PERINGATAN lima tahun invasi Amerika Serikat (AS) ke Irak yang jatuh pada hari ini mendapat porsi khusus media massa di berbagai penjuru dunia. Mayoritas berisi kritikan dan kecaman terhadap aksi Gedung Putih yang telah menyebabkan jutaan rakyat Irak menderita, hidup terlunta-lunta di pengungsian, dan kehilangan masa depan sebagai bangsa. AS telah mengubah Irak dari Negeri Seribu Satu Malam menjadi Negeri Seribu Satu Kematian, Negeri Seribu Satu Penderitaan,dan Negeri Seribu Satu Perpecahan.Sungguh sebuah tragedi kemanusiaan luar biasa di abad modern yang menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM) dan menghargai kedaulatan sebuah bangsa. Yang terjadi di Irak adalah pelanggaran HAM yang luar biasa kasatmata yang dampaknya lebih dahsyat dari sekadar cerita “khayalan”tentang Al Qaeda.

Menurut catatan Iraq Body Count, invasi AS yang dimulai 20 Maret 2003 hingga sekarang telah menewaskan 1,2 juta warga sipil Irak dan menyebabkan 4 juta lainnya kehilangan tempat tinggal dan telantar di pengungsian. Setiap hari,bahkan dalam hitungan jam terjadi kematian di negeri yang jadi kiblat ilmu pengetahuan dan kebudayaan ini.

Sampai kapan tragedi berdarah ini bisa dihentikan? Tidak ada yang tahu karena upaya untuk menemukan solusi damai selalu menghadapi tembok besar,egoisme AS. Bahkan,badan dunia sekelas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun tidak mampu berbuat sesuatu demi rakyat Irak, demi masa depan anak-anak Irak, kemanusiaan, dan martabat umat manusia.

Sungguh ganjil rasanya,kematian demi kematian di Irak yang jelas-jelas nyata bisa dikalahkan dengan isu nuklir Iran yang masih tidak jelas kebenarannya. PBB dan negara-negara besar yang sebenarnya mampu mencegah tragedi kemanusiaan di Irak hanya diam seribu bahasa. Membiarkan perpecahan dan pembunuhan terus berlangsung di sana. Rezim internasional ini lupa situasi yang makin rumit di Irak akan memengaruhi konstelasi politik global yang potensial menimbulkan konflik baru.

Resesi ekonomi AS yang salah satunya disebabkan mahalnya biaya perang di Irak telah mengguncang pasar global. Kenaikan harga minyak dunia dan terancamnya stabilitas kawasan adalah efek yang tidak kalah seriusnya. Ribuan saran, kritik, hingga kecaman dari rakyat AS sendiri atas perang Irak juga tidak mampu menyentuh nurani Presiden George W Bush. Sebaliknya, atas nama perang melawan teroris –jargon yang semakin tidak populer–, Bush bertekad meneruskan invasi ke Irak. Belum cukupkah kematian jutaan orang itu bagi Bush dan para pembantunya untuk menarik pasukan dari Irak?

Yang jelas, sejarah akan mencatat telah terjadi penjajahan kejam di Irak di abad modern oleh sebuah negara yang menganggap dirinya “guru demokrasi”.Akan dicatat pula bahwa AS pernah memiliki pemimpin yang paling dibenci oleh rakyatnya sendiri dan oleh bangsa-bangsa di dunia.

Sumber : Koran Sindo