Oleh Gombang Nan Cengka

Bayangkan Anda menggunakan satu kunci yang sama untuk semua pintu di rumah Anda. Tidak tanggung-tanggung, kunci yang sama juga dapat digunakan pada semua lemari dan kendaraan Anda. Kalau ada penjahat yang berhasil mencopet kunci tersebut, dia bisa memasuki semua ruangan rumah, membuka lemari dan mencuri semua kendaraan yang Anda punyai.

Pada praktiknya ini tidak pernah terjadi. Kita biasanya membuat kunci yang berbeda-beda untuk setiap kamar, lemari, pintu depan, dan bela- kang rumah. Mobil dan sepeda motor juga mendapat kunci mereka masing-masing. Namun menurut hasil survei yang dilakukan Accenture, perilaku dalam kehidupan sehari-hari ini tidak terjadi di jaringan web.

Pada survei yang dilakukan di Inggris Raya tersebut, seperti yang dikutip Associated Press, ditemukan hampir setengah responden menggunakan password (kata sandi) tunggal untuk semua akun online mereka. Pada hampir semua situs web, kata sandi merupakan padanan kunci di dunia fisik. Kata sandi merupakan pengaman, yang mencegah akses pada hal-hal yang tidak dibolehkan untuk orang yang tak berhak.

Pada saat yang sama 88% dari 800 orang yang diwawancarai dalam survei tersebut mengatakan bahwa keteledoran merupakan sebab kunci pencurian identitas.

Para peneliti menyebutkan bahwa fakta ini agaknya menunjukkan para pengguna meremehkan ancaman dari organisasi penjahat cyber internasional, yang memperoleh keuntungan? besar dari penjualan identitas curian.

“Banyak orang tidak menyangka bahwa ada masalah,” kata Robert Dyson, eksekutif senior praktek sekurit Accenture. Menurut Dyson, karena menurut pemakai identitas mereka belum dicuri, dan mereka tidak mengenal orang yang mengalaminya, berarti masalah itu tidak ada.

Pengelolaan password

Pengulangan kata sandi, seperti penggunaan kunci tunggal, mempermudah orang-orang yang berniat jahat. Dalam hal kejahatan online, orang yang berhasil membongkar satu akun dapat dengan mudah menebak kata sandi yang digunakan pada semua akun pengguna tersebut.

Alasan pengguna mengulangi kata sandi ini sederhana saja: agar mereka tidak lupa. Survei menunjukkan 70% responden di Inggris Raya menyebutkan mereka tidak mencatat kata sandi mereka.

Di Amerika Serikat angkanya lebih rendah, tetapi masih cukup banyak, yaitu 49%. Semua responden dalam survei tersebut menggunakan komputer di rumah, memiliki akses Internet berkecepatan tinggi, dan online minimal dua kali seminggu, selain memeriksa e-mail. Rata-rata usia pemakai adalah 46 tahun. Mar- gin kesalahan adalah 3,5 persen untuk semua responden.

Masalah mengelola kata sandi ini sebenarnya dapat dipe-cahkan dengan utilitas penge- lola kata sandi (password manager). Dengan utilitas ini biasanya kita cukup mengingat satu kata sandi saja (master password atau kata sandi utama).

Pengelola kata sandi akan secara otomatis memberikan kata sandi pada situs yang di-minta, asalkan kita sudah mengisikan kata sandi utama sebelumnya.

Pengelolaan kata sandi saat ini sudah secara otomatis diintegrasikan dalam sistem operasi milik Apple Inc, Mac OS X. Sistem operasi paling populer di komputer pribadi saat ini, Microsoft Windows, belum memilikinya. Namun, utilitas pengelola kata sandi sudah banyak tersedia dari pihak ketiga. Pengelolaan kata sandi juga tersedia buat browser alternatif Mozilla Firefox.

Saat ini cukup banyak komputer jinjing yang sudah dilengkapi dengan pembaca sidik jari. Metode biometri ini merupakan alternatif lain yang lebih mudah, dan umumnya juga dapat digunakan dengan pengelola kata sandi.

Masalahnya, survei Accenture tersebut menemukan bahwa hanya 7% dari total res- ponden yang menggunakan pengelola kata sandi atau pembaca sidik jari. (redaksi@bisnis. co.id)

Gombang Nan Cengka, Kontributor Bisnis Indonesia. (Bisnis Indonesia)