Oleh A Mustofa Bisri

DARI berbagai hadis sahih, di samping Alquran, ulama menyimpulkan pribadi Nabi Muhammad SAW, sebagai pribadi yang tidak ada duanya. Dalam kitab suci Alquran, Allah menyatakan kepada utusan terakhir-Nya itu Wainnaka la’alaa khuluqin ‘azhiim yang artinya ‘Dan sungguh Engkau benar-benar di atas pekerti yang agung” (QS 68:4).

Banyak mufassir yang mengartikan bahwa Khuluqin ‘Azhiim ialah Alquran. Itu sejalan dengan pernyataan Sayyidatinaa Aisyah ra, istri terkasih Nabi Muhammad SAW sendiri saat ditanya tentang suaminya, pemimpin agung itu, Kaana khuluquhu lquran’, ‘Pekerti beliau adalah Alquran’

Penegasan Sayyidatinaa Aisyah ra tentang Nabi Muhammad SAW itu kalau menurut orang Jawa disebut cekak aos. Cekak artinya singkat, aos berarti padat, berisi, dan berbobot.

Betapa tidak? Kalimat yang pendek itu dapat kita uraikan hingga dapat menjadi buku yang tebal. Apa saja yang dianggap baik dan dianjurkan di dalam Alquran dilaksanakan oleh Nabi Muhammad seperti berlaku adil, jujur, memenuhi janji, menjaga amanat, menafkahkan sebagian harta kepada fakir miskin, menahan amarah, memaafkan kesalahan, bersilaturahim, berani karena benar, rendah hati, musyawarah, menjaga kehormatan, sabar, tawakal, dan sebagainya.

Beliau juga menjauhi apa saja yang dilarang Alquran, seperti berdusta, munafik, sombong, takabur, berburuk sangka, menggunjing, menghina orang lain, khianat, berbuat lalim, menyakiti hati orang, bersikap kasar dan kejam, dan sebagainya.

Hal itu berarti pula bahwa sebelum Nabi Muhammad SAW menganjurkan dan memerintahkan sesuatu kepada umatnya, beliau terlebih dahulu melaksanakannya. Dalam hal dakwah, mengajak kepada kebaikan, diri beliau dahululah yang diajak sebelum orang lain. Dengan kata lain, beliau selalu memberi teladan dan mencontohkan perilaku dan perbuatan yang beliau anjurkan dan perintahkan.

Beliau bersabda, Shalluu kamaa raitumuunii ushallii! (salatlah kalian seperti aku salat!), Khudzuu ‘annii manaasikakum! (ambillah contoh dariku cara-cara ibadah haji kalian). Maka umat yang beliau ajak atau nasihati dapat dengan tepat mengikutinya.

Boleh jadi, hal itulah terutama yang menyebabkan ajaran dan dakwah beliau manjur, ditaati, dan diikuti dengan senang hati oleh para sahabat atau murid-muridnya yang beliau sayangi. Di samping memang Nabi Muhammad SAW tidak pernah menganjurkan atau memerintahkan sesuatu yang sulit.

Beliau sendiri, seperti penuturan Sayyidatina Aisyah ra, apabila disuruh memilih antara dua perkara, selalu akan memilih yang mudah, selagi perkara itu tidak dosa. Apabila dosa, maka beliaulah orang yang paling menjauhinya.

Bahkan dalam hadis sahih beliau tegas bersabda Innad diina yusrun walan yusyaaddad-diina ahadun illa ghalabahu (sungguh agama itu mudah dan tidak ada seorang pun yang memperberat-beratkannya, kecuali justru agama itu akan mengalahkannya).

Pemimpin yang ingin ditaati dengan senang–bukan dengan ketakutan–oleh orang-orang yang dipimpinnya, perlu meniru pemimpin agung Muhammad SAW. Menyayangi mereka yang dipimpinnya, tidak memerintahkan hal-hal yang sulit, dan memberikan contoh serta teladan.

Pemimpin yang hanya bisa memerintah dan menganjurkan, tanpa memberikan contoh dan teladan, terbukti tidak memberi manfaat kepada kehidupan bermasyarakat.

Apalagi pemimpin yang menganjurkan kebaikan sekaligus mencontohkan kebalikannya, pastilah akan merepotkan mereka yang dipimpinnya. Salawat dan salam bagi pemimpin agung Nabi Muhammad SAW.

A Mustofa Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Rembang

Sumber : Media Indonesia