Pemerintah menyiapkan skenario kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi rata-rata sebesar 28,7% untuk mengamankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2008. Dalam skenario itu, harga BBM bersubsidi akan dinaikkan per 1 Juni 2008. Dokumen yang beredar di kalangan anggota DPR menyebutkan, skenario kenaikan harga mencakup tiga jenis BBM bersubsidi,yakni premium naik Rp1.500 (33,33%) menjadi Rp6.000 per liter dari sebelumnya Rp4.500 per liter.

Solar naik Rp1.200 (27,90%) menjadi Rp5.500 per liter dari harga saat ini Rp4.300, serta minyak tanah menjadi Rp2.500 per liter, atau naik Rp500 (25%) dari harga sekarang Rp2.000. Berdasarkan dokumen itu, pilihan menaikkan harga BBM paling memungkinkan dari sisi administrasi maupun dampak sosial ekonomi dibandingkan opsi lain seperti penggunaan kartu pintar (smart card) dan pemberian subsidi terbatas.

Opsi menaikkan harga BBM rata-rata sebesar 28,7% pada Juni 2008 berpotensi menghemat anggaran hingga Rp21,491 triliun. Apabila ditambah sisa dana cadangan risiko APBN-P, total penghematan mencapai Rp25,877 triliun. Sebaliknya, apabila pemerintah tidak melakukan langkah apa pun (do nothing) terkait kenaikan harga minyak dunia,kekurangan pembiayaan APBN-P 2008 akan mencapai Rp31,5 triliun.

Dalam dokumen itu diungkapkan, dana penghematan Rp25,877 triliun akan didistribusikan sejumlah pos, antara lain pembiayaan program bantuan langsung tunai (BLT) Rp11,5 triliun, dan tambahan cadangan risiko Rp3 triliun. Kemudian pengurangan defisit 0,2% produk domestik bruto (PDB) menjadi 1,9% sebesar Rp8,37 triliun,dan tambahan anggaran beras untukwargamiskin(raskin) Rp3triliun.

Dikonfirmasi mengenai hal itu, Menteri Negara PPN/ Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan bahwa pemerintah belum memutuskan kenaikan harga BBM bersubsidi pada 1 Juni 2008. ”Ah, kata siapa itu? Sampai sejauh ini,kita belum ada opsi kenaikan harga BBM bersubsidi,” ujarnya di Gedung Bappenas Jakarta kemarin. Di tempat terpisah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan bahwa pilihan menaikkan harga BBM bersubsidi merupakan opsi terakhir pemerintah.Pemerintah akan mengkaji secara hati-hati opsi tersebut.

”Saya ingin kita semua melakukan analisis dampaknya (kenaikan BBM) dan bagaimana menanggu langinya,” ujar Presiden seperti dikutip Ketua Umum Kadin Indonesia MS Hidayat di Kantor Kepresidenan, Jakarta, kemarin. Kadin bertemu Presiden SBY untuk mempresentasikan usulan dunia usaha tentang kebijakan peningkatan produksi pangan,energi, dan mineral.

Menurut Hidayat, Kadin berharap pemerintah menaikkan harga BBM maksimal 30% dan dilakukan sekaligus. Kenaikan harga BBM, kata Hidayat, telah dihitung secara matang dan sudah dibahas secara informal di antara para menteri terkait. ”Menaikkan harga BBM,saya kira, 100% merupakan keputusan politik. Karena ini keputusan politik, menteri tidak ada yang berani ngomong,” ujarnya. Pemerintah saat ini sedang menganalisis dampak kenaikan harga BBM.

Hidayat mengatakan, kenaikan harga BBM sulit dihindari karena dengan harga minyak dunia yang mendekati USD120 per barel, subsidi akan membengkak hingga Rp260 triliun.” Ini merupakah hal yang tidak mungkin lagi terpikul oleh pemerintah,”katanya. Menurut Hidayat, berbagai program penghematan seperti diversifikasi minyak tanah ke gas dan pemberlakuan smart card pun tidak akan mampu mengubah secara signifikan subsidi dalam APBN.

”Kami meminta kita bersikap realistis.Tapi,kalau toh dilakukan sekaligus (kenaikan BBM) saya minta kepada Presiden agar kelompok masyarakat miskin diberi bantuan tunai langsung,”katanya. Di tempat lain,Wakil Ketua Panitia Anggaran (Panggar) DPR Harry Azhar Azis mengharapkan pemerintah mempertimbangkan opsi kenaikan harga BBM bersubsidi. Kenaikan harga minyak dunia yang terus berlanjut bisa mengancam daya tahan APBN-P 2008.

