Hidayat Nurwahid (kanan) unjuk salam kepada dr Diana Abbas Thalib, saat acara pinangan di kediaman Diana di Kemang Selatan, Jakarta, Senin (14/4) malam.

JAKARTA – Ketua MPR Hidayat Nurwahid segera mengakhiri hampir tiga bulan masa menduda. Diana Abbas Thalib, yang Senin malam (14/4) dilamarnya, berprofesi sebagai dokter. Dia dikenalnya sebulan lalu lewat proses ta’aruf (perkenalan) yang diakui mantan presiden PKS itu mirip adegan dalam film Ayat-Ayat Cinta.

Saat ditemui wartawan kemarin, Hidayat tak bisa menutupi rasa gembira menyambut rencana pernikahan pada 10 Mei mendatang. Senyumnya terus mengembang saat belasan wartawan mengucapkan selamat di ruang kerjanya, Kompleks Parlemen Senayan. “Benar, berita itu bukan gosip. Memang sengaja dilakukan dan sama sekali tidak iseng,” katanya.

Staf pimpinan MPR dan beberapa petugas keamanan sempat menahan wartawan untuk tidak masuk ke ruang Hidayat. Beberapa pertanyaan dilayangkan kepada wartawan. “Ini mau meliput apa? Mau tanya soal apa?” tanya seorang staf.

Rupanya gelagat wartawan yang akan mengonfirmasi acara lamaran pada Senin lalu sudah ditangkap Hidayat. “Paling saya ditanya bagaimana proses ketemunya kan? Soalnya, sudah beberapa wartawan bertanya seperti itu,” ujarnya.

Penjelasan soal pertemuannya dengan dr Diana Abbas Thalib dimulai Hidayat dengan menyebut nama anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) Komisi VIII Yoyoh Yusro. Wanita itulah, kata dia, yang berjasa mempertemukan dengan calon istrinya. “Kira-kira sebulan lalu saya dikenalkan dengan beliau (dr Diana) oleh Bu Yoyoh Yusro,” tutur ketua MPR itu mengawali cerita.

Diana yang juga direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda Aliyah Pondok Indah, Jakarta, adalah salah satu murid mengaji Yoyoh. Pertemuan pertama dilakukan di rumah Yoyoh. Seperti proses ta’aruf dalam salah satu scene film Ayat-ayat Cinta, pertemuan tersebut dihadiri Hidayat, Yoyoh beserta suami, dan beberapa saksi. Di antaranya teman dr Diana bernama dr Femmy. “Di situlah pertama saya bertemu beliau (dr Diana, Red),” kata alumnus Pesantren Gontor, Jawa Timur, itu.

Setelah membaca pribadi masing-masing pada pertemuan pertama, Hidayat mulai mengomunikasikan figur calon istrinya itu kepada anak-anak, orang tua, dan mertua. Hidayat pulang ke Jogjakarta untuk menemui orang tua dan mertuanya. Gayung bersambut. “Pernyataan, pembicaraan, dan ekspresi mereka menyiratkan kalau mereka setuju,” ungkapnya dengan senyum mengembang.

Pertemuan antaranggota keluarga semakin intens. Bahkan, pertemuan terakhir terjadi Minggu (13/4). Saat itu Hidayat mengajak putra keempatnya, Hubaib Shidiqi, berkunjung ke rumah dr Diana di kawasan Kemang Selatan. Sore itu merupakan pertemuan pertama Hubaib dengan putra Diana, Nizar, 14. Ternyata keduanya mempunyai hobi yang sama. “Mereka (Hubaib dan Nizar) sama-sama suka Moto GP. Sama-sama suka Valentino Rossi dan suka sepak bola. Saya sendiri suka nonton balapan motor atau F1 di TV,” tambahnya.

Nizar adalah putra satu-satunya Diana. Empat tahun lalu wanita berdarah campuran Arab asal Pasuruan-Pekalongan berusia 42 tahun itu bercerai dari suaminya. Puluhan lamaran diajukan kepadanya, tetapi selalu berakhir tanpa pernikahan. “Beliau (dr Diana) mempertimbangkan perasaan putranya. Menurut beliau, sering putranya tidak setuju dengan calon ayahnya,” kisah Hidayat.

