Oleh Edy A. Effendi

Angin pagi dan rintik hujan membasahi lapangan Simpruk, Kompleks Pertamina, Kebayoran Lama. Sosok lelaki berbadan tegap itu menatap dengan nanar lapangan sepak bola yang dilumuri rintik hujan. Dia biarkan kumis dan jenggotnya tak beraturan, dengan tinggi badan 175 cm dan berat 65 kg. Juga rambutnya yang panjang.

“Kita pulang saja. Cuaca tak memungkinkan kita latihan pagi ini,” ujarnya lirih, sambil membuka pintu mobilnya. Mobil Troover tahun 1992 warna metalik itu pun bergerak perlahan. Dan di antara deru mesin mobil, juga tegur sapa para penjaja koran, sayup-sayup terdengar nyanyian:

Hutanku rusak langitku bocor makanan yang aku makan tercemar … Suara dalam lirik lagu Hijau yang agak berat dan parau itu keluar dari lelaki bernama Virgiawan Listanto , yang lebih dikenal dengan Iwan Fals itu.

Lagu dan album Hijau itu, yang ia buat hanya beberapa jam, konon album termahal yang pernah ada dalam industri musik kita. Kabarnya album Hijau itu laku Rp 300 juta. “Entahlah. Aku nggak tahu kalau sudah masuk ke persoalan itu. Laguku laku atau tidak, itu soal kedua. Yang pertama, fungsiku mencipta dan menyanyikannya,” tutur Iwan ketika didesak soal kebenaran angka jutaan pada album Hijau.

Sosok Iwan Fals memang tak bisa lepas dari rimba perbincangan musik Indonesia kontemporer. Terutama syair yang ia tebarkan ke wilayah publik, yang selalu diwarnai kegalauan, kegamangan jiwa, dan pemberontakan hati nurani yang tulus terhadap gejolak yang ada di sekitarnya. Dan respons yang ia berikan, adalah jelmaan dari pengembaraan hati nurani yang jujur, tanpa pretensi dan gangguan beban dari kekuatan yang ada di sekelilingnya.

Maka, tak heran, akibat kejujuran yang ia sebar melalui syair-syairnya itu, Iwan sering berbenturan dengan “tembok-tembok kekuasaan”. Ia pun “dicekal” di mana-mana. Puncak perbenturan itu terjadi pada 1989, saat tur pertunjukkan 100 kota Iwan digagalkan oleh Kapoltabes Palembang.

Air mata Iwan pun menggenang saat membuka lembaran kelabu di tahun 1989 itu. Dan ia mendesah dengan suara yang agak parau, “Buatku sungguh aneh. Aku kan cuma bawa gitar kayu dan tali senar. Tak ada bahayanya dibanding tank,” ujarnya ketika menutup pintu mobil, sambil mempersilakan kami berbincang di ruang tamu rumahnya, di kawasan Bintaro. Di Garasi rumah itu, tampak mobil lain Iwan, Daihatsu Taft, warna biru.

Pemegang Dan II Karate ini cuma ingin bersaksi bahwa lirik lagu yang ia ciptakan bukan anggur atau jeantonic yang dapat memberikan kenikmatan bagi peminumnya, melainkan hanya setetes air putih –penyuci akal yang tanpa hati. Dan ia tak berpretensi apa-apa. “Kalau mau dicekal, silakan saja. Tapi itu tidak akan mence~kal imajinasi dan kreativitasku,” papar Iwan dengan nada tegas.

Bagi suami Rossana (36), serta ayah Galang Rambu Anarki (14) dan Anisa Cikal Rambu Bassae (11), kejadian itu memberikan kekuatan baru dalam menapaki garis hidup yang ia tempuh –garis hidup di jalur musik. Sosok yang pernah diklaim sebagai Bob Dylan-nya Indonesia ini makin yakin bahwa musik adalah sesuatu yang serius dan penuh dengan irama kehidupan yang menghentak.

Ziarah Batin. Kehidupan jalanan membawa Iwan terdampar di setiap lembah yang penuh kemuraman. “Aku sempat terbuai minuman, mabok-mabokan, dan ganja. Tapi itu dulu. Hanya saja aku selalu menemukan jalan keluar. Hubunganku dengan Dia lebih kuat dari semuanya. Aku bisa nangis dan sujud sama Dia,” ujar Iwan. Sekarang? “Ya, tidak rutin-lah. Sekarang perutku agak tidak tahan dengan minuman.”

Iwan merasakan betul sentuhan batin Rendra. “Aku lebih baik dibilang terpengaruh Mas Willy (panggilan akrab Rendra –Red. ) ketimbang siapa pun, termasuk Bob Dylan.” Iwan memang pernah terlibat di Bengkel Teater Rendra. Menurut Iwan, “Mas Willy dan teman-teman Bengkel Teater juga memberi ingatan perihal detail dan soal kedalaman pada lagu-laguku.”

