Oleh Iman Sugema

Masih ingat polemik mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak pada 2005, di mana sekelompok ekonom menyatakan jika harga BBM dinaikkan, jumlah orang miskin akan turun? Pendapat mereka ternyata salah, karena jumlah orang miskin justru meningkat.

Skenario dan argumentasi yang hampir mirip saat ini dikembangkan oleh tim ekonomi Kabinet Ekonomi Bersatu untuk mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar segera memutuskan kenaikan harga BBM. Mereka tentu tidak menunjukkan lagi bahwa kemiskinan akan berkurang dengan kenaikan harga BBM.

Yang ditunjukkan adalah jika harga BBM tidak dinaikkan, pertumbuhan ekonomi akan jeblok, defisit APBN akan membengkak, inflasi tidak terkendali, suku bunga harus dinaikkan, dan rupiah akan terdepresiasi. Apabila harga BBM dinaikkan, kondisi sebaliknya yang terjadi. Aneh, bukan?

Sebagaimana berita utama Bisnis Indonesia (Rabu, 30 April), skenario tanpa kenaikan harga BBM adalah inflasi menjadi 13,2%, SBI 3 bulan 12%, pertumbuhan ekonomi 5,8%, defisit anggaran 2,5%, dan nilai tukar menjadi Rp9.600 per dolar AS.

Apabila harga BBM dinaikkan, indikator ekonomi diskenariokan akan membaik, yakni inflasi turun menjadi 11,1%, SBI 3 bulan juga turun menjadi 8,5%, pertumbuhan ekonomi me-ningkat ke 6%, defisit turun menjadi 1,9%, dan nilai tukar menguat ke Rp9.000/dolar AS.

Kok bisa ya? Dari mana angka-angka itu diambil?

Beberapa komentar

Ada beberapa komentar mengenai hal ini. Pertama, kenapa angka yang diungkap menjadi begitu jauh dengan angka dalam APBN-P 2008? Padahal, APBN-P 2008 baru saja disetujui beberapa minggu lalu.

Sudah banyak hal tentu yang mengalami perubahan, terutama mengenai inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga berbagai komoditas, khususnya pangan.

Namun, itu juga menunjukkan bahwa APBN tidak pernah dibuat serealistis mungkin. Angka-angka APBN selama tiga tahun terakhir ini cenderung terlalu optimistis.

Kedua, yang paling mengherankan adalah angka inflasi, di mana dalam skenario kenaikan harga BBM akan lebih rendah 2,1% dibandingkan dengan skenario tanpa kenaikan harga. Boleh Anda tanya kepada ekonom mana pun yang bukan ekonom pemerintah mengenai hal ini.

Jawabannya inflasi pasti akan lebih tinggi jika harga BBM dinaikkan. Bahkan, teman saya, yang lulusan IAIN Jurusan Fiqih sekalipun, memandang angka skenario itu tidak masuk akal.

Inflasi dihitung berdasarkan perkembangan harga di tingkat konsumen akhir, yaitu indeks harga konsumen. Tidak masuk akal ketika kenaikan harga minyak mentah dunia tidak dibebankan kepada konsumen secara langsung kemudian akan tercipta inflasi yang lebih tinggi. Lantas dari mana sumber inflasinya?

Dari data yang sama, diskenariokan pula bahwa suku bunga akan dinaikkan menjadi 12%. Ini sama sekali tidak konsisten dengan angka inflasi.

Teorinya, kalau suku bunga dinaikkan, inflasi akan turun, bukan! Setiap kenaikan suku bunga akan memberikan efek kontraksi terhadap perekonomian yang pada gilirannya meredam inflasi.

Namun, itu pun harus dilakukan secara hati-hati. Hal ini karena suku bunga tidak bisa digunakan untuk meredam kenaikan harga yang didorong dari sisi supply.

Kalau minyak tanah langka dan pangan hilang dari pasaran, suku bunga tidak akan mampu mencegah kenaikan harga di tingkat konsumen.

Dalam situasi seperti sekarang, saya cenderung menyarankan agar tidak menggunakan suku bunga sebagai alat untuk meredam inflasi. Kebijakan moneter sama sekali tidak relevan karena inflasi tidak tertangani, sedangkan efek kontraksinya berpotensi memperparah situasi.

Ketiga, tidak masuk akal mengasumsikan depresiasi nilai tukar kalau harga BBM tidak dinaikkan. Keadaan sekarang sudah jauh lebih berbeda dibandingkan dengan pada 2005.

Walaupun akan melambat, ekspor masih akan lebih tinggi dibandingkan dengan impor. Neraca pembayaran dan cadangan devisa masih pada posisi jauh lebih baik dibandingkan dengan pada pertengahan 2005.

Lagi pula, saat ini suku bunga dunia cenderung turun. Kondisi ini berbeda dibandingkan dengan pada 2005, di mana suku bunga dunia sedang mengalami tren kenaikan.

Posisi baik

Singkatnya, kita sedang memiliki posisi yang lebih baik untuk bisa melakukan stabilisasi nilai tukar. Terkecuali ada upaya terkoordinasi antara pelaku pasar dan tim ekonomi untuk menjerembapkan nilai tukar supaya ada justifikasi untuk menaikkan harga BBM.

Gonjang-ganjing nilai tukar dan pasar modal sering dijadikan sebagai alasan untuk melakukan langkah radikal yang merugikan rakyat kecil.

Keempat, mengapa diasumsikan pertumbuhan ekonomi akan lebih baik jika harga BBM dinaikkan? Bukankah kenaikan harga BBM akan mengurangi daya beli masyarakat yang pada gilirannya menggerus permintaan agregat?

Lagi pula, biaya transportasi umum akan meningkat yang secara langsung mengakibatkan harga di tingkat konsumen akhir melonjak. Artinya, ekonomi akan mengalami kontraksi, baik dari sisi permintaan maupun penawaran. Adalah tidak konsisten untuk mengasumsikan bahwa pertumbuhan akan membaik.

Kelima, mungkin yang paling bisa menjelaskan kejanggalan angka-angka dalam skenario itu adalah kenyataan bahwa tim ekonomi ingin memaksakan kenaikan harga BBM kepada Presiden Yudhoyono.

Namun, bagaimana sebuah keputusan yang sangat penting bisa dibuat dengan benar kalau angka-angka yang disodorkan tidak dibuat dengan penuh kejujuran profesi.

Kita masih ingat betul mengenai kejahatan intelektual pada 2005 yang menyatakan bahwa kenaikan harga BBM akan menyebabkan kemiskinan menurun. Akankah hal yang sama terulang kembali?

Iman Sugema, Senior Economist, InterCAFE, Institut Pertanian Bogor (Bisnis Indonesia)