Setelah bertemu Hidayat dan putra keempatnya Minggu lalu, rupanya Nizar menemukan figur ayah dalam diri politikus asal Klaten, Jawa Tengah, itu. Waktu perkenalan yang hanya sebulan dirasa cukup untuk diproses ke jenjang lebih lanjut.

Meski terkesan buru-buru, rencana pernikahan itu sudah dianggap sangat mendesak bagi keluarga kedua mempelai dan para kolega Hidayat. Menurut Hidayat, desakan untuk segera menikah sudah santer diajukan kepadanya sejak istri pertama, Kastian Indrawati, meninggal dunia pada Januari 2008.

“Dua hari setelah istri saya meninggal, mertua saya sudah meminta agar saya segera menikah. Beliau juga mengerti agama. Laki-laki memang tidak ada masa iddah dalam Islam,” katanya.

Ditemui secara terpisah di rumahnya, Kemang Selatan IV, Jakarta Selatan, dr Diana mengaku tidak menyangka bahwa respons publik, khususnya media, atas rencana pernikahannya dengan Hidayat, begitu besar. “Nggak mengira bakal secepat ini. Padahal, acara hitbah (lamaran) kemarin cuma dihadiri keluarga dan teman dekat. Nggak tahu mengapa bisa jadi heboh begini,” katanya lantas tersenyum.

Menurut Diana, ayahnya dari Pasuruan dan ibu dari Jawa Tengah. “Tapi, sejak kecil saya tinggal di Jakarta,” ungkapnya.

Setelah lulus sebagai dokter umum dari Fakultas Kedokteran UKI (Universitas Kristen Indonesia) pada 1990, Diana mengambil gelar Magister Administrasi Rumah Sakit (MARSa) dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia.

Selain menjadi direktur rumah sakit, Diana sudah dua tahun aktif di Yayasan Rahmatan Lil Alamin. Yayasan yang berada di Jalan Batu Merah, Pasar Minggu, Jakarta, itu bergerak di bidang pendidikan dan keagamaan.”Saya menjadi ketua bidang sosial yang membawahi program operasi katarak dan website golongan darah rhesus negatif,” kisahnya.(Jawa Pos)

Ta’aruf dengan dr Diana Abbas Thalib, Calon Istri Ketua MPR

Oleh RIDLWAN-PRIYO

Sebelum Lamaran, Tukar Foto lewat Murobbi
Nama Diana Abbas Thalib mendadak terkenal setelah dilamar Ketua MPR Hidayat Nurwahid. Hari pernikahan pun sudah ditentukan bulan depan. Bagaimana sebenarnya proses perkenalan duda dan janda itu? Siapa sosok Diana?

—————————————————

Jika tak ada aral melintang, Ketua MPR Hidayat Nurwahid tiga pekan lagi mengucapkan ijab kabul di Masjid Baiturrahim, kompleks DPR. Calon istrinya adalah dr Diana Abbas Thalib.

Diana mengaku kenal dengan Hidayat baru tiga minggu lalu. “Sebelumnya, hanya ketemu di surat kabar saja,” ujar Diana saat ditemui Jawa Pos di rumahnya, Kemang Selatan IV, Jakarta Selatan, Selasa lalu (15/4) menjelang azan magrib.

Rumah Diana yang baru didiami satu tahun itu berlantai dua. Saat itu sebuah sedan Mercedes-Benz hitam terparkir di garasi. Di ruang tamu terpajang hiasan keramik dan hiasan gelas-gelas.

Alumnus Fakultas Kedokteran UKI itu juga mengaku tidak pernah mengenal istri Hidayat, Kastian Indrawati, yang meninggal dunia Januari lalu akibat terserang kanker tiroid.

Diana mengaku, proses perkenalan atau ta’aruf antara dirinya dan Hidayat difasilitasi murobbi-nya (guru mengaji) yang juga anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) Yoyoh Yusroh. “Saya diperkenalkan di rumah beliau di kawasan Pondok Bambu,” kata wanita 42 tahun yang sore itu tampak anggun dengan baju kurung biru dipadu jilbab merah marun.

