Virus flu burung yang merebak di Indonesia diwaspadai akan bermutasi dan menyebabkan pandemi dari manusia ke manusia.

Penilaian itu disampaikan Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) PBB menyikapi kasus flu burung di Tanah Air. ”Saya sangat khawatir, tingginya sirkulasi virus di Indonesia dapat menciptakan kondisi bagi virus flu burung bermutasi dan akhirnya menyebabkan pandemi influenza terhadap manusia,” kata Ketua Dokter Hewan FAO Joseph Domenech.

Namun,anggota panel ahli Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiap-siagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) Mangku Sitepu membantah pernyataan FAO tersebut. Dia mengatakan, hingga saat ini, belum ada konfirmasi pandemi dari manusia ke manusia. Menurut dia, pandemi flu burung harus dilihat dari terjadinya kasus mutasi manusia ke manusia.

”Kita harus ingat penyakit flu burung itu masuk dalam zoonosis. Jadi ada proses sebelum mutasi ke manusia, yakni dari hewan ke hewan, hewan ke manusia, dan manusia ke manusia,” ungkapnya. Dia mengatakan, meski pihaknya melihat ada perubahan pada kadar asam amino pada penyakit flu burung, perubahan itu masih merujuk pada penularan hewan ke manusia.

Selain itu, faktor geografis di Indonesia juga tidak akan memudahkan virus flu burung cepat bermutasi ke manusia.”Indonesia beda dengan Kamboja atau Vietnam. Kita banyak pulau dan lautan, jadi tidak akan secepat itu,” ungkapnya. Dia menambahkan,faktor tingginya kasus virus flu burung di Indonesia tidak bisa dijadikan faktor terjadinya pandemi pada manusia.

Menurut Joseph Domenech, flu burung kebanyakan menyerang unggas, tetapi varian virus mematikan H5N1 telah menewaskan 235 orang di seluruh dunia dari 372 kasus yang diketahui sejak mewabah di Asia pada 2003. ”Rata-rata tingkat kematian manusia akibat flu burung di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia.Nanti akan ada lebih banyak kasus infeksi baru terhadap manusia jika kita tidak fokus mengangkat penyakit ini dari binatang sumbernya,” kata Domenech.

Dia juga menuding pemerintahan yang desentralistis mengakibatkan layanan dokter hewan kurang memadai. Selain itu,kampanye dan dukungan dana, baik dari komunitas internasional maupun dalam negeri, sangat minim. Faktor inilah yang menjadi masalah utama di Indonesia dalam menanggulangi virus flu burung. Sementara itu, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan(P2Pl) Depkes I Nyoman Kandun mengungkapkan, bisa saja virus H5N1 berubah menjadi virus flu musiman dan menjadi virus yang mampu menular dari manusia ke manusia serta bisa menyebabkan terjadinya pandemi.

”Tetapi hingga saat ini belum terjadi,”tandasnya. Di tempat terpisah, Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari mengungkapkan, sampel virus flu burung yang dikirim ke Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) telah berubah.” Pada dasarnya bentuknya hampir sama seperti yang dulu. Namun ya, ada sedikit perubahan” ujar Menkes kemarin. Namun,Menkes membantah bahwa perubahan itu merupakan mutasi dari kondisi semula.

”Bukan mutasi,tetapi hanya sedikit mengalami perubahan dari bentuk semula” tandasnya. Menkes tidak mau menyebutkan perubahan seperti apa yang dimaksudkan itu. Dia tidak mau memberikan keterangan mengenai detail perubahan itu. (SINDO)