Oleh Adi Junjunan Mustafa

Kalau kita perhatikan dengan seksama, akan kita dapati bahwa tayangan-tayangan televisi kita banyak merampas anak-anak dari dunianya. Anak-anak sangat sedikit mendapatkan tayangan yang pas dan cocok dengan perkembangan kejiwaan mereka. Yang lebih memprihatinkan, dalam beberapa “acara anak” mereka justru tidak lagi menjadi anak-anak. Mereka dipaksa menjadi “orang dewasa”. Contoh hal yang terakhir disebutkan ini adalah pada acara “Idola Cilik” atau yang lebih kentara pada acara “Mama Mia”.

Pada dua acara di atas, anak-anak seringkali dipaksakan bergaya seperti orang dewasa, mulai dari berpakaian hingga make-up yang mereka pakai. Kemudian mereka pun seringkali menyanyikan lagu-lagu orang dewasa. Sebagai orang tua, apa kesan kita melihat anak-anak membawakan syair lagu seperti ini: O o kamu ketahuan, pacaran lagi, dengan si dia, teman baikku …? Kalau kita berpikir jernih, tentu kita merasa miris mendengar ini. Tapi, saksikanlah bagaimana para penonton acara live itu, termasuk juga para orang tua anak-anak yang sedang tampil; Mereka tertawa-tawa dan bersorak-sorai melihat dan mendengar anak-anak itu beraksi.

Pada acara “Mama Mia” eksploitasi anak-anak usia antara 12-15 tahunan juga terjadi. Acara tersuguh dengan mempermainkan kondisi kejiwaan remaja yang senang menjadi populer, senang meraih prestasi, dan bisa jadi -karena berbagai faktor pemicu- senang mendapatkan uang dalam jumlah besar. Pakaian yang dikenakan para kontestan dan lagi-lagi lagu-lagu yang dibawakan, banyak menyimpang dari nilai-nilai luhur yang mestinya dipupuk pada jiwa remaja.

Efek dari tayangan-tayangan di atas di masyarakat sungguh dahsyat. Acara-acara itu ditayangkan dalam alokasi waktu yang panjang. Waktunya pun pada jam-jam yang strategis (prime-time). Maka wajar kalau tontonan berjam-jam itu menyita perhatian banyak keluarga. Di dalamnya dikemas setting sedemikian rupa, sehingga para pemirsa turut hanyut dengan “perjuangan” para kontestan. Misalnya diperlihatkan bahwa para kontestan ini mesti berlatih keras, hingga mereka bisa mencapai “prestasi” dan tampil memukau.

Ketika menyaksikan acara-acara di atas, para penonton sudah sulit memfilter, bahwa yang sedang di”perjualbeli”kan pada tayangan itu adalah anak-anak dan remaja, yang semestinya dipelihara kepribadiannya untuk memiliki sifat-sifat mulia. Yang terjadi adalah putaran roda bisnis entertainment yang mewarnai atau menguasai obsesi orang tua dan anak-anak untuk memperoleh sukses di dunia pentas dan hiburan.

Acara seperti di atas meraih rating tinggi di dunia pertelevisian. Rating yang tinggi ini tentu memiliki nilai jual tinggi untuk mengundang iklan. Belum lagi acara seperti ini seringkali berkolaborasi dengan bisnis telekomunikasi lewat kiriman SMS. Tidak heran acara-acara serupa terus diproduksi. Dan sesuatu yang sering melintas dalam benak dan pikiran akhirnya menjadi obsesi dan nilai yang dianggap baik dan benar di tengah masyarakat.

Tanpa menjelaskan secara panjang lebar, pada tayangan-tayangan sinetron pun banyak ditemukan eksploitasi anak-anak. Sangat sedikit

***

Menghadapi kecenderungan terampasnya dunia anak lewat tayangan televisi, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan berbagai pihak:

1. Pihak Orang Tua
Orang tua mesti memberikan bimbingan kepada anak-anak pada saat mereka mulai tertarik dengan tayangan-tayangan yang tidak menguntungkan mereka. Kalau anak-anak punya bakat dan kecerdasan musikal, orang tua mesti bisa mengarahkan mereka. Akan tetapi ketika ada lagu-lagu yang belum layak mereka nyanyikan orang tua mesti memberikan pengertian yang benar kepada anak-anak.