Nama Yoyoh sangat kondang di lingkungan internal akhwat (kader wanita) PKS. Bisa dibilang wanita kelahiran 14 November 1962 itu adalah “ibunya” seluruh akhwat. Jika ada yang mempunyai masalah, Yoyoh, ibu 13 anak itu, menjadi rujukan untuk mencari solusi.

Jam terbangnya di dunia pengaderan PKS juga sangat tinggi. Dia ikut merintis pendirian Partai Keadilan di awal-awal 1998. Jumlah mutarobbi (murid binaannya) tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Bisa dikatakan jika seorang wanita muslimah sudah direkomendasikan oleh Yoyoh, kader pria PKS pasti tsiqoh (percaya) kualitasnya.

Hidayat memberikan teladan bagi kader-kadernya dengan menjalani proses sejak mengirimkan biodata (daftar riwayat hidup) melalui Yoyoh. Tahap itu merupakan tahap pertama jika ada seorang ikhwan (kader pria) PKS hendak meminang seorang akhwat. Biodata itu akan dibawa oleh murobbi si wanita untuk dibaca dan dipertimbangkan. Tak jarang, jika tidak sreg, biodata tersebut dikembalikan.

Namun, jika cocok, giliran si wanita setor biodata. Data diri plus foto itulah yang akan dipelajari calon laki-laki. Jika setuju, selanjutnya dilakukan fase taaruf. Yakni, bertemu dan saling menjajaki karakter masing-masing. Itulah yang dilakukan Hidayat saat mengajak anaknya, Hubaib, bersilaturahmi ke rumah Diana untuk kali pertama. Saat itu, Hubaib langsung akrab dengan Nizar Muhammad, anak Diana.

“Setelah semua terlihat tidak ada masalah dan mendukung, jawabannya iya, kami langsung khitbah atau lamaran,” jelas Diana.

Senin malam lalu (14/4), Hidayat dan rombongan secara resmi mengajukan pinangan disaksikan Ketua Majelis Syura DPP PKS (lembaga tertinggi di partai itu) KH Hilmi Aminuddin. Setelah pinangan tersebut diterima, kini kedua keluarga sedang mempersiapkan acara besar dan syukuran walimatul ursy (resepsi pernikahan). Selama menunggu waktu itu, Diana dan Hidayat tetap membatasi aktivitas pertemuan.

Dalam adab Islam juga dikenal istilah kufu atau unsur setara. Orang Jawa mengistilahkannya dengan bibit, bobot, bebet. Di PKS, kualitas calon mempelai biasanya juga setara. Terutama dari level jenjang aktivitas kepartaiannya.

PKS menganut jenjang bertahap sejak level kader mula, kader muda, kader madya, kader dewasa, kader ahli, dan kader purna. Seorang ikhwan yang sudah memperoleh level kader madya biasanya mengajukan kriteria calon muslimah yang berada di level yang sama. Minimal dari sisi hafalan Alquran-nya. Jika Hidayat sudah mendapat predikat kader ahli, bisa dikatakan kualitas Diana setara dengan muslimah berjenjang yang sama.

Benarkah? Ditanya seperti itu, Diana menjawab rendah hati. “Waktu itu, saya berpikir simpel saja. Sebuah kehormatan bisa bertemu ketua MPR. Jadi, ekspektasi saya tidak terlalu tinggi supaya beban moralnya juga tidak terlalu tinggi,” ungkapnya.

Yang jelas, Diana siap menjadi istri politikus. Bahkan, bukan tidak mungkin calon ibu negara jika Hidayat maju dalam pilpres 2009. “Pada saat memutuskan beliau, tentu saya siap sebagai tugas istri pada umumnya, yaitu menjadi ibu rumah tangga dan mendukung setiap langkah suami,” tegasnya.

Diana saat ini berprofesi sebagai direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda Aliyah Pondok Indah. Setelah lulus sebagai dokter umum dari Fakultas Kedokteran UKI (Universitas Kristen Indonesia) pada 1990, dia mengambil gelar magister administrasi rumah sakit (Mars) dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia.

