Oleh Syamsul Hadi

Mengejutkan! Itulah komentar kebanyakan pengamat politik merespons hasil pemilu Malaysia, 8 Maret lalu.

Untuk pertama kali dalam sejarah Malaysia, Barisan Nasional (BN), koalisi partai yang dipimpin UMNO, gagal mempertahankan dua pertiga dari perolehan kursi di parlemen. Dari 222 kursi yang diperebutkan, BN ”hanya” meraih 140 kursi, sedangkan oposisi mengumpulkan 82 kursi. Tahun 2004, dari 219 kursi yang diperebutkan, BN mengumpulkan 198 kursi dan oposisi mendapatkan 21 kursi.

Bagi mereka yang meragukan keabsahan pemilu di Malaysia, pemilu ini memberi bukti, dalam sistem politik Malaysia tersedia ruang cukup luas bagi kemungkinan terjadinya perubahan politik yang konkret. Lantas, apakah pesan politik di balik hasil pemilu yang mengejutkan ini?

Badai untuk Badawi

Sulit dibantah, penyelenggaraan pemilu—yang 13 bulan lebih cepat dari batas akhir pelaksanaan pemilu (Mei 2009)—dimaksudkan mencegah pencalonan Dr Anwar Ibrahim yang dilarang ikut pemilu sampai April 2008. Inilah konsekuensi dari mendekamnya Anwar di penjara selama enam tahun karena kritiknya terhadap korupsi di tubuh pemerintahan, justru saat ia menjabat sebagai Deputi PM, saat krisis finansial memukul Malaysia 1997-1998.

Pembebasan Anwar Ibrahim pada tahun 2004 terjadi saat rasa percaya diri Badawi begitu tinggi setelah memenangi 91 persen kursi parlemen dalam pemilu yang dilangsungkan tak lama setelah Badawi mewarisi kekuasaan dari Mahathir Mohamad. Kondisi sosial ekonomi yang kondusif dan kepuasan masyarakat karena keberhasilan pemerintahan Barisan Nasional mengentaskan Malaysia dari krisis saat itu menyebabkan dukungan kepada Badawi melambung tinggi. Untuk sejenak masyarakat Malaysia seperti ”melupakan” Anwar dan memberi kesempatan kepada Badawi untuk memimpin Malaysia.

Keputusan pemerintahan Badawi mencabut subsidi BBM dan gas tahun 2006 menyebabkan kenaikan harga-harga yang membebani rakyat. Dalam kondisi ekonomi yang lebih sulit, ketegangan antar-ras meningkat, ditandai dengan rangkaian protes etnis India atas ”marjinalisasi” yang terus mereka derita. Mayoritas suara etnis India, 9 persen dari penduduk Malaysia, diperkirakan berpindah kepada kubu oposisi. Mereka memandang, Malaysian Indian Congress (MIC), partai berbasis etnis India yang tergabung dalam BN, tidak ”berbuat apa-apa” untuk memperbaiki kondisi sosial ekonomi mereka.

Sejak tahun 2005, mantan PM Mahathir Mohamad juga menyerang Badawi karena beberapa kebijakannya dinilai ”melenceng”, dari pencabutan proteksi proyek mobil nasional (Proton) hingga pembatalan Johor-Singapore Causeway yang dirancang Mahathir. Mahathir juga mengkritik Badawi yang terlampau ”dikendalikan” menantunya, Khairy Jamaluddin.

Suara Mahathir sebenarnya mewakili ketidakpuasan sejumlah besar etnis Melayu terhadap kinerja Badawi. Setelah kemenangan besar tahun 2004, Badawi praktis terisolasi dan ”terasing” dari wacana ”akar rumput” yang berkembang dalam publik Malaysia. Saat kritik atas korupsi dan nepotisme menajam, Badawi merasa aman dikelilingi orang-orang terdekatnya. Dia yakin, rakyat Malaysia tidak akan melakukan langkah ”coba-coba” dengan mengalihkan dukungan kepada oposisi setelah masa panjang kekuasaan UMNO dan BN yang cukup sukses secara ekonomi.

Malaysia baru?

Dari indikator ekonomi makro tidak ada yang salah dari kinerja pemerintahan Badawi. Ekonomi tumbuh 7,3 persen dalam kuartal terakhir, tingkat pengangguran amat rendah (hampir full employment), dan cadangan devisa Malaysia lebih dari 100 miliar dollar AS. Bahkan, tahun lalu penanaman modal asing di Malaysia mencapai rekor tertinggi, 13,7 miliar dollar AS (The Wall Street Journal, 11/3/2008).

Jelas, ada pesan kuat yang ingin disuarakan publik Malaysia lewat pemilu ini. Mereka tidak hanya menginginkan pembangunan ekonomi yang sukses dilihat dari indikator ekonomi makro, tetapi juga pembangunan yang merata, adil, dan sustainable. Mereka makin tidak nyaman berada dalam sistem yang memendam gejolak di bawah permukaan, yang ”ditutupi” kemajuan ekonomi dan diredam oleh pembatasan kebebasan sipil. Ini tentu tak lepas dari pertumbuhan generasi baru kelas menengah, yang diperkirakan mencapai 30 persen dari penduduk Malaysia, yang dengan mudah mengakses kebebasan informasi terutama lewat internet.

Keberhasilan istri dan anak Anwar Ibrahim (Wan Azizah Wan Ismail dan Nurul Izzah) memenangi kursi parlemen patut dicermati. Rakyat Malaysia belum percaya sepenuhnya kepada Anwar, tetapi memberi kesempatan lebih besar kepada Anwar untuk memainkan peran sebagai penyeimbang bagi tokoh-tokoh teras UMNO.

Bagi oposisi, masa lima tahun mendatang merupakan testing period yang memberi banyak harapan. Sementara bagi BN, lima tahun ke depan merupakan periode self reflection setelah menjumpai kenyataan, rakyat Malaysia tidak sekonservatif yang diduga. Lima tahun mendatang, tanpa meninggalkan ”elitisme”-nya, dominasi UMNO dan BN mungkin akan tinggal sejarah masa silam.

Membaca konstelasi politik pascapemilu, politik Malaysia diperkirakan akan mendekati pola yang berkembang di Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan, yaitu terwujudnya demokrasi parlementer, yang mana suara mayoritas rakyat dengan mudah berpindah dari satu partai ke partai lain. Secara bertahap, politik akan lebih cair, mekanisme bernuansa otoriter akan ditanggalkan lewat tekanan oposisi di parlemen. Selamat datang Malaysia baru.

Syamsul Hadi Pengajar di Departemen Hubungan Internasional FISIP-UI; Executive Board pada Network of East Asian Studies

Dari : www.abgtop.com