Online Demi Susu Anak
Akhirnya Speedy memblokir Film Fitna. Informasi pemblokiran tersebut disampaikannya melalui situs portalnya yang beralamat di telkomspeedy.com. Dalam informasi tersebut, setidaknya ada 7 situs yang diblok oleh Speedy.

Ketujuh situs tersebut adalah Youtube, MySpace, Metacafe, Rapidshare, Multiply, Liveleak dan Themoviefitna.com

"Situs-situs dan blog tersebut tidak akan bisa diakses hingga ada pemberitahuan lebih lanjut," demikian isi informasi tersebut.

Menjerit

Pemblokiran akses Speedy, salah satunya ke Multiply tersebut, mengakibatkan sejumlah pengusaha rumah tangga dan industri mikro menjerit. "Bangkrut deh aku," ujar Budi Dhima, seorang ibu rumah tangga kepada detikINET, Selasa (8/4/2008).

Budi adalah salah satu dari ratusan ibu rumah tangga di bilangan Bekasi yang menjalankan bisnis rumahan atau mikro melalui Internet, dengan bermodalkan akses Internet Speedy dan situs Multiply.

"Aku pakai multiply untuk menawarkan daganganku, seperti baju dan jilbab muslimah," ujarnya. "Kalau gini caranya (diblokir), aku bisa bangkrut. Pelangganku kan kumpulnya di multiply," tambahnya dengan memelas.

Budi, sebagaimana keluarga muda pada umumnya, membantu suaminya dalam hal keuangan keluarga, dengan berdagang kecil-kecilan dengan pemasukan sekitar Rp 2 juta per bulan. "Keuntungannya paling hanya pas untuk menambah biaya sekolah TK putri sulungnya dan membeli susu untuk anak balitanya," tambahnya.

Menurut Budi, setidaknya sekitar seribuan member yang tergabung dalam indonesiaonlineshop.multiply.com. "Sekitar 50%-60%-nya menggunakan Speedy," tandasnya dengan nada datar.

Senada dengan Budi, Ifran seorang peneliti yang berdomisili di Depok juga mengalami nasib yang sama lantaran menggunakan Speedy. "Duh, padahal saya pake situs-situs yang diblok tersebut untuk keperluan riset, khususnya yang terkait dengan foto-foto teknologi. Adik saya malah perlu untuk ngumpulin resep masakan," ujarnya.

 Catatan Diskusi Menkominfo dengan Blogger Indonesia

Tak banyak yang bisa diulas tuntas dalam diskusi informal antara Menkominfo M. Nuh dengan para blogger Indonesia. Bahkan beberapa isu strategis, nyaris terhempas begitu saja.

Sejak awal pembukaan diskusi yang berlangsung di kantor Depkominfo, Senin (7/4/2008), Nuh sudah menegaskan permintaan bantuannya, setidaknya berupa saran, tentang teknik memblokir film Fitna (saja), tanpa harus menutup keseluruhan isi situs semisal di YouTube.

Tetapi, karena mungkin niatnya adalah silaturahim (tak lebih), maka justru dari sekian banyak blogger peserta yang hadir dan mendapatkan kesempatan berbicara, lagi-lagi hanya mengulang-ulang pertanyaan tentang mengapa pemerintah harus menutup YouTube.

Pun alasannya, menurut Nuh, sudah jelas. Presiden SBY telah meminta kepada dirinya untuk meminimalisir masuknya Film Fitna ke Indonesia, termasuk yang melalui Internet. Nuh pun mengakui di depan para blogger, bahwa jajarannya tidak akan mungkin memblokir seluruh situs di Internet yang mengandung film Fitna.

Nuh, yang didampingi oleh Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar, Dirjen Aptel Cahyana Ahmadjayadi, dan Staf Ahli Bidang Hukum Edmon Makarim tersebut juga paham bahwa memblokir keseluruhan isi YouTube adalah bukan solusi yang terbaik, mengingat banyak konten YouTube yang memang positif dan bermanfaat.

"Untuk itu, kalau ada masukan atau saran dari rekan-rekan tentang bagaimana memblokir hanya pada film Fitna saja, silakan disampaikan," pinta Nuh, yang sayangnya tak banyak masukan yang khusus menanggapi hal tersebut.

Blogger Negatif

Uniknya, ada pula blogger yang memutar rekaman wawancara sebuah radio dengan seorang yang suaranya mirip dengan pengamat TI Roy Suryo. Menurut blogger tersebut, wawancara tersebut isinya cenderung mendiskreditkan dirinya atau rekan blogger lainnya.

