Salman Rushdie Mendukung Penuh meski Tidak Menonton

Tahun 1980-an, dunia Islam diguncang dengan novel Ayat-ayat Setan (Satanic Verses) karya Salman Rushdie. Guncangan itu tampaknya bakal kembali terasa setelah sekelompok seniman panggung Jerman mementaskan novel tersebut akhir pekan lalu.
——————————

Suara tepuk tangan menggemuruh di gedung teater Hans Otto, Jerman. Beberapa penonton bahkan bertepuk tangan sambil berdiri dan berteriak, “Bravo… bravo..”.

Aplaus panjang tersebut ditujukan untuk Tobias Rott dan Robert Gallinowski. Rott memainkan peran sebagai Saladin dan setan sekaligus. Sedangkan Gallinowski berperan sebagai Jibril dan Mahound (yang digambarkan mirip dengan Nabi Muhammad).

Untuk kali pertama, novel kontroversial karya Salman Rushdie itu dimainkan secara teatrikal di teater tersebut. Mereka memainkannya pada Minggu 30 Maret pukul 13.00 GMT (20.00 WIB). Meski menuai banyak kontroversi, drama teatrikal selama 3,5 jam tersebut berlangsung meriah dan lancar-lancar saja.

Kontroversi pun langsung bermunculan saat ide untuk mementaskan novel itu muncul. Dua hari sebelum teatrikal tersebut dimainkan, Presiden Dewan Islam Jerman Ali Kizilkaya menyatakan bahwa organisasinya keberatan dengan drama tersebut. “Kami menyesalkan bahwa suatu sentimen religius untuk kaum muslim disuguhkan dengan cara yang provokatif,” ujar Kizilkaya kepada AFP.

Berbeda dengan Kizilkaya, Sekretaris Umum Dewan Pusat Muslim di Jerman Aiman Mazyek lebih toleran. Dia mendesak warga muslim agar lebih tenang dan melihat dialog yang dimainkan terlebih dahulu.

Tapi, jika drama tersebut terlalu menyinggung Islam, Mazyek juga menyatakan keberatan. “Kebebasan seni dan berekspresi adalah hal yang penting. Namun, penghinaan terhadap hal yang suci dalam sebuah agama ialah sesuatu yang tidak kami hargai,” tegasnya dalam sebuah wawancara dengan radio RBB.

Kontroversi tentang novel Ayat-Ayat Setan itu sudah muncul sejak pertama terbit. Pada 1989, pemimpin agama Iran Ayatullah Khomeini bahkan pernah memfatwakan untuk membunuh Rushdie. Fatwa itu memicu ketakutan Rushdie sehingga dia harus bersembunyi selama bertahun-tahun.

Namun demikian, hal tersebut tidak menyurutkan niat Uwe Eric Laufenberg dan Marcus Mislin untuk menulis naskah teatrikalnya. Apa yang mereka lakukan mendapat dukungan penuh dari Rushdie.

Dia senang dengan ide pembuatan versi teatrikal dari novelnya. “Novel itu bisa didapat dengan bebas. Jadi, mustahil mengatakan bahwa ini (novel tersebut, Red) tidak bisa dibuat sebuah drama. Saya sangat senang karena pembuatan drama itu sudah dilakukan,” ujar Rushdie.

Rushdie mendapatkan tiket gratis untuk menonton teatrikal tersebut, namun dia tidak muncul. Tampaknya, ancaman Ayatullah masih membuat dia ketakutan.

Penjagaan ketat dilakukan selama teatrikal itu dimainkan. “Tidak ada ancaman secara spesifik. Karena drama ini mengambil tema yang sensitif, kami harus menempatkan polisi untuk berjaga-jaga,” kata Rudi Sonntag, juru bicara polisi.

Beberapa polisi tampak di dalam dan luar gedung teater. Namun, dugaan polisi tersebut keliru. Tidak terjadi kerusuhan apa pun.

Novel Ayat-Ayat Setan itu muncul kali pertama pada 1988. Berbagai kontroversi muncul karena tokoh-tokoh dalam novel tersebut banyak menggambarkan Nabi Muhammad yang namanya diganti menjadi Mahound. Dia juga memasukkan Allah sebagai salah satu tokoh dalam novelnya.

Setelah fatwa yang dikeluarkan Khomeini, Rushdie bersembunyi selama sepuluh tahun. Rushdie kembali menjadi sensasi pada 2007. Saat itu Ratu Elizabeth II menganugerahkan gelar kebangsawanan “kesatria” kepadanya. Keputusan tersebut ditentang banyak pihak, termasuk Iran.