Memasuki paruh tahun 1990-an, Iwan kelihatan makin “alim”. “Aku mulai shalat. Meski masih cemang-cemong (bolong-bolong), ya.. paling tidak shalatku merupakan bagian kontemplasiku,” ungkap penyanyi yang menjadi idola anak muda ini. Hanya saja, sampai sekarang, menurut pengakuan Iwan, ia masih sulit bangun pagi untuk shalat Subuh.

“Yos –panggilan sang istri– yang rajin shalat. Bahkan, untuk kegiatan lain, seperti setiap Senin sore, di rumah ada guru mengaji, aku nggak ikut. Hanya Yos, Galang, dan Cikal saja. Kalau aku ikut, bisa-bisa aku yang ngajarin guru ngaji untuk nyanyi,” ucapnya, diiringi derai tawa dan kepulan asap rokok kretek Djarum 76-nya.

Dunia Ngamen. Lewat pergulatan panjang dan benturan-benturan hidup yang dilaluinya, Iwan Fals, yang dilahirkan 3 September 1961 di Jakarta, dan menikah pada usia 19 tahun, menjalani hidup penuh kontroversi.

Anak kelima dari sembilan bersaudara pasangan Kol (Purn.) Harsoyo dan Lies ini meminati dunia tarik suara sejak masa kanak-kanak. Harmonika yang diberi oleh uyut , neneknya ibu, adalah awal perkenalan Iwan dengan perangkat musik. Ia pun menyanyi dan mencipta syair lagu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Tamat SD, ia sempat mukim di Jeddah, selama 9 bulan, mengikuti orang tua angkat. “Aku sempat sekolah di sana. Muridnya cuma tiga. Karena muridnya sedikit, aku nggak bisa nyontek . Bosan, dan akhirnya kembali ke Indonesia,” papar Iwan sambil bercanda.

Di bangku SMP 5 Bandung, gitar hadiah orang tuanya juga memberi andil dalam perjalanan hidup Iwan. “Dunia ngamen aku jalani ketika masih duduk kelas satu SMP. Itu karena uang saku bulanan cuma Rp 10.000. Itu kurang sekali waktu itu. Terpaksa ngamen . Dari pagi sampai magrib bisa dapat Rp 4.000. Lalu keterusan,” aku Iwan mengenang masa lalunya.

Suatu ketika ia ngamen di kompleks Akabri, Jalan Sahardjo, Jakarta, di saturumah yang ramai oleh ibu-ibu arisan, Iwan tersentak. Ternyata ibunya salahsatu dari peserta arisan di kompleks Akabri tersebut. Ia pun dihardik.

Namun ayahnya mendukung aktivitas Iwan. “Aku dapat dukungan dari Bapak, meski mulanya dia juga nggak suka. Dia nanya , apa aku yakin dengan jalan hidup yang kuambil. Aku bilang, ‘Ya.'”

Usai SMP, Iwan sempat mengenyam SMA di Yogyakarta, meski akhirnya menyelesaikan di ibu kota pada tahun 1979. Dan ngamen jalan terus. “Aku pernah disiram kopi panas, ketika ngamen di daerah Bandung. Ya.. aku terima saja. Kita kan nggak diundang. Harus siap menghadapi risiko,” kenang Iwan sambil mengumbar senyum.

Iwan pun sempat menikmati bangku kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik, Jakarta (kini IISIP) –tak selesai– sembari terus ngamen . Sejak di sarang wartawan inilah namanya mulai menghiasi halaman media massa. Dan album pertamanya, Oemar Bakri (1981), meledak.

Suara azan di siang hari ikut serta menyemarakkan perbincangan kami. Yos bergegas ke kamar mandi, membasuh wajah dan menyucikan bagian badannya yang lain, untuk shalat Zuhur. Cikal pulang sekolah. Dan Galang, sudah empat hari tak terlihat di rumah. Dua pembantunya, mondar-mandir. Sementara di luar rumah, dua orang pekerja kebun memunguti daun-daun yang berserakan di taman, sambil memangkas ranting-ranting pohon.

“Meski rumah kontrakan, aku betah. Insya Allah, enam bulan lagi kami pindah ke rumah sendiri, di Desa Leuwiang, Pondok Gede,” ungkap Iwan, yang sedang membangun rumah bertingkat dua di area tanah seluas 3.000 meter. Ia ingin tenang menjelang pemilu. Menyaksikan perubahan. “Banyak orang bilang aku Golput. Padahal setiap pemilu, aku tusuk semua gambar kontestan yang ada. Karena kebetulan aku suka warna dasar kuning, hijau, dan merah…,” gurau Iwan, menutup perbincangan kami.(Rileks.com)