Akibat Gagal Pertahankan Produksi
Potensi kehilangan dana dari sektor migas diperkirakan mencapai Rp 200 triliun setiap harinya. Kondisi ini disebabkan buruknya pengelolaan industri migas di dalam negeri.

“Dengan asumsi harga minyak yang sempat mencapai USD 112 per barel, Indonesia harusnya bisa memperoleh dana Rp 200 triliun. Tapi, hal ini tidak bisa dicapai. Pengelolaan migas sangat amburadul,” terang Direktur Center for Petroleum Economics Studies (CPES) Kurtubi, akhir pekan lalu (22/3).

Menurut dia, pemerintah gagal mempertahankan produksi minyak mentah. Dari 1,6 juta barel per hari, kini hanya tinggal 900 ribu barel per hari. “Kalau kita bisa mempertahankan 1,5 juta barel saja, kita bisa menerima rezeki nomplok Rp 200 triliun dengan kondisi negara-negara panik seperti saat ini,” ujarnya

Menurut Kurtubi, hal itu tidak mustahil, sebab cadangan minyak mentah di perut bumi Indonesia masih 80 miliar barl. Namun, akibat kesalahan kelola dan aturan perundang-undangan mengenai Migas, Indonesia tak lagi memiliki cadangan lokasi eksplorasi minyak.

“Pengelolaan migas di Indonesia gagal dalam delapan tahun belakangan ini. Kalau UU tidak dibenahi, kita akan menderita di atas bumi Indonesia yang kaya minyak ini,” katanya.

Kurtubi yakin, kalau UU tentang migas diubah pasti akan banyak investor yang menanamkan modalnya di Indonesia, sehingga bisa ditemukan cadangan minyak baru. Karena itu, kata pakar perminyakan itu, solusi jangka pendek yang dapat dilakukan pemerintah adalah meningkatkan produksi minyak mentah.

“Jangka panjangnya, mengubah ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai migas,” katanya. Dia juga pesimistis dengan berbagai rencana pemerintah untuk meningkatkan produksi minyak dengan lapangan-lapangan migas yang ada.

Blok Cepu, andalan pemerintah dengan proyeksi produksi maksimal 160 ribu barel per hari juga terancam molor karena masalah lahan yang tidak kunjung selesai.

Untuk Cepu saja, dengan angka produksi 160 ribu barel perhari, molornya produksi Cepu tiap harinya akan membuat negara kehilangan potensi pendapatan Rp 129 miliar. Bila dihitung dengan asumsi ICP USD 90 per barel. “Itu hitungan gross-nya. Memang akan dikurangi biaya operasional dan sebagainya tapi itulah gambarannya,” paparnya.

Dari : Jawa Pos