-kata kasar. Saya masih bisa mengontrol emosi sehingga tidak terpancing dan berlanjut dengan perkelahian fisik dan kejadian itu membuat warga di sekitar berdatangan melerai.

Saat warga berdatangan, sopir taksi itu tetap berteriak- teriak, bahkan dia beberapa kali berteriak bahwa saya hendak merampoknya. Bayangkan, bila warga sekitar tersebut terpancing dan percaya saya akan merampoknya? Saya sungguh shock, prihatin, dan takjub bahwa perusahaan taksi sekelas Express mempekerjakan sopir preman bernyali pengecut.

I NYOMAN ADE Jalan Dr Semeru RT 1 RW XI, Bogor

Sumber : Kompas.com

28 Shafar 1429 H