Sementara itu, sedapat mungkin orang tua pun memberikan alternatif tontonan atau hal-hal lain yang bersifat menarik dan mendidik. Kalau memungkinkan, jadikan perhatian mereka pada membaca meningkat. Kalau anak-anak suka membaca, mereka tak akan menjadi orang-orang yang kecanduan menonton TV.

Kemudian menimbang fitrah anak yang sedang memiliki sifat suka dipuji dan ingin dikenal, maka orang tua dapat mengarahkan mereka pada prestasi-prestasi pada pelajaran, olah raga, seni dan lain-lain secara seimbang. Perkenalkan kepada anak-anak biografi orang-orang sukses yang banyak memberi manfaat kepada masyarakat dan dunia. Ini akan mengisi ruang kejiwaan mereka untuk mengukir prestasi pada kehidupan mereka kelak.

2. Pihak Pemerintah
Pemerintah, terutama yang mengurusi masalah pendididikan, informasi & komunikasi, agama, dan pemberdayaan perempuan, mesti memiliki sensitifitas tinggi dalam memfilter acara-acara yang mengeksploitasi anak-anak.

Pemerintah dapat mengeluarkan regulasi yang dapat melindungi anak-anak dari kerugian akibat tayangan TV tertentu atau malah mereka dilibatkan pada acara-acara yang merugikan.

3. Para Pendidik, Budayawan dan Seniman
Para pakar pendidikan dan budayawan mesti terus menyuarakan nilai-nilai luhur yang hendak dituju pada pendidikan anak dan remaja. Kritik yang sifatnya membangun tak boleh berhenti disampaikan mereka dalam menanggapi acara-acara yang ditujukan kepada dan melibatkan anak-anak.

Para seniman dan ilmuwan mesti bekerja keras menghadirkan acara-acara yang berorientasi pada kebaikan dan kecerdasan anak-anak. Contoh acara seperti acara iptek untuk anak, acara belajar menggambar, acara bina vokalia, mengenal permainan tradisional dan budaya anak-anak nusantara acara cerdas-cermat atau cepat-tepat dan lainnya patut untuk semakin banyak diproduksi. Begitu juga acara yang mengeksplorasi flora dan fauna, masalah lingkungan, ilmu pengetahuan populer dan lain-lain juga mesti banyak diproduksi.

4. Production House dan Pengelola TV
Para pengusaha dunia tayangan TV mesti memiliki visi yang jelas pada pangsa pasar anak-anak. Visi ini adalah visi mencerdaskan mereka. Ini mesti tercermin pada alokasi waktu khusus untuk tayangan anak-anak.

Seorang kawan saya yang lama tinggal di Amerika untuk studinya bercerita, bahwa di Amerika tayangan TV publik (non-TV kabel) untuk anak-anak itu jelas waktunya, yaitu sampai jam 6 sore. Anak-anaknya yang lahir di Amerika tahu bahwa sampai jam 6 itulah tayangan untuk mereka. Ini diperoleh melalui pendidikan di rumah dan di sekolah. Maka setelah anak-anaknya pulang ke tanah air, sudah menjadi refleks mereka untuk tidak menyetel TV setelah pukul 6 sore. Kalau pun seorang anaknya mengetahui ada tayangan sepak bola di malam hari, ia tidak akan menyetel TV kecuali setelah meminta ijin ayah atau ibunya.

Tentu saja untuk menghasilkan produksi tayangan TV yang berkualitas ini dibutuhkan kesadaran dan kreatifitas yang tinggi dari para pengusaha TV. Yang pasti mereka adalah juga orang tua dari anak-anak, yang tentu mereka ingin dorong meraih sukses dalam kehidupan. (adijm.muliply.com)