Oleh NAUFAL WIDI-PRIYO H.

SASONO Utomo di Kompleks Taman Mini Indonesia (TMII) Minggu (11/5) pagi lebih ramai dari biasanya. Pemeriksaan di pintu masuk TMII pun tak hanya mengecek tiket masuk. Para personel kepolisian berjaga-jaga di ujung-ujung jalan. Tak terkecuali beberapa anggota Paspamres (Pasukan Pengamanan Presiden) juga ikut mensterilisasi area tersebut.

Pagi itu, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid sedang melangsungkan akad nikah dilanjutkan resepsi pernikahannya dengan dr Diana Abbas Thalib. Untuk ukuran hajatan pejabat tinggi negara, pesta pernikahan itu tergolong sederhana. Tidak ada aksesori yang mencolok terpasang di sudut-sudut ruangan resepsi. Kursi pelaminan hanya dihiasi dengan untaian melati.

Kedua mempelai memilih memakai pakaian adat Melayu atau biasa disebut baju kurung teluk belanga dengan warna keemasan.

Keduanya bahkan melewati prosesi akad nikah dan walimatul ursy (resepsi) tanpa berganti kostum. Saat resepsi yang dimulai pukul 10.00, Diana hanya menambah gaunnya dengan balutan kain pasmina warna merah jambu.

Demikian pula dengan menu yang disajikan. Yang agak khas, barangkali, hanya daging kambing yang dimasak ala Maroko. Selebihnya adalah sajian yang umum ditemui seperti sate ayam, steak, dan sup. Selain itu masih ada menu lokal seperti nasi liwet dan selat khas Solo.

Kesan sederhana juga tampak dari cenderamata yang diberikan kepada para tamu: hiasan kupu-kupu dalam kotak atau sajadah sangat kecil. Dari penelusuran Jawa Pos, hiasan kupu-kupu dipesan dari perajin di Jogjakarta sebanyak seribu buah dengan harga satuan Rp 5 ribu.

“Pak Hidayat memang ingin yang sederhana, penuh nuansa Islami, dan bisa berbagi (kebahagiaan) dengan yang lain,” ujar Hartono, humas acara pernikahan Hidayat-Diana kepada Jawa Pos.

Wujud dari keinginan berbagi tersebut dibuktikan dengan mengundang 350 anak yaim piatu dari sejumlah panti asuhan di Bekasi dan Jakarta. Hidayat yang juga mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) saat memberikan keterangan kepada wartawan usai akad nikah sempat melontarkan doa. “Saya ingin kebahagiaan ini memantul kepada teman-teman. Bagi yang belum menikah, semoga segera menikah,” kata pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, yang serentak disambut bacaan amin serentak oleh wartawan.

Tidak hanya itu. Pesta pernikahan Hidayat juga menjadi ajang untuk menunjukkan bahwa dia adalah pejabat yang clean. Bebas dari korupsi. Hal itu ditunjukkan dengan sikapnya berkoordinasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentang amplop yang diterima dari para undangan.

Hidayat yang sejak 22 Januari lalu ditinggal mati isterinya, Kastian Indriawati, mematuhi aturan KPK bahwa besaran uang dalam amplop yang diterima tidak boleh melebihi Rp 1 juta. Jika melebihi, uang itu dianggap sebagai gratifikasi yang harus dilaporkan ke negara.

“Nanti setelah (pesta) selesai, KPK yang membukanya. Tentu dengan disaksikan perwakilan keluarga,” ungkap Hartono yang juga staf ahli ketua MPR itu.

Pihak panitia, lanjut dia, menyediakan tiga buah tempat “buwuhan” yang didesain mirip bus surat di pinggir jalan untuk menampung amplop dari para tamu. Sebenarnya masih ada satu lagi “bus surat” yang disiapkan. Namun, itu dikhususkan bagi Presiden SBY dan Wapres Jusul Kalla. “KPK langsung mengamankannya,” ungkap Hartono.

