ledakan_gas_pertamina.jpg
Semburan lumpur panas yang selama ini mengeluarkan material di atas 75 ribu meter kubik per hari kemarin mengecil. Hal ini diduga kuat akibat di sekitar pusat semburan terjadi penurunan tanah (subsidence).

Sebelum semburan lumpur panas mengecil,di sekitar pusat semburan memang terjadi penurunan tanah. Lumpur yang mengendap di sekitar pusat semburan mengalami penurunan hingga kedalaman 3 meter. Mengecilnya semburan lumpur panas itu, diketahui petugas tanggul,Selasa (18/3) sekitar pukul 04.00 WIB.”Bukan hanya semburan lumpur yang mengecil,saat bersamaan dibarengi dengan penurunan tanah di sekitar pusat semburan,” ujar Kapten Rokhim, salah satu petugas keamanan tanggul.

Asap yang keluar di pusat semburan juga mengalami penurunan.Petugas juga melihat lumpur di dalam tanggul cincin menyusut. Menurunnya lumpur di sekitar pusat semburan berbentuk kerucut seolah-olah lumpur kembali masuk ke dalam pusat semburan. ”Kita tidak tahu fenomena apa yang menyebabkan mengecilnya semburan lumpur panas ini,” tutur Rokhim. Mengecilnya semburan lumpur panas ini menguntungkan di penguatan tanggul.

Material lumpur yang sebelumnya mengalir cukup deras ke arah utara dan selatan pusat semburan juga berkurang. Namun,Rokhim belum bisa memastikan apakah semburan lumpur panas itu akan benar-benar berhenti.Sebab, sebelumnya semburan lumpur panas itu sudah pernah berhenti meski tidak lebih dari 15 menit.”Namun, setelah itu semburan meningkat lagi.”Petugas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) langsung menuju ke pusat semburan setelah mendengar laporan tersebut. Staf Humas BPLS Akhmad Khusaeri yakin,mengecilnya semburan lumpur panas itu akibat di sekitar pusat semburan terjadi penurunan tanah.

” Mengecilnya semburan lumpur panas itu karena terjadi subsidence,” ujarnya. Dia menambahkan, sebenarnya penurunan tanah di sekitar pusat semburan sudah kerap terjadi.Namun,kali ini penurunan tanah terjadi tepat di sekitar pusat semburan. Sehingga menimbulkan lubang dengan kedalaman sekitar 3 meter. ”Kita lihat perkembangan selanjutnya, apakah nantinya subsidencedi sekitar pusat semburan itu bisa menekan lumpur yang keluar.

Sehingga, volume material yang keluar terus mengecil, syukursyukur bisa segera berhenti,” tutur Khusaeri. Di saat volume lumpur yang keluar di pusat semburan mengecil.Semburan air di salah satu bedak Pasar Buah Jatirejo malah membesar. Hal ini membuat warga sekitar khawatir semburan itu akan bertambah besar. Pantauan di lapangan, ketinggian air yang keluar dari semburan Jatirejo itu mencapai7meter.

Padahal,semburan airbercampurgasyangpernah terbakar dua kali itu sudah dipasang pipa.Petugas BPLS yang mengecek ke lokasi menyatakan, membesarnya semburan air dan gas di Jatirejo itu disebabkan adanya pipa yang pecah. Sehingga mengeluarkan semburan di luar pipa sampai di atas atap rumah. Di bagian lain,perwakilan sembilan desa yang tidak masuk dalam skema ganti rugi pemerintah bertemu dengan Bupati Sidoarjo Win Hendrarso.

Kendati warga menekan Win untuk memperjuangkan nasib mereka agar masuk skema kawasan ganti rugi,namun Win tidak bisa berbuat banyak. ”Saya sudah memperjuangkan agar ada perluasan kawasan yang diberi ganti rugi.Namun,semua keputusan ada di pemerintah pusat. Jadi warga jangan menekan saya, posisi saya ini repot,dari atas ditekan dari bawah ditekan,” ujar Win Hendrarso di hadapan perwakilan warga. Dalam pertemuan itu tidak ada keputusan yang disepakati, Win berharap agar warga sembilan desa menunggu keputusan dari pemerintah pusat.

Sebab,Pemkab dan DPRD Sidoarjo sudah mengusulkan 11 Desa agar dimasukkan dalam peta terdampak, namun sejauh ini baru disetujui tiga desa, yaitu Besuki, Pejarakan, dan Kedungcangkring, Kec Jabon. Abdullah Faqih,perwakilan warga Jatirejo Barat, mengatakan pihaknya tetap akan memperjuangkan agar sembilan kawasan lainnya masuk peta terdampak.

”Pemerintah harus segera memutuskan agar sembilan desa lainnya masuk peta terdampak Lumpur,” ujarnya. Sembilan desa yang diajukan agar masuk daerah terdampak di antaranya Desa Siring Barat, Jatirejo Barat, Mindi, Glagah Arum,Kec Porong.(SINDO)