”Dengan catatan bahwa penghematan yang diperoleh pemerintah dari kenaikan tersebut dialokasikan seluruhnya untuk menjaga kestabilan masyarakat berpenghasilan rendah,”ujar dia. Pengalokasian anggaran untuk masyarakat miskin itu dapat dilakukan dengan memperbesar BLT dan raskin. ”Jangan dulu dialokasikan ke sektor lain, fokuskan ke situ (masyarakat miskin),” katanya.

Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) UI Chatib Basri mengatakan,kenaikan harga BBM bersubsidi perlu segera dilakukan.Sebab, saat ini pemerintah dituntut mampu membiayai pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Namun,Chatib menyarankan agar kenaikan harga BBM tidak terlalu tinggi.Tujuannya agar bisa disesuaikan dengan daya beli masyarakat.

” Paling tidak 10% atau 20%. Kalau 10% kita bisa hemat Rp9 triliun,kalau 15% bisa hemat Rp20 triliun,” ujarnya. Menurut Chatib, selain bisa menghemat anggaran, kenaikan harga BBM juga berpeluang menekan konsumsi berlebih. Kenaikan juga berpeluang menekan praktik penye lundupan BBM bersubsidi.

Spekulasi

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu mengatakan, harga minyak Indonesia di pasar internasional (Indonesian crude price/ ICP) sepanjang kuartal I 2008 mencapai USD103 per barel. Bagi Anggito, saat ini harga minyak dunia mengandung unsur spekulasi dan tidak seluruhnya mencerminkan keseimbangan harga antara permintaan dan penawaran.

‘’Harga yang terjadi saat ini karena faktor spekulasi dan rumor.Sebenarnya tidak mencerminkan kondisi fundamental, meskipun akhirnya spekulasi yang jadi,’’ kata Anggito di Jakarta kemarin. Untuk itu, pemerintah terus melakukan berbagai simulasi sesuai dengan perkembangan di pasar dunia. ‘’Pokoknya semua antisipasi kami lakukan. Semua perhitungan juga kami lakukan. Kami lakukan berbagai simulasi sesuai perkembangan,’’ ujarnya.

Anggito meragukan ramalan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bahwa harga minyak bisa mencapai USD200 per barel tahun ini.Menurut dia,angka itu mengandung unsur spekulasi.‘’ Ya tidak mesti begitu juga. Karena penjual juga tergantung konsumennya. Kalau pembelinya tidak mampu beli, tidak mungkin menjual tinggi-tinggi,’’ katanya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah hingga kini masih konsisten menjalankan opsi-opsi pengamanan yang ditetapkan APBN-P 2008, kendati harga minyak dunia sudah menembus USD119 per barel.‘’Pokoknya sama dengan pengamanan APBN-P yang sudah pernah dijelaskan kemarin-kemarin,’’ kata Sri Mulyani.

Sementara itu, untuk menyikapi kenaikan harga minyak dunia, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan melakukan sejumlah upaya seperti menekan konsumsi,merasionalkan harga, dan meningkatkan produksi minyak dalam negeri.Namun,upaya peningkatan produksi minyak ini masih terhambat oleh beberapa faktor,di antaranya masalah fiskal, lingkungan, otonomi daerah, kehutanan, dan yang paling utama adalah tank top.

”Tank top itu produksi minyak kita yang tidak bisa kita lift, tapi ada dalam storage. Tank top itu produksinya terus berjalan, tetapi tidak ada kapal (tanker) yang mengambil, tidak ada yang membeli,” ungkap Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam keterangan pers seusai rapat koordinasi produksi minyak dan gas di Kantor Wakil Presiden, Jakarta,kemarin.

Dalam rapat yang dipimpin oleh Wakil Presiden M Jusuf Kalla ini Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (BP Migas) melaporkan, jika setengah dari tank topbisa diangkat (lifted), maka Indonesia akan memperoleh tambahan produksi minyak sekitar 30.000 barel per hari. Selanjutnya, produksi minyak tambahan tersebut bisa dimasukkan dalam penerimaan negara. (Koran-Sindo)