Laporan
Mochamad Elman
dari Teheran, Iran

TEHERAN – Kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Iran tidak hanya memperkuat hubungan politik, tapi juga kerja sama ekonomi kedua negara. Salah satu proyek besar yang digarap adalah penyulingan minyak (refinery) di Banten.

Pada jumpa pers di Joumhori Palace, tempat peristirahatan kepala negara di Teheran, yang berakhir pukul 20.30 atau sekitar 24.00 WIB Selasa (11/3), presiden menegaskan bahwa masyarakat Indonesia tidak perlu waswas sikap mendukung program nuklir Iran untuk tujuan damai akan menyulitkan posisi Indonesia.

“Ini sudah bukan era perang dingin lagi,” kata SBY yang saat itu didampingi, antara lain, Menlu Hassan Wirajuda dan Utusan Khusus Timur Tengah Alwi Shihab.

Dalam iklim hubungan internasional yang terjadi saat ini, lanjut presiden, Indonesia bisa memainkan politik luar negeri yang bebas aktif. Langkah itu sesuai dengan sikap Indonesia sebagai salah satu pendiri negara-negara Nonblok.

“Kalau saya sekarang berkunjung ke Iran, maka tak bisa diartikan saya menabuh genderang perang kepada Amerika. Sebaliknya, kalau saya berkunjung ke Amerika, tak bisa dikatakan Indonesia sedang berlawanan dengan Iran,” jelasnya.

Menurut presiden, wajar jika dalam menyikapi hal-hal tertentu sikap Indonesia berbeda dengan negara-negara yang selama ini menjadi negara sahabat yang baik. Namun, itu tidak bisa diartikan bahwa bersikap berbeda tersebut berarti bermusuhan.

Tentang kerja sama ekonomi, SBY juga mengungkapkan volume perdagangan Indonesia-Iran terus meningkat. Data terakhir menunjukkan nilainya sekitar USD 323 juta dengan posisi surplus untuk Indonesia.

Salah satu nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani di depan SBY dan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad siang harinya adalah megaproyek penyulingan minyak di Banten. Proyek bernilai triliunan rupiah itu akan mampu memproduksi sekitar 300 ribu barel minyak per hari.

Menurut SBY, proyek yang dikerjakan PT Pertamina dengan mitranya, Refining Industries Development Company (Iran), serta Petrofield Refining Company (Malaysia) itu akan besar manfaatnya bagi pemenuhan BBM di dalam negeri karena sudah tak perlu impor langsung yang mahal.

Satu topik yang juga ditanyakan wartawan adalah dampak sanksi ekonomi Barat terhadap Iran yang mengakibatkan transaksi perbankan di negeri mullah itu terganggu. Ini bisa mengakibatkan pembiayaan proyek-proyek investasinya di Indonesia terganggu. Kata SBY, kendala itu juga sudah diantisipasi pemerintah. Karena itu, menteri-menteri terkait kini sedang menggodok strategi yang workable dan feasible.

Beberapa proyek lain yang juga dibicarakan Indonesia dan Iran, lanjut SBY, adalah rencana Pertamina menggarap proyek petrokimia dengan mitra di Laleh, Iran. Dalam lelang proyek itu, Pertamina memang hanya jadi pemenang kedua. Namun, Iran setuju agar Pertamina bermitra dengan pemenang untuk mengerjakan proyek tersebut.

Hal lain yang juga dibicarakan adalah rencana masuknya maskapai penerbangan Iran langsung ke Indonesia. Sebab, saat ini telah ada penerbangan langsung dari Teheran ke Bangkok dan Kuala Lumpur. Padahal, potensi turis dari Iran ke Asia Tenggara selama ini cukup besar.

Dihubungi secara terpisah, Ketua Kadin Moh. Hidayat mengakui, Iran merupakan negara yang prospektif. Negara anggota OPEC pengekspor minyak terbesar kedua setelah Arab Saudi itu sedang bergelimang petro dolar. Terutama setelah harga minyak melambung di atas USD 100 seperti sekarang. “Ada pengusaha kita yang sudah sukses bangun properti di Teheran,” ujarnya kepada Jawa Pos.

Menurut Hidayat, salah satu hambatan berhubungan dagang dan investasi dengan Iran adalah negara tersebut sedang mendapat sanksi ekonomi dari Barat akibat proyek pengembangan nuklir (yang menurut Iran sebetulnya untuk tujuan damai). Terutama transaksi perbankan yang macet. “Ini mengakibatkan pengusaha kita hati-hati jika ada L/C dengan perbankan Iran. Takut tidak bisa cair,” ujarnya.

Seorang mitra Kadin dari Iran, lanjut Hidayat, menasihatkan agar tidak bertransaksi lewat bank-bank Amerika. Bank-bank Inggris seperti Standard Chartered Bank, misalnya, selama ini banyak dipakai dan tidak ada masalah.

Dari : Jawa Pos