Kisah tragis PKL vs SatPol PP terus berlanjut. Di berbagai daerah penertiban dan pengamanan PKL oleh SatPol PP menjadi cerita yang memilukan. Mereka yang berprofesi PKL menjadi ‘penjahat’ di hadapan para SatPol PP yang berprofesi ‘melaksanakan Perda’.

Apakah para pembuat Perda tidak melihat bahwa PKL adalah manusia juga yang mempunyai ‘Human Right’?
Tidakkah dipikirkan bahwa mereka juga harus mengais rezeki demi ‘resiko dapurnya’, demi kebutuhan hidup keluarganya. Seandainya mereka menurut Perda di ‘vonis’ melanggar ketertibaban umum dan keamanan, selayaknya Pemda memikirkan ‘resiko dapur’ mereka. Jangan memperlakukan para PKL sebagai ‘penjahat’ atau ‘pengacau’ tetapi tidak memberikan solusi, mereka juga perlu makan.

Haruskah demi ‘Adipura’ ada orang-orang yang kelaparan karena tidak bisa mengais rezeki, karena dagangan mereka ‘diangkut’ ? Sungguh ironis!
Berilah mereka (para PKL) solusi! Jangan perlakukan mereka seperti ‘penjahat’! Jangan sampai mereka berputus asa sehingga ‘gelap pikiran’.

Jabatan, Kekuasaan, Wewenang adalah Amanah. Bukan hanya mengemban amanah dari rakyat, tetapi amanah dari Allah Swt. yang telah menciptakan manusia sebagai ‘ahsani takwiim’ (sebaik-baik bentuk ciptaan). Tetapi memang ‘tsumma rodadnaahu asfala saafiliin’ (Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya / kerak Neraka).

Salah satu yang di jamin masuk syurga adalah pemimpin yang adil, yang amanah, yang membela kepentingan rakyatnya. Seperti kisah di jaman Khalifah Umar ibnu Khatthab r.a., ketika salah seorang gubernurnya dianggap berbuat dzalim kepada salah seorang yahudi (rakyatnya) karena menggusur rumahnya untuk pembangunan sebuah Masjid. Si yahudi mengadu ke Khalifah Umar r.a. tentang kedzaliman itu, dan Khalifah meresponnya dengan cepat. Di suruhlah si yahudi membawa tulang yang diberi garis lurus oleh torehan pedang Khalifah Umar r.a. untuk diberikan kepada sang gubernur. Betapa ketakutannya sang gubernur ketika menerima tulang tersebut, dan dikembalikannya hak si yahudi. Mengapa ? Karena maksud goresan pedang ditulang itu adalah kurang lebih ” Berlaku adillah dalam memegang jabatan/kekuasaan! Kalau tidak akan aku luruskan dengan pedang ini!”

Demikianlah kisah pemimpin atau orang-orang yang amanah di masa lalu, tetapi sekarang memang itu adalah barang yang langka! Entah masih ada atau tidak. Wallahu ‘alam..!
Kalau tidak bisa berlaku adil atau membela mereka yang lemah, rakyat yang susah, maka bersiaplah para penguasa, pemegang jabatan untuk ‘tsumma rodadnaahu asfala saafiliin’. Itu adalah resiko, konsekwensi yang logis!

Janganlah terperdaya oleh dunia yang hanya ‘main-main dan senda gurau belaka’. Berlaku adillah !
Berilah kepedulian kepada kaum mustad ‘afiin (kaum yang lemah atau dilemahkan oleh sistem kapitalis). Berlaku adillah kepada rakyat, termasuk kepada para PKL yang dianggap ‘pengacau’ karena melanggar Perda, mengganggu ketertiban umum atau tidak mempunyai idzin berdagang.
Berilah solusi bagi mereka, jangan menambah masalah bagi mereka! Solusi mensejahterakan rakyat (termasuk PKL) lebih penting daripada sekedar ‘Adipura’. Atau bersiap-siaplah masuk Neraka..!
Wallahu ‘alam…