Setiap hari kita disuguhi tayangan orang-orang yang digusur demi ‘pembangunan atau ketertiban’. Mereka adalah para PKL atau orang-orang kecil yang sedang susah mencari penghidupan demi keluarganya. Sering terdengar jeritan dan tangisan mereka serta sumpah serapah mereka.Sementara para penggusur adalah satpol pp, ujung tombak ‘pembangunan dan ketertiban’. Mereka bukan orang-orang besar bukan pula orang-orang hebat, tapi ‘orang-orang kecil’. Mereka dianggap ‘berprestasi’ jika berhasil melaksanakan ‘tugasnya’ menggusur demi ‘pembangunan atau ketertiban’.

Lalu siapakah ‘orang-orang besar’ dan yang merasa sebagai ‘orang hebat’ itu?
Adakah mereka masih punya hati nurani?
Ataukah hati mereka telah gelap gulita, sedikitpun tidak ada cahaya hidayah?
Apakah maksudnya demi ‘pembangunan dan ketertiban’?
Demi UU? Perpu? atau Perda?

Siapakah Pemerintah? Siapakah Pemda?
Adakah orang-orang kecil di negeri ini sebagai ‘bangsa terjajah’?
Apakah mereka yang sedang berkuasa merasa sebagai ‘bangsa penjajah’?
Sudahkah ‘bangsa penjajah’ memberikan solusi bagi mereka-mereka yang sedang susah mengais rejeki?
Atau cukup dengan politik ‘devide et impera’ mengadu orang-orang kecil vs ‘orang-orang kecil’.
Janganlah ‘lupa kacang pada kulitnya’!
Sesal kemudian tiada berguna…
Ingatlah do’a orang teraniyaya tidak terhijab, sekalipun orang kafir!
Jerit tangis mereka naik kelangit tanpa hijab..
Do’a mereka akan ‘disegerakan’
Sadarlah..!