Oleh TJANDRA DEWI

Ayam yang satu ini memang istimewa. Bulu, kaki, jengger, paruh, dan lidahnya berwarna hitam pekat. Bahkan daging dan darahnya pun hitam. Karena itu, ayam cemani dipercaya memiliki kekuatan mistis. Ternyata ayam dari Jawa Tengah ini juga punya kekuatan lain, yaitu tahan terhadap serangan virus flu burung.

Begitulah hasil penelitian Sri Sulandari dan M. Syamsul Arifin Zein, dua peneliti genetika zoologi di Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Mereka telah meneliti sampel darah dari 15 galur ayam lokal Indonesia dan ayam kampung yang selamat dari wabah flu burung di beberapa daerah.

Hasil analisis terhadap gen Mx terhadap populasi ayam Indonesia itu menunjukkan ayam cemani memiliki resistensi terhadap virus flu burung yang paling tinggi, 0,89 persen, dibanding galur ayam lainnya. Adapun ayam kapas memiliki resistensi terendah, hanya 0,35 persen.

Namun, bukan berarti semua ayam cemani resisten terhadap virus itu. Zein menekankan bahwa hasil penelitian ini tidak berlaku untuk semua populasi ayam cemani yang tidak ditelitinya. “Dalam penelitian ini, ayam cemani yang kami ambil darahnya berasal dari Kedu, Temanggung,” kata Zein. “Riset menunjukkan 88 persen dari populasi cemani yang diteliti memiliki protein yang resisten virus flu burung. Kalau ada populasi ayam cemani lain yang bertentangan dengan penelitian ini, bisa saja. Kebetulan yang kita ambil di pusat Cemani, kondisinya bagus.”

Ketahanan ayam cemani itu ternyata ditentukan oleh gen Mx. Para ilmuwan telah mengetahui fungsi gen itu sebagai penentu kemampuan ayam untuk resisten atau justru rentan terhadap serangan virus avian influenza. Gen ini ditemukan pada beberapa hewan vertebrata, seperti mamalia, unggas, dan ikan, bahkan beberapa avertebrata.

Mutasi pada gen yang berada dalam kromosom 1 dengan 14 exon itulah yang menentukan resistensi ayam terhadap flu burung. Mutasi alel A (genotipe AA) menjadi G (genotipe GG) pada nukleotida ke-1.892 pada exon ke-13 itu menyebabkan adanya perubahan asam amino dari serin (AGT) menjadi asparagin (AAT).

Perubahan alel A menjadi G ini membuat unggas rentan terhadap flu burung, karena membentuk protein yang seharusnya mampu melawan. Alel A resisten terhadap serangan virus avian influenza, alel G rentan terhadap serangan virus itu, sedangkan alel R (genotipe AG) bisa resisten tapi juga bisa rentan.

Sulandari mengatakan hasil analisis terhadap fenomena mutasi alel G/A terhadap populasi ayam lokal di Indonesia itu menunjukkan bahwa ketahanan ayam lokal Indonesia terhadap virus tersebut cukup tinggi. “Rata-rata frekuensi alel A di atas 50 persen itu bagus,” katanya. “Kalau kurang dari itu rentan karena, dalam populasinya, umumnya (ayam) memiliki alel GG, sedangkan alel AA tahan banting.”

Selain cemani, ayam merawang dari Kepulauan Bangka Belitung yang diteliti dalam riset sejak 2007 itu menunjukkan frekuensi alel A yang tinggi. Begitu pula ayam pelung yang mereka teliti dari daerah Ciamis.

Sri Sulandari menyatakan penelitian gen Mx dari 877 sampel ini juga menghasilkan temuan penting, yaitu ayam yang selamat dari wabah avian influenza di Banten, Lampung, dan Sumatera Utara memiliki daya resisten cukup tinggi. “Frekuensi alel A ayam kampung di daerah itu cukup tinggi, antara 0,60 dan 0,73,” katanya.

Ayam hutan merah, yang merupakan nenek moyang dari ayam domestikasi, mempunyai frekuensi alel A 0,49 persen. Angka yang diperlihatkan ini masih dalam kisaran frekuensi alel A yang dimiliki ayam lokal Indonesia. “Selain ayam hutan hijau (Gallus varius), secara keseluruhan ayam-ayam yang digunakan dalam penelitian ini, ayam kampung dan ayam hutan merah, mempunyai frekuensi alel resisten cukup tinggi,” ujarnya.

Faktor daya tahan terhadap serangan flu burung ini, kata Zein, bisa dimanfaatkan dalam program pemuliaan. Secara alamiah, ayam dengan alel genotipe AA mampu melakukan perlawanan terhadap serangan flu burung. “Ayam dengan alel A akan memiliki keturunan dengan alel A pula, maka data ini penting sekali untuk keperluan breeding,” ujarnya. “Kami tidak terlalu concern dengan ayam cemani resisten atau tidak, tapi sistem ini bisa digunakan untuk breeding.”

Zein menyatakan bahwa dengan sistem ini dia bisa menciptakan populasi ayam yang 100 persen tahan serangan virus mematikan itu. Bila ada orang yang ingin membuat peternakan ayam kampung, bisa bekerja sama dengan laboratorium dengan menyeleksi induk sehingga menghasilkan keturunan yang tahan virus. “Yang tahan dikembangkan, yang jelek dibuang,” katanya.

Cara membuat keturunan tahan virus flu burung sebenarnya sederhana, dengan memeriksa gen Mx ayam yang hendak dikembangbiakkan. “Misalnya kita ambil ayam jantan dan betina beralel AA,” ujarnya. “Kalau beralel AA bertemu dengan AA, anaknya pasti AA. Kalau AG dengan AG, kadang alel bergenotipe GG keluar.”

Selain menciptakan generasi ayam tahan flu burung, penelitian ini bisa digunakan bagi pengambil kebijakan dalam mengatasi wabah flu burung. “Setelah serangan (flu burung), kita maunya menjelaskan kepada pemerintah bahwa yang hidup itu adalah yang tahan, tapi akhirnya dibunuh,” kata Zein. “Jadi yang nggak resisten mati karena penyakit, tapi yang resisten mati dibunuh.”

Langkah membumihanguskan peternakan yang terkena wabah itu, kata Zein, kurang tepat. Jika kebijakan depopulasi–membunuh semua unggas yang hidup berbagi tempat dengan unggas mati–itu diteruskan, genetic resource Indonesia terancam bahaya. “Kalau ayam yang tahan virus dibunuh, sumber daya genetik kita habis, akhirnya kita punya ayam berkualitas lembek,” ujarnya. “Sehingga bisa terjadi seperti kasus kedelai, bergantung pada Amerika terus. Kita tidak menanam, impor mahal.”

Dari : TEMPO Interaktif