Selain memimpin rumah sakit, Diana sudah dua tahun aktif di Yayasan Rahmatan Lil Alamin. Yayasan yang berada di Jalan Batu Merah, Pasar Minggu, Jakarta, itu bergerak di bidang pendidikan dan keagamaan. “Saya menjadi ketua bidang sosial yang membawahkan program operasi katarak dan website golongan darah rhesus negatif,” katanya.

Dirunut dari silsilah keluarga, asal Diana adalah Pasuruan. Kakek Diana, almarhum M. bin Thalib, adalah tokoh yang disegani di kota itu. Bahkan, oleh warga di sekitar, semasa hidupnya sosok Abbas Thalib dikenal sebagai keluarga kaya yang dermawan.

Hingga sekarang, rumah Abbas Thalib masih berdiri kukuh di Jl Soekarno-Hatta 41, Kota Pasuruan.

Ketika didatangi wartawan Radar Bromo (Grup Jawa Pos) kemarin, rumah yang berdiri di atas lahan sekitar 5.000 meter persegi itu tampak lengang. Model bangunannya kuno.

Saat ini rumah tersebut ditinggali keluarga Fachir Thalib. Dia adalah adik kandung dr Abbas Thalib, ayah Diana. Berarti, Fachir adalah paman Diana.

“Kami memang menjaga rumah ini sebagai rumah sejarah keluarga besar M. bin Thalib,” kata Fachir kepada Radar Bromo kemarin.

Keluarga M. bin Thalib tergolong keluarga besar. Dari dua kali pernikahannya, M. bin Thalib punya 23 anak. Namun, 14 di antara 23 anak M. bin Thalib itu meninggal.

Fachir adalah anak ke-18 M. bin Thalib. Di antara anak-anak M. bin Thalib, hanya Fachir yang memilih tetap tinggal di rumah besar di Pasuruan itu bersama keluarganya. Tapi, meski dipisahkan jarak, komunikasi Fachir dengan kakaknya, Abbas, terjalin dengan baik.

Fachir juga sudah tahu bahwa Diana, keponakannya, akan menjadi istri Ketua MPR Hidayat Nurwahid. “Sebelum berita di koran, kami sudah mendengar kabar itu,” katanya. Fachir menceritakan, Diana lahir dan dibesarkan di Jakarta.

Ayahnya, Abbas Thalib, sudah hijrah ke Jakarta pada 1964. “Begitu lulus dari fakultas kedokteran, kakak saya, Abbas Thalib, memang sudah tinggal di Jakarta,” ceritanya.

Bapak enam putra itu sangat hafal sifat Diana. Putri kedua kakaknya itu terkenal ringan tangan. Diana sangat peduli sama keluarga, atau orang-orang sekitar. Dia juga periang. “Yang paling menonjol adalah sifat mandirinya,” katanya.

Hal itu dibenarkan Adib, putra Fachir. “Meski dia di Jakarta, kami sangat intens berkomunikasi,” kata pria 34 tahun itu. “Kalau libur, Kak Diana sering pulang ke Pasuruan,” lanjutnya.

Rumah besar yang ditinggali keluarga Fachir itu bisa menampung banyak orang. Terdapat lima kamar utama masing-masing berukuran sekitar 5 m x 9 m. Belum lagi, tiga paviliun yang siap pakai. Tapi, kini terpaksa kosong karena penghuninya hanya sedikit.

Beberapa warga Pasuruan mengenal keluarga besar M. bin Thalib sebagai orang kaya dan terpandang. “Mereka keturunan keluarga kaya. Ya, kalau zaman hidupnya, almarhum Yik bin Thalib itu paling kaya di Pasuruan,” ungkap Bambang Sugeng, warga Jl KH Abdul Hamid, Pasuruan. Di masa hidupnya, kakek Diana dikenal sebagai pemilik sarang burung walet.

Soal rencana pernikahan Diana dengan Hidayat Nurwahid, Adib bersama kakaknya, Hanief, ikut gembira. “Kami sangat menghargai pilihan Kak Diana. Dan, kami yakin, itu yang terbaik untuk dia dan keluarga,” ungkap Adib.

Kini keluarga besar Diana di Pasuruan hanya tinggal menunggu undangan. Bila benar, rencana menikah dipastikan 10 Mei, mereka berjanji akan datang. (Jawa Pos)