Oleh Adi Junjunan Mustafa

Filem Ayat-ayat Cinta (AAC) sudah membukukan suksesnya di pasaran. Tak kurang HNW (Hidayat Nur Wahid), SBY, JK dan para petinggi lain negeri ini ikut menyemarakan hadirnya filem cinta* bernuansa islami.

Saya sendiri termasuk yang menyambut senang hadirnya filem tersebut. Sambutan masyarakat Indonesia pada filem AAC menunjukkan bahwa pasar siap menyambut hangat gagasan-gagasan sineas dengan tawaran budaya islami. Ini bisa mengimbangi life-style kebarat-baratan yang lebih banyak diekspose lewat filem atau sinetron.

Di tengah sukses AAC ini, ada satu hal yang saya pikir mesti jadi pertimbangan penting buat para sineas dan budayawan muslim, yaitu agar para pemain filem atau sinetron bisa menampilkan kepribadian yang selaras pada saat main filem dan di luar filem. Terus terang buat saya AAC yang sukses itu menjadi semu dan bahkan palsu, saat kemudian melihat para pemeran Aisha, Maria dan yang lainnya tak berkerudung di keseharian.

Saya teringat tentang ucapan Rasulullah saw. saat ditanya para sahabat ketika beliau bercanda. Kata beliau, “… akan tetapi yang aku sampaikan adalah kebenaran.” Artinya dalam canda pun seorang muslim disunnahkan untuk tidak berbohong. Nah, sunnah ini mesti menjadi rujukan bagi para artis muslim dan muslimah. Semestinya mereka menjaga keselarasan kepribadian yang baik yang mereka tampilkan saat berakting dan dalam keseharian.

Hal yang sama saya pikir berlaku juga pada para produsen kerudung. Saat mereka memilih selebritis untuk pada iklan, sebaiknya diperhatikan betul kepribadian para selebritis itu. Saya perhatikan pada beberapa iklan kerudung Majalah Ummi, masih ada selebritis yang di keseharian tidak berkerudung tampil sebagai model. Saya berbaik sangka, barangkali ini adalah jalan dari para produsen kerudung untuk perlahan mengajak para modelnya akhirnya berbusana muslimah.

Ada beberapa permasalahan yang bisa ditampilkan memenuhi tuntutan peran dalam filem atau sinetron. Akan tetapi untuk masalah kerudung atau masalah menutup aurat, saya melihat mesti ada perlakuan yang berbeda. Menutup aurat bagi muslimah dan muslim bukanlah permasalahan sederhana. Ini adalah kewajiban penting, sebab terkait dengan jati diri pribadi dan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai agamanya.

WaLlaahu a’lamu bish shawwab.

Salam,
Adi J. Mustafa

* Saat berdiskusi dengan beberapa teman, ada yang bertanya di mana sih letak ayat-ayat cintanya? Tentu saja maksudnya adalah ayat-ayat Quran yang menjadi inspirasi cinta. Terus terang saya sendiri tidak menemukan kuatnya pesan ayat-ayat Quran ini dalam filem. Kalau membaca novelnya, buat saya ayat-ayat cinta itu justru terasa pada Maria saat membaca hafalan surat Maryam di trem. Atau bisa jadi, ayat-ayat itu tersirat pada semangat Fakhri belajar qira’ah sab’ah -sisi penting yang juga tak terasa dalam filem-. Lewat Syaikh yang mengajar qira’ah inilah Fakhri akhirnya bisa bertemu dengan Aisha.