Oleh Adi J. Mustafa

Beberapa quick count atau perhitungan cepat hasil pilkada gubernur dan wagub Jawa Barat menunjukkan kemenangan pasangan HADE (Ahmad Heriyawan-Dede Yusuf) di atas AMAN (Agum-Nu’man) dan DAI (Danny-Iwan). Angka capaian HADE pada kisaran 39-40%, sementara AMAN dan DAI masing-masing sekitar 35-36% dan 24-25%. Sebagian pengamat melihat kemenangan HADE sebagai kejutan. Sebagian bahkan menyebut sebagai ketiban durian runtuh. Apa sebenarnya rahasia di balik kemenangan HADE ini?*

Saya melihat paling tidak ada lima faktor kunci di balik keunggulan HADE: 1) rakyat yang ingin perubahan, 2) jaringan kader partai yang kuat dan dinamis, 3) faktor popularitas Dede Yusuf, 4) dukungan kaum muda dan 5) bertemunya PAN dan PKS.**

(1)

Kalau kita ngobrol dekat dengan masyarakat umum, mereka sungguh merindukan hadirnya pemimpin yang betul-betul memperhatikan mereka. Rakyat terus-menerus dirundung kesulitan hidup. Ketika keluhan dan rintihan mereka tak pernah sampai pada satu titik dimana mereka sudah “pasrah”. Maka momentum pilkada menjadi kesempatan para calon pemimpin untuk merasakan penderitaan rakyat. Mereka juga mengekspresikan janji untuk mengisi program pembangunan pro-rakyat.

Dari beberapa obrolan dengan masyarakat di sekitar perumahan saya dan juga teman-teman kerja, terungkap janji HADE tentang penyediaan 1 juta lapangan kerja sungguh mereka nantikan. Begitu juga janji untuk menggratiskan sekolah sampai tingkat SMA amat mereka tunggu-tunggu.

Pada masalah janji ini HADE punya comparative-advantage, sebab mereka adalah pendatang baru di ranah kepemimpinan publik. Rakyat tidak buta dan tidak tuli. Mereka mengetahui bahwa dua pasang kontestan lain sudah pernah punya kesempatan mempimpin dalam skala propinsi bahkan nasional. Sementara itu sampai saat ini kesulitan rakyat semakin menghimpit.

Saya terus penasaran, kenapa masyarakat umum yang berpenghasilan relatif rendah banyak memilih HADE. Ternyata kerja-kerja sosial yang dilakukan kader-kader PKS amat berkesan di hati mereka. Dalam bahasanya yang sederhana bibi yang membantu di rumah kami berkata, “Pan yang suka ngadain pasar murah, kesehatan gratis dari PKS … Orang-orang kampung mah butuh dan seneng kalau ada acara gituan, Pak!”

Jadi nampaknya pilihan kepada HADE dari masyarakat umum terkait dengan harapan mereka pada kepemimpinan baru.

(2)

Sementara itu jaringan kader yang kokoh saya lihat menjadi kekuatan besar yang dimiliki HADE. Yang saya amati langsung adalah teman-teman dari PKS. Mereka memiliki soliditas kerja hingga ke level ranting atau level desa. Bukan cuma itu, kegiatan-kegiatan pengajian hingga kelompok-kelompok kecil menjadi saluran komunikasi yang amat efektif untuk menyamakan persepsi, mengokohkan kesatuan spiritual serta menyamakan derap langkah.

Kader yang terbina baik mentalitas, pemikiran dan teruji dalam kerja-kerja nyata berbeda dengan seonggok tubuh yang bergerak hanya kalau ada uang. Kader yang memiliki cita-cita luhur untuk mengorbankan apa yang mereka miliki demi kebaikan masyarakat dan menggapai ridho Ilahi berbeda dengan mereka yang orientasi hidupnya hanyalah masalah duniawi. Kader yang bekerja keras di waktu siang dan bermunajat khusyu’ kepada Allah swt di malam hari, tentulah berbeda dengan orang-orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah swt.

Kader seperti inilah yang siap melakukan rapat konsolidasi hingga larut malam dan cukup disuguhi konsumsi martabak dan gorengan pinggir jalan. Kader seperti ini yang siap secara tulus berjalan hingga ke pelosok-pelosok kampung untuk menyapa masyarakat dan memperkenalkan pemimpin yang insya Allah akan memegang amanah, walaupun tak ada uang transportasi. Kader seperti ini yang sungguh-sungguh menabung walau hanya mampu 1000 rupiah sehari, hingga saatnya diinfakkan untuk dakwah. Atau ketika keadaan amat urgen, siap kokoreh uang yang mestinya buat belanja dapur untuk mensuplai biaya akomodasi para saksi, yang memang tak ada budget-nya. Atau pada sikap sigap dan senang hati para ibu untuk menyiapkan makan siang bagi para saksi di lapangan. Dan bahkan pada seorang yang karena lelahnya mengalami musibah kecelakaan serius di jalan, tapi berkata kepada ibunya, “Bu, jangan sedih … insya Allah ini semua dicatat Allah sebagai perjuangan!”

