Oleh Renny H.Y.R.

PADA zaman dulu kita kenal empat kategori penyakit, yaitu penyakit anak-anak, penyakit orang tua, penyakit orang miskin, dan penyakit orang kaya. Penyakit anak-anak yang terkenal adalah cacar air, gondongen, cacingan dan kutuan. Penyakit orang tua adalah pikun, tidak bisa berjalan, dan TBC. Sementara penyakit orang miskin adalah gatal-gatal, borok-borok, dan kurang gizi. Penyakit orang kaya yang sering kita dengar adalah jantung dan darah tinggi. Tidak pernah terpikir bahwa kategori ini akan menjadi terbalik-balik di zaman modern ini.

Simak saja. Penyakit orang kaya saat ini adalah borok-borok, terutama orang kaya yang jadi pejabat. Akan tetapi, diagnosisnya bukan dibuat oleh para dokter, melainkan oleh ICW atau KPK. Selain borok-borok, orang kaya juga kurang gizi akibat terlalu sering makan enak. Lalu muncul kumpulan gejala penyakit baru yang disebut sindrom metabolik yang ditandai dengan lingkar perut yang membesar (obesitas perut), darah tinggi, gula darah tinggi (diabetes melitus/DM), dan hiperkolesterol. Akibat penyakit tersebut, mereka harus diet. Jadinya ironis, secara finansial mereka mampu, tetapi tubuhnya tak mau menerima lagi.

Pergeseran

Para pakar berkumpul di hotel berbintang lima untuk mendiskusikan fenomena ini dan mencari obat yang paling canggih untuk mengobatinya. Para mikroba (bakteri, virus, protozoa, dll.) berpacu dalam melodi untuk menemukan kiat-kiat menghadapi obat-obatan mutakhir buatan manusia. Mereka lebih berhasil karena lebih mudah mencapai kata sepakat dibanding manusia. Akibatnya, penyakit seolah “bandel”, mengalami perubahan pola serangan, gejala, dan respons pengobatan.

Menurut data buku Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2005, usia harapan hidup penduduk mulai bergeser. Kalau dulu tahun 2001 adalah 71 tahun, pada tahun 2005 menjadi 72,56 tahun. Semakin tinggi usia harapan hidup akan terjadi pergeseran pola penyakit menjadi penyakit degeneratif (penyakit akibat penuaan) dan berakibat pada peningkatan pola pembiayaan kesehatan.

Pergeseran morbiditas penyakit ini diikuti dengan kenaikan konsumsi obat-obatan canggih yang cukup tinggi menyedot biaya. Celakanya, banyak dokter yang belum “sadar biaya”. Contoh yang paling mudah, tak sedikit dokter yang tidak tahu berapa sebenarnya harga 10 buah antibiotik generik golongan Ciprofloxacin (Rp 3.400,00) dibanding dengan 10 buah antibiotik paten dengan isi yang sama merek X yang berharga puluhan kali lipat (Rp 120.000,00).

Rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM, tentunya akan menambah kronis penyakit masyarakat.

Penderitaan ini akan bertambah parah apabila ditambah ketidakpedulian dokter terhadap pilihan obat dan pemeriksaan penunjang medis (laboratorium, radiologi, dll.) bagi pasien. Sudah dapat dipastikan, kenaikan BBM akan memicu kenaikan-kenaikan lainnya antara lain kenaikan harga barang, bahan, jasa, dan yang utama kenaikan tekanan darah.

Balada Apandi

Apandi adalah penduduk Babakan Duri. Dia mengeluh susah dan nyeri buang air kecil. Dengan obat tradisional, Apandi tak kunjung sembuh bahkan sudah dua hari tak dapat kencing sama sekali. Oleh keluarganya, Apandi segera dilarikan ke rumah sakit terdekat dan dipasangi selang/kateter sebagai alat bantu kencing. Kemudian dokter menyarankan untuk dilakukan operasi karena ada batu di saluran kencingnya. Faktor biaya menjadi beban berat bagi Apandi. Tukang tambal ban ini tercatat sebagai penduduk miskin.

Rumah sakit terdekat adalah rumah sakit (RS) swasta, maka Apandi dihadapkan pada dua pilihan. Segera pindah RS atau mencari dana jutaan untuk operasi. Dengan kateter terpasang di saluran kencing, Apandi terpaksa menyewa angkot untuk pindah ke RS lain yang seharusnya dapat menerima orang miskin. Namun sayang, Apandi ditolak karena kamar bagi orang miskin di RS yang ditujunya hanya sedikit dan itu pun sudah penuh.

Apandi terpaksa melakukan road show ke beberapa RS. Tentu saja ini membutuhkan biaya tersendiri, belum lagi dalam kondisi demikian, Apandi tidak dapat menambal ban dan tetap harus menanggung ongkos berobat. Praktis ibarat ban sepeda, Apandi benar-benar kempis, menempel satu sama lain, baik saku, kulit, maupun tulangnya.

Berbekal surat miskin saja, walau lengkap, ternyata belum aman. Pergantian prosedur penanganan orang miskin tidak hanya membuat bingung orang miskin, tetapi juga RS. Soalnya, RS di kota harus membuat MoU dulu dengan kabupaten untuk dapat melayani orang miskin dari kabupaten. Bila tidak, klaim tagihan tidak dapat dibayarkan.

Masih banyak Apandi-Apandi lain yang miskin, yang menderita kelumpuhan sekeluarga atau kutil liar di sekujur tubuh, atau kelainan katup jantung. Hal ini membuat kita tercenung, mengapa penyakit orang miskin sekarang aneh-aneh?

Penolakan

Bagi orang miskin yang nomaden, jalan panjang harus ditempuh untuk dapat mencicipi pelayanan Askeskin yang sekarang telah berganti nama, prosedur, dan alur penanganannya.

Pengalaman di lapangan memperlihatkan, di samping persyaratan administratif yang tidak lengkap, penolakan klaim dapat terjadi apabila setelah diklarifikasi oleh yang berwenang terdapat perbedaan persepsi terhadap diagnosis, terapi, atau tindakan medis yang berakibat pada besaran nilai rupiah klaim. Ada RS yang memang nakal menggelembungkan klaim sampai miliaran rupiah, tetapi ada pula RS yang semula berniat tulus untuk membantu melayani orang miskin. Namun, karena muncul penolakan klaim akibat berbagai sebab dan perhitungan tarif yang rendah akhirnya membuat RS jera berhubungan dengan pelayanan bagi orang miskin.

RS kerap diancam untuk dibubarkan apabila tidak mau melayani orang miskin. RS pemerintah sibuk membangun paviliun bertingkat bak apartemen mewah yang tentunya bukan untuk menampung rakyat miskin. RS swasta lebih suka merujuk ke RS pemerintah daripada bermain pingpong atas klaim tagihan yang ujung-ujungnya menjadi piutang tak tertagih atau piutang macet. Walhasil? Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, orang miskin tidak boleh sakit!***

Penulis, Direktur Pelayanan Kesehatan PT CMP-RS Pindad. (Pikiran-Rakyat)