Padahal, sepengetahuan penulis, perilaku yang dilakukan oleh blogger tersebut dengan memutar rekaman suara di depan khalayak ramai untuk menguatkan pendapatnya, tak ada bedanya dengan yang dilakukan oleh Roy Suryo, pihak yang dianggapnya sedang berkontra dengan dirinya lantaran menyebut dirinya sebagai blogger negatif.

Maka tak heran, di akhir acara Nuh sempat ‘didaulat paksa’ untuk menyatakan secara eksplisit bahwa blogger tidak identik dengan pihak yang gemar melakukan kerusakan di dunia maya. Nuh pun berhasil berkelit dengan menjawab diplomatis, yang intinya menegaskan bahwa pihaknya menganggap blogger sebagai mitra dalam membangun bangsa.

Sungguh, sangat disayangkan sesi pertemuan yang sangat berharga tersebut, tak dioptimalkan untuk melahirkan sebuah inisiatif bersama dan sinergis antara komunitas blogger dengan Depkominfo. "Ya, namanya juga silaturahim," ujar salah seorang blogger melalui SMS kepada penulis. Jadi mungkin, sah-sah saja akhirnya kesempatan yang langka tersebut, (hanya) dijadikan sarana menumpahkan uneg-uneg pribadi atau kelompok.

Ide Cemerlang

Meskipun demikian, tidak sedikit pula peserta diskusi yang kemudian memunculkan sejumlah ide cemerlang. Bahkan ide-ide tersebut kemudian menjadi kesimpulan yang ditegaskan Nuh saat menutup sesi diskusi.

Beberapa ide tersebut semisal yang disampaikan oleh blogger Boy Avianto. Menurutnya, sudah tidak saatnya lagi menghadapi sebuah konten negatif dengan pemblokiran. "Masyarakat kita adalah masyarakat yang kreatif dan mampu untuk melakukan hal tersebut. Bukan masyarakat yang minder (rendah diri)," ujarnya.

"Justru kita harus tantang masyarakat Indonesia, bagaimana membuat video yang positif sebanyak-banyaknya untuk menjawab (meng-counter) film Fitna, dan di-upload di YouTube," tegasnya. "Pemerintah, dalam hal ini Depkominfo, kemudian memberikan penghargaan bagi konten atau hasil kreatif terbaik tersebut," tambahnya.

Ide lain juga datang dari Jim Geovedi. Di awal, Jim menyatakan salut bahwa isu tentang blogger sampai menjadi isu penting di tataran pemerintah. "Indonesia adalah pertama kalinya, negara yang pemerintahnya sampai membahas soal blogger," ujar Jim. "Which is, (sebenarnya) nggak penting sama sekali," ujarnya yang disambut gelak tawa peserta dan jajaran Depkominfo lainnya.

Kemudian Jim menegaskan bahwa salah satu penyebab mengapa orang kemudian tertarik untuk mengakses konten dari luar negeri, dan juga menghabiskan bandwidth menurutnya, adalah sangat minimnya konten lokal berbahasa Indonesia.

"Sudah saatnya kita membangun konten-konten lokal, agar masyarakat Indonesia tak lagi harus menghabiskan bandwidth karena (tergantung pada) konten di luar negeri," ujar Jim menegaskan. Jim pun menyempatkan diri menitip pesan kepada Depkominfo agar lebih piawai dalam mengkomunikasikan kebijakannya kepada masyarakat luas (awam).

Mendukung

Nuh sendiri menyatakan dirinya mendukung komunitas blogger. "Kami (Depkominfo) justru ingin mendorong komunitas blogger sebagai pendorong dinamika baru, pencerahan masyarakat," ujar Nuh sesaat sebelum menutup acara.

"Saya bahkan mendorong blogger itu sebagai komunitas baru untuk menyebarkan fungsi pendidikan, pemberdayaan, dan memberi fungsi pencerahan masyarakat. Oleh sebab itu blogger itu part of our family," tegas Nuh. Nuh pun menjanjikan untuk adanya diskusi rutin dengan para blogger, "ada ataupun tidak ada masalah", tandasnya.

Diskusi itu sendiri diikuti oleh setidaknya sekitar 70 orang, terdiri atas perwakilan komunitas blogger, pemerhati dan praktisi TI dan sejumlah media massa. Diskusi di mulai pukul 19.15 WIB dan ditutup resmi sekitar pukul 21.15 WIB

Untuk tautan informasi tentang diskusi antara blogger dengan Menkominfo, beberapa diantaranya dapat dilihat di:

http://ndorokakung.com
http://romisatriawahono.net
http://media-ide.bajingloncat.com
(detikINET)