Pada mobilisasi tenaga dan dana-dana pribadi kader terukur soliditas mental, pemikiran dan gerak sebuah komunitas. Soliditas ini nampak pada penyiapan saksi-saksi secara sistematis (bukan sakatimu di jalan). Bahkan para saksi ini terus mengikuti kotak suara hingga ke kantor desa/kelurahan, padahal mereka tidak mendapatkan bayaran apapun untuk tugas itu. Soliditas juga nampak pada penyiapan proses quick-count dan real-count. Mereka siap datang menyampaikan data lapangan walaupun harus menempuh perjalanan selama 2-3 jam dan tiba tengah malam di tempat perhitungan.

Faktor-faktor di atas nampaknya yang berada di luar jangkauan pemikiran para pengamat politik umumnya. Bisa jadi dalam praktek politik yang berlaku umum, berputarnya mesin politik selalu identik dengan uang yang disuplai “orang berduit”. Atau dengan daya tarik artis yang sekedar mengumbar nafsu masyarakat yang sebetulnya harus diobati hatinya. Pada praktek politik yang ada amat sulit menemukan kekuatan cita-cita dan ideologis sebagai motor utama. Juga sangat sulit menemukan persaudaraan dalam perjuangan sebagai perekat hati saat bekerja. Bisa jadi ini yang membuat ungkapan “menangnya HADE adalah kejutan” terlontar.

Yang sebenarnya, bergeraknya mesin politik ini didukung kuat oleh jaringan kader yang kokoh. Pemenuhan finansial di lapangan adalah adalah kebutuhan alami dalam proses sosialisasi calon pemimpin, tapi ia bukanlah faktor kunci kesuksesan.

(3)

Dede Yusuf adalah publik figur yang amat dikenal di masyarakat. Bisa jadi ia lebih dikenal daripada Danny, Iwan, Nu’man atau bahkan Ahmad Heriyawan sendiri. Mungkin hanya Agum yang relatif sama dikenalnya seperti Dede Yusuf. Saya melihat faktor popularitas Dede menjadi salah satu faktor kemenangan HADE.

Akan tetapi ada sisi lain yang saya yakin bisa diamati masyarakat luas pada diri Dede Yusuf, yaitu kemampuannya berkomunikasi secara santun tapi tajam. Jawabannya pada sebuah acara TV bahwa ia akan memberdayakan mahasiswa-mahasiswa terpandai untuk menjadi think-tank HADE sungguh brilyan (mudah-mudahan benar akan dilakukan). Ketika ditanya Yudi Latif, bagaimana HADE akan menghadapi mayoritas anggota DPRD Jabar? Dede menyampaikan, bahwa yang akan ditawarkan adalah program bagi kesejahteraan rakyat. Maka ia yakin semua pihak akan sejalan. Ia juga sampaikan, dirinya dan Ahmad Heriyawan masih muda, maka mereka akan bersilaturahim, berkomunikasi dengan para senior di Jabar untuk meminta masukan-masukan. Faktor popularitas Dede bertemu dengan santunnya komunikasi, menjadi sebuah faktor penentu kemenangan HADE.

Saya sempat ngobrol ringan dengan teman-teman di kantor, bisa jadi Dede ini serupa dengan Rano Karno. Mereka artis tapi matang dan cerdas. Bukan artis yang sibuk dengan gonjang-ganjing rumah tangga, misalnya. Saya berharap Dede menjadi contoh artis yang sungguh-sungguh berhasil mendedikasikan dirinya bagi masyarakat lewat kerja-kerja birokrasi dan politiknya.

Ada lagi obrolan ringan lainnya, yaitu yang terjadi di Jabar bukan masalah artis an-sich. Kalau cuma itu, mengapa hal ini tak terjadi di Banten (dengan Marissa Haque-nya) atau di Tangerang (dengan Airin)? Bisa jadi soliditas kader -terutama kader akhawat- tumbuh lebih kuat, karena di Jabar ini meskipun pilihan jatuh pada artis, tapi ia adalah lelaki. Ini lebih dekat pada kebaikan ditinjau dari kesiapan menunaikan amanah dan juga ditinjau dari sisi nilai-nilai keislaman.

