Prancis memimpin walk out (tinggalkan ruangan) dari siang Dewan Keamanan (DK) PBB yang membahas masalah Timur Tengah, setelah Libia membandingkan situasi di Jalur Gaza, yang terkepung, sama dengan kamp konsentrasi Nazi Jerman.

Seorang diplomat, yang tak mau disebutkan jatidirinya, mengatakan Duta Besar Prancis Jean-Maurice Ripert melepaskan alat pendengarnya dan berjalan ke luar, lalu diikuti oleh rekan-rekannya dari negara-negara Barat, setelah Dubes Libia, Giadalla Ettalhi mengeluarkan pernyataan tersebut.

“Duta Besar Libia (Giadalla Ettalhi) membandingkan situasi di Jalur Gaza dengan Holocaust Nazi,” kata seorang diplomat yang menghadiri pembahasan DK mengenai Timur Tengah. “Setelah itu, utusan Barat berdiri dan meninggalkan ruangan sebagai protes.”

Di antara diplomat utama yang meninggalkan ruang sidang DK adalah utusan dari AS, Prancis, Inggris, Belgia dan Kosta Rika. Sementara utusan lain tetap tinggal di dalam ruangan.

Peristiwa itu terjadi saat DK PBB, yang memiliki 15 anggota, berusaha menyepakati pernyataan kompromi yang mestinya menyoroti situasi kemanusiaan pahit di Jalur Gaza, sementara juga memberi sumbangan secara positif bagi berbagai upaya untuk mencapai penyelesaian Palestina-Israel.

Duta Besar Afrika Selatan Dumisani Kumalo, Ketua DK bulan April, mengatakan kepada wartawan bahwa anggota Dewan tidak dapat menyepakati pernyataan tersebut.

Dalam beberapa bulan belakangan, DK telah beberapa kali berusaha dan gagal menyepakati pernyataan yang berhubungan dengan pengepungan Israel yang melumpuhkan Jalur Gaza sebagai reaksi atas penembakan roket dari pejuang Palestina yang bermarkas di Jalur Gaza.

Ettalhi mengeluarkan pernyataan tersebut selama pembahasan mengenai rancangan pernyataan yang diusulkan oleh Libia dan beberapa negara lain yang mestinya menyampaikan keprihatinan serius mengenai situasi kemanusiaan di Jalur Gaza.

Pejabat Inggris Karen Pierce mengatakan, “Sejumlah anggota Dewan terkejut dengan pendekatan yang dilakukan oleh Libia dan tidak percaya bahwa bahasa seperti itu akan bisa membantu memajukan proses perdamaian.”

Pada Januari, Israel menutup tempat penyeberangan perbatasan dengan Jalur Gaza sebagai tanggapan atas serangan roket Palestina terhadap Israel selatan.

PBB telah memperingatkan tindakan itu telah menimbulkan krisis kemanusiaan bagi 1,5 juta warga wilayah tersebut, yang kebanyakan bergantung atas bantuan asing. Enam juga orang Yahudi secara sistematis dibunuh oleh Nazi Jerman selama Perang Dunia II dalam peristiwa yang dikenal sebagai Holocaust. (Media Indonesia)