Oleh Zaidan A

Ada empat pontensi manusia yang membedakannya dengan makhluq ciptaan Allah Swt yang lain.

Pertama adalah Akal.
Ada tiga makhluk yang diberi akal oleh Allah Swt, yaitu manusia, malaikat dan jin (syaithan). Manusia menjadi mulia karena diberi potensi akal ini, sehingga berbeda dengan binatang yang hanya diberi naluri/insting saja. Malaikat diberi potensi akal tetapi tidak diberi potensi yang lain sehingga selalu mulia, sedangkan syaithan potensi akalnya digunakan untuk menyesatkan manusia sehingga sesat-menyesatkan!

Kedua adalah Daya hayal/Imajinasi
Daya hayal atau imajinasi adalah potensi manusia yang sangat bermanfaat untuk kemajuan peradaban mausia. Manusia menghayal atau berimajinasi untuk bisa terbang, maka dengan potensinya dibuatlah pesawat terbang bahkan mobil terbang. Jika potensi ini berlebihan dan mengalahkan potensi akal, maka manusia akan menjadi penghayal tersesat seperti syaithan.

Ketiga adalah Marah/Emosi.
Potensi ini diperlukan oleh manusia untuk mempertahankan diri dari gangguan atau intimidasi dari pihak lain. Jika potensi ini berlebihan dan mengalahkan potensi akal, maka manusia akan seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya.

Keempat adalah Nafsu/Syahwat.
Potensi ini merupakan energi kehidupan atau sebagai daya hidup. Dengan potensi ini manusia menjadi semangat untuk hidup.
Potensi Nafsu/Syahwat ini dibagi dua, yaitu :
Syahwat perut dan syahwat terhadap lawan jenis.
Jika potensi ini berlebihan dan mengalahkan potensi akal, maka manusia akan seperti binatang ternak yang hanya menurutkan nafsu atau syahwat belaka.

Itulah potensi-potensi manusia yang membedakannya dengan makluq ciptaan Allah Swt yang lainnya. Semua potensi itu sangat diperlukan oleh manusia, tetapi harus dikendalikan atau dibawah pengaruh potensi akal sehingga manusia menjadi mulia, tidak seperti binatang atau syaithan.

Namun dengan keempat potensi manusia tersebut manusia masih tersesat, bisa menjadi (seperti) syaithan jika tidak mendapat bimbingan/petunjuk atau hidayah dari penciptanya yaitu Allah Swt. Untuk itu manusia harus di bawah bimbingan atau pengaruh Kalamullah/Kitabullah dan Sunnah Rasulullah sehingga tidak tersesat!

Seperti prosessor buatan Intel yang tahu seluk-beluk prosessor tersebut adalah perusahaan Intel, maka yang tahu seluk-beluk manusia adalah penciptanya yaitu Allah Swt. Maka hendaknya manusia mau tunduk dan patuh kepada aturan atau hukum-hukum yang Allah Swt tetapkan.

Dengan potensi akalnya manusia menjadi makhluq mulia dan tidak tersesat jika mau menundukkan akalnya di bawah bimbingan Wahyu Allah Swt, yaitu Kitabullah wa Sunnati Rasul.

Dari : www.agss.tk