(4)

HADE adalah pasangan muda. Usia mereka baru 40-an. Meskipun belum ada survei tentang ini, saya yakin dukungan kaum muda kepada mereka amat besar. Yang pasti, tim pemenangan mereka di tingkat propinsi, tingkat kabupaten kota, hingga ke tingkat desa bahkan RT/RW mayoritasnya adalah orang-orang berusia 20 hingga 40 tahunan.

Anak-anak SMA atau mahasiswa dugaan saya memberikan dukungan besar kepada HADE. Belum lagi para remaja putri menurut saya tidak sedikit yang pilihan pada HADE amat dipengaruhi dengan menawannya penampilan Dede Yusuf. Satu alasan yang sangat mungkin terjadi di lapangan … *smile*.

Sebetulnya sejarah memang membuktikan, perubahan-perubahan besar pada suatu komunitas lebih banyak ditentukan oleh anak-anak muda mereka. Tentu anak muda yang membuat perubahan adalah yang cerdas, berani dan siap bekerja keras. Tak usah jauh-jauh, bahkan di negeri ini, anak-anak muda lah yang mendorong agar proklamasi cepat dilakukan lewat peristiwa Rengasdengklok. Tokoh seperti Soekarno dan Hatta yang masih 40 tahunan usianya sudah termasuk “golongan tua” saat itu. Dalam perjuangan dakwah Islam, Nabi Muhammad berusia 40 tahun saat diangkat menjadi Rasul Allah. Dan para sahabat beliau kebanyakan berusia 20-30 tahunan. Hanya sedikit yang usianya dekat dengan Nabi.

Maka bisa jadi pada usia muda ini adalah harapan bagi generasi muda untuk lebih besar berkontribusi dalam mengelola negeri ini, khususnya untuk propinsi Jawa Barat.

(5)

Last but not least, pada HADE ada senyawa PAN-PKS. Saya termasuk yang merindukan senyawa seperti ini. Para aktifis reformasi tahun 97-98 pasti merindukan hal yang sama. PAN dan PKS adalah dua partai di antara sekian partai lain yang lahir dengan semangat reformasi di negeri ini.

Semogalah kesuksesan di Jawa Barat membuat tokoh-tokoh PAN dan PKS semakin erat berkomunikasi dan bersilaturahim. Dari komunikasi ini cita-cita reformasi yang masih banyak PR-nya bisa diselesaikan lebih cepat lagi. Saya yakin PKS dan PAN masing-masing punya kelebihan dan bisa saling mengisi dalam menyusun berbagai rencana strategis membangun negeri ini ke arah lebih maju dan lebih baik lagi.

***

Masih banyak catatan tersisa dari pilkada Jabar, misalnya tentang langkah strategis apa yang mesti disiapkan HADE untuk membangun kepemimpinan yang smart dan efektif. Akan tetapi untuk tulisan tentang rahasia suskes HADE saya cukupkan sampai di sini dulu.

Untuk masyarakat Jabar, selamat atas terselenggaranya pilkada yang secara umum berjalan lancar dan aman. Semoga pilihan kita di bilik suara hari Ahad lalu berujung pada terpilihnya pemimpin yang betul-betul jujur, amanah dan siap bekerja keras untuk rakyat. Dan semoga Allah selalu melindungi kita semua. Aamiin.

Salam,

Adi Junjunan Mustafa


# warga Kota Bogor, yang jari kelingking kirinya masih berwarna biru tinta #

* Perhitungan total hasil pilkada baru akan disampaikan KPUD Jabar pada tanggal 22 atau 23 April 2008. Akan tetapi hasil quick-count beberapa lembaga survei menunjukkan angka yang hampir sama. Ini menjadi indikasi yang hampir pasti, insya Allah HADE akan muncul sebagai pemenang.

** Masih banyak faktor lain yang menjadi penyebab unggulnya HADE, termasuk kreativitas CREW HADE dalam memilih akronim “hade”; Sebuah akronim yang amat familiar pada telinga orang Sunda. Pilihan lima faktor pada tulisan ini semata atas dasar pertimbangan saya untuk memilih faktor-faktor terpenting di balik kemenangan HADE.

Kamus Kata
kokoreh = Bahasa Sunda, aslinya kata yang digunakan untuk menggambarkan kaki ayam yang sedang mencari makanan di tanah (kalau saya enggak salah *smile*).

sakatimu = Bahasa Sunda, seketemunya.

akhawat = Bahasa Arab, penyebutan bagi kader dakwah perempuan.