Oleh Tarmizi Taher

Flu dan stres adalah dua penyakit yang sering kita derita. Bedanya, penyakit flu datang dan pergi. Rata-rata kita menderitanya 4-5 kali dalam setahun.

Flu yang disebabkan virus influenza ini termasuk penyakit yang dapat sembuh sendirinya (self-limiting disease) jika kondisi umum tubuh kita cukup fit. Penyakit stres akan terus-menerus bersama kita lebih lama hingga bulanan, tahunan, malah mungkin puluhan tahun. Kalau dibiarkan, stres akan membunuh kita secara perlahan maupun dengan cepat.

Menurut penelitian, 80 persen orang Amerika menderita stres. Stres dalam zaman modern menjadi epidemi. Stres terutama disebabkan gaya hidup orang global. Mereka yang terancam akibat fatal dari stres adalah kelompok masyarakat modern dengan kesibukan fisik dan beban mental yang tinggi secara terus-menerus.

Prof Robert Salim Eliot, seorang ahli penyakit jantung kaliber dunia, pernah mengalami serangan jantung saat memberikan kuliah tentang serangan jantung. Umurnya masih relatif muda (43 tahun). Dia juga tidak merokok, berat badan normal, tidak menderita tekanan darah tinggi, tidak ada diabetes, dan kadar kolesterol dalam darahnya normal. Kedua orang tuanya yang berumur 80 tahunan juga tidak pernah menderita darah tinggi.

Dengan kondisi bebas dari faktor risiko penyakit jantung, Eliot tidak pernah berpikir tentang kemungkinan akan mendapat serangan jantung yang hampir membawanya pada kematian. Untunglah ia mendapat serangan penyakit jantung yang ringan dan terjadi di rumah sakit jantung. Kalau tidak, mungkin dia sudah meninggal dunia. Demikian tulis Eliot dalam bukunya, Stress, is it worth dying for?

Setelah kejadian yang hampir merenggut nyawanya, dia introspeksi dan meneliti gaya hidupnya pada masa lalu dan merencanakan masa depan yang baru. Ternyata, penyebab serangan jantung itu karena stres dalam karier dan profesi.

Eliot membuat rencana hidup secara ketat. Dia menargetkan harus sudah menjadi kepala divisi jantung pada universitas terkenal saat umur 40 tahun. Kariernya cukup hebat, mencapai profesor pada usia sebelum 40 tahun. Karya ilmiahnya ditulis dalam majalah dan harian terkenal.

Pasiennya datang dari seluruh dunia. Dia juga menjadi konsultan rumah sakit dan perusahaan besar. Stres batin yang menggerogoti jiwa dan jantungnya adalah adanya perasaan kecewa atas keterlambatan menjadi kepala bagian jantung itu. Kesempatan itu baru datang saat dia berusia 43 tahun.

Keterlambatan karier tiga tahun dan kesibukan profesionalnya menjadi beban mental dan fisiknya sehingga ia tidak sempat olahraga dan santai dengan keluarga. Setelah terbaring di rumah sakit sebagai pasien jantung, Eliot berpikir ulang.

Berdasarkan pengalaman itu, Eliot mendirikan pusat penelitian dunia di Denver Colorado dengan nama Institute of Stress Medicine. Dari cerita di atas, jelas bahwa stres bukan lagi hal kecil dalam kesehatan jantung.

Tingkah laku
Menurut Alvin Toffler, our circuit are overloaded, ketidakpedulian pada daya tahan tubuh dan jantung jika dibiarkan terus-menerus akan menuntun seseorang ke kuburan dalam usia muda. Masyarakat maju dengan kesibukan dan motivasi serta orientasi achievement yang tinggi selalu bermuara pada penyakit jantung sebagai first killer menggeser penyakit infeksi. Para manajer dan profesional adalah barisan terdepan untuk menderita manager disease.

Stres menunjukkan adanya kaitan behavior (tingkah laku) dengan kesehatan jantung. Maka, banyak kajian tentang tingkah laku yang mempunyai risiko tinggi terhadap penyakit jantung. Publikasi yang terkenal 20 tahun lalu dari Meyer Friedman dan Ray Rosenman, bukan hanya perilaku yang suka merokok dan hobi makan berlebihan yang mempunyai risiko sakit jantung. Tetapi, cara kita beraksi dalam hidup adalah faktor risiko penting dalam penyakit jantung.

Ada dua tipe tingkah laku klasifikasi Friedman dan Rosenman, yaitu tipe A dan tipe B. Sebanyak 15 persen orang tipe A akan menderita serangan jantung, sedangkan perilaku tipe B hanya tujuh persen yang menderita serangan jantung. Data dari masyarakat maju, Amerika 70 persen laki-laki adalah tipe A dan 50 persen perempuan tipe B.

Golongan tingkah laku tipe A mempunyai risiko lebih tinggi terhadap serangan jantung. Dalam pemeriksaan, tampak orang tipe A kurang tenang, kedip mata lebih sering, cara bicaranya cepat dan eksplosif, serta sering interupsi orang lain. Orang ini selalu menyeletuk bila mendengar kalimat yang tidak selesai dan lambat diucapkan oleh orang yang ada di dekatnya. Sayangnya, secara individual sulit mencari dengan tepat dan spesifik kaitan orang yang tidak sabar, suka interupsi, dan hobi bertanding terhadap risiko serangan jantung. Interupsi di sini terkait dengan tingkah laku tipe A.

Para peneliti dalam dunia kedokteran hampir satu abad lamanya menekuni stres sebagai satu masalah penting. Demikian kata Prof Dr Michael EDE Bakey, ahli bedah jantung kaliber dunia dari pusat penyakit jantung Houston, Texas. Sejak 1920 Walter Canon dan Wilhem Raab, seorang ahli Ilmu Faal dari Amerika yang tersohor, menemukan peningkatan produksi adrenalin dan cortisol dalam tubuh seorang petinju yang sedang bertinju dan pilot yang sedang terbang. Rupanya, beban bertinju dan terbang memberi tekanan pada tubuh untuk memproduksi adrenalin dan cortisol (hormon penyebab stres).

Berkaitan dengan itu, Hans Selye dapat menuntaskan penelitian awal dari penyakit stres terhadap hewan percobaan dan akhirnya pada tubuh manusia. Menurut Selye, meningkatnya beban mental dan fisik pada manusia dapat meningkatkan adrenalin dan cortisol secara berlebih-lebihan dengan segala akibatnya pada jantung, pembuluh darah, otot, ginjal, dan syaraf.

Kalau beban mental dan fisik ini dibiarkan maka akibatnya amat fatal, yaitu kematian. Stres memang mempunyai spektrum luas, mulai dari yang ringan sampai yang berat. Masyarakat Indonesia mulai banyak terkena stres akibat harga bahan pokok mahal, perekonomian negeri berjalan tak pasti. Akibatnya, kasus bunuh diri karena faktor ekonomi sering terjadi. Hati-hati terkena stres.

Tarmizi Taher, Rektor Universitas Islam Azzahra dan Seorang Dokter.

Original Site : www.jawabali.com