Amerika Serikat terus membelanjakan anggaran negaranya untuk mendanai perang di Iraq. Analisis terbaru pemenang Nobel ekonomi Joseph E. Stiglitz menunjukkan, pada 2008, dana perang akan meningkat tiga kali lipat USD 12 miliar (Rp 108,34 triliun) per bulan. Kalau diambil rata-rata, per hari mencapai USD 400 juta (sekitar Rp 3,6 triliun).

Kantor Nonpartisipan dan Kongresional (CBO) AS telah menyelesaikan proyeksinya dan memiliki perhitungan lebih rendah. Diprediksi, dana akumulasi hingga 2017 sebesar USD 1,2 triliun-USD 1,7 triliun kebutuhan militer AS di Iraq dan Afghanistan. Dari jumlah tersebut, sekitar 75 persen dibelanjakan di Iraq.

Auditor Kantor Akuntan Pemerintah mengatakan, bagaimanapun estimasinya, pengeluaran dana tersebut sangat besar. Mereka meminta pembuat keputusan untuk mempertimbangkan kesulitan negara menghadapi tantangan besarnya peningkatan keuangan.

Angka itu belum termasuk biaya militer AS di seluruh dunia. Ironisnya, biaya sebesar itu dikeluarkan untuk aktivitas yang menimbulkan kerusakan. Seperti kilang-kilang minyak, kehancuran pabrik yang tidak terhitung, rumah sakit, sekolah, dan seluruh sektor perekonomian.

Juru Bicara Dana Moneter Internasional (IMF) Niels Buenemann mengatakan belum pernah ada yang mencoba mengalkulasi dampak ekonomi yang melanda Iraq. Jutaan orang Iraq pergi tanpa pekerjaan. Ratusan dari ribuan orang professional, manajer, dan warga kelas menengah lainnya telah meninggalkan negara itu.

Dalam buku The Three Trillion Dollar War, Stigliz Universitas Columbia dan Bilmes Havard melaporkan dua perang tersebut (Iraq-Afghanistan) akan memakan dana AS USD 845 miliar (Rp 7.635 triliun) di 2007 hingga 30 September akhir tahun fiskal 2008. Dana tersebut termasuk biaya kedutaan, rekonstruksi, dan dana untuk sesuatu yang berhubungan dengan perang.

Penelitian kongres menunjukkan sejauh ini total yang dihabiskan sampai 2007 sebesar USD 670 miliar (Rp 6.054 triliun) sama dengan yang dihabiskan untuk perang Vietnam selama 12 tahun. Meskipun korban perang militer AS dan korban warga Iraq menurun dalam bulan ini, pengeluaran melesat. Laporan CBO, pendanaan perang 2008 akan meningkat 155 persen dibanding 2004.

Pembengkakan itu disebabkan adanya penambahan personel AS ke Iraq, meningkatkan biaya bahan bakar, besarnya bonus untuk menarik pendaftar, memperbaiki atau mengganti yang usang, dan memperbaiki hancurnya peralatan militer. (AP/erm/ruk)

Dari : Jawa Pos