Pertempuran terus berlangsung antara kelompok militan Hizbullah melawan pendukung pemerintah di Lebanon. Dalam pertempuran Minggu 11 Mei lalu, sedikitnya 58 orang dilaporkan tewas. Jumlah tersebut menggenapi korban tewas menjadi 81 orang sejak pertempuran pecah pada 7 Mei lalu.

Negara-negara Arab pun prihatin terhadap kondisi tersebut. Para menteri negera-negara itu telah menjadwalkan kunjungan ke Lebanon dengan harapan bisa meredakan pertempuran.

Sebagaimana diberitakan, perang tersebut dipicu kematian sebelas warga sipil dalam unjuk rasa anti pemerintah, 6 Mei lalu. Unjuk rasa itu dilakukan komunitas Syiah setelah pemerintah merazia jaringan komunikasi kelompok tersebut.

Pada hari pertama pertempuran, militan Hizbullah berhasil menguasai Beirut Barat dan memaksa para pejabat mengungsi ke wilayah pegunungan.

Sampai kemarin, situasi ibu kota Lebanon itu masih tegang. Sekolah dan beberapa lokasi bisnis masih tutup. Hizbullah dan sekutuhnya memblokade jalan-jalan, termasuk yang menuju bandara internasional Beirut.

Perdana Menteri Lebanon Fuad Siniora menuduh lawan politik sengaja memprovokasi para militan untuk mengobarkan perang. Dia berharap para pemimpin Hizbullah menahan diri dan menghentikan pertempuran. “Kami mendesak kesungguhan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah agar menarik penggunaan senjata di dalam negeri,” ujar mantan Presiden Amin Gemayel.

“Jika mereka ingin membunuh kami, dalam rumah kami, silakan saja. Kami memiliki anak-anak dan cucu yang akan melanjutkan perang demi kemerdekaan negara, kedaulatan, dan kehormatan,” tegasnya.

Minggu kemarin, kelompok Sunni yang pro-pemerintah melancarkan perlawanan. Situasinya pun semakin genting dan mencekam.

Sementara itu, dalam pertemuan negara-negara Arab di Kairo, Mesir, diputuskan mengirimkan misi tingkat tinggi ke Lebanon, Rabu besok. Kehadiran para menteri negara-negara tetangga itu diharapkan bisa mengakhiri pertikaian.

Pertempuran yang terjadi beberapa hari terakhir tersebut juga merupakan imbas situasi politik yang tidak menentu di negeri tersebut. Kepemimpinan di Lebanon vakum setelah Emile Lahoud mengakhiri masa jabatannya sebagai presiden pada 2006.

Sampai saat ini, penentuan penggantinya belum mendapatkan kesepakatan di antara para pihak yang berseteru di Lebanon. Parlemen Lebanon merencanakan pertemuan hari ini untuk membahas masalah tersebut. Dan itu merupakan pertemuan ke-19, setelah 18 pertemuan sebelumnya tidak menghasilkan kesepakatan apa pun.

Banyak yang pesimistis pertemuan tersebut akan berhasil. Apalagi di tengah situasi berkecamuk seperti saat ini. (Jawa Pos)