Lantas, berapa kira-kira anggaran yang dihabiskan dalam resepsi Hidayat-Diana? Hartono mengatakan, harga pakaian pengantin yang dikenakan kedua mempelai tidak lebih dari Rp 10 juta. Adapun sewa gedung sekitar Rp 29 juta dengan segala dekorasinya menghabiskan Rp 40 juta.

Pengeluaran paling besar, lanjut dia, memang untuk katering makanan. Panitia memesan 4.000 paket katering dengan harga rata-rata Rp 40.000 per paket. Jadi, untuk konsumsi habis sekitar Rp 160 juta. Menurut hitungan Jawa Pos, ditambah cenderamata, biaya cetak undangan, pakaian seragam panitia, dan lain-lain, maka total sekitar Rp 300 juta.

Kalau pesta nikah diadakan di Sasono Utomo, prosesi akad nikah diadakan di ruang sebelahnya, Sasono Langen Budoyo. Para undangan mengalir sejak pukul 07.00. Pada pukul 08.10 WIB, Presiden SBY beserta Wapres JK datang hampir bersamaan dengan pengawalan ketat. Nyonya Ani Yudhoyono dan Nyonya Mufidah Yusuf Kalla tidak ikut mendampingi, karena sedang ada acara Solidaritas Istri Kabinet (Sikib).

Hanya berselang lima menit kemudian, Hidayat selaku mempelai pria terlihat memasuki ruangan. Sementara Diana yang direktur sebuah rumah sakit di Jakarta sengaja tidak dihadirkan. Abbas Thalib, ayahanda Diana, yang langsung menjadi wali nikah putrinya. Mesti Hidayat adalah politisi senior dari partai berbasis Islam dan Diana lahir dari keluarga keturunan Arab, pembacaan akad menggunakan bahasa Indonesia.

Hidayat tampak tenang dan khusyuk ketika melafalkan lafadz akad. Tak ada kesan gugup. Mas kawin Hidayat berupa 90 gram emas murni. Bisa jadi angka itu diperoleh dari penjumlahan umur keduanya, yakni Hidayat 48 tahun dan Diana 42 tahun. Sayangnya, tak ada sumber informasi yang bisa memastikannya.

Suasana kian terasa gayeng dan “lepas” ketika Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyampaikan tausyiah (nasihat) pernikahan. “Saya hanya mau bertanya kepada Pak Hidayat, bagaimana caranya bisa dapat Lady Diana versi Indonesia,” candanya.

Tak hanya itu, Din juga melancarkan joke-nya yang lain. Menurut dia, pernikahan Hidayat-Diana merupakan bentuk koalisi PKS dengan Al Irsyad Al Islamiyah. Keluarga Diana kebetulan menjadi bagian dari komunitas ormas tersebut. “Ini bisa jadi koalisi permanen,” ujarnya.

Bagaimana tanggapan putra semata wayang Diana, yakni Nizar Muhammad, atas pernikahan ibunya? “Seneng dan bersyukur,” kata siswa SMP Al Azhar yang duduk di kelas II itu. Dia juga mengaku tidak ingin punya adik lagi. Apa alasannya? “Kan udah banyak,” jawabnya singkat.

Dari pernikahannya yang pertama dengan Kastian Indrawati, Hidayat memang dianugerahi empat orang anak. Mereka adalah Inayati Dzil Izzati, Ruzaina, Alla Khairi, dan Hubaib Shidiqi.

Sementara Inayati, anak sulung Hidayat dan Kastian, berharap pernikahan kedua ayahnya tersebut bisa menambah erat keakraban di antara anggota keluarga. “Perawatan (terhadap) adik-adik juga lebih intens,” harapnya.

Gadis yang sedang menempuh studi di Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur, itu juga berharap ibu barunya, Diana, bisa mendukung kegiatan ayahnya yang super sibuk. Ingin ada anggota baru dalam keluarga? “Ya mungkin saja,” jawabnya singkat. (Jawa Pos)

Iklan