Ekonom Anggap Perlu, Oposisi Mengecam

Keputusan pemerintah Malaysia menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) Rabu (4/6) lalu memunculkan reaksi beragam. Kalangan ekonomi umumnya mendukung. Sebaliknya, partai-partai oposisi langsung mengecam.

Kelompok yang mendukung menyatakan kebijakan itu memang harus diambil meski tidak populer. ”Kalau kita tidak menaikkan harga BBM sekarang, ekonomi akan jatuh,” kata Chong Wai Ket, seorang pemilik toko di Kuala Lumpur.

Para ekonom juga menilai langkah itu perlu untuk kepentingan jangka panjang. Meski dalam jangka pendek kebijakan tersebut berpotensi memicu inflasi. ”Karena BBM termasuk unsur utama dalam anggaran rumah tangga, kenaikan harga BBM memang bisa menurunkan pemenuhan kebutuhan,” kata Lee Heng Guie, ekonom CIMB.

Namun, Anindra Mitra, analis senior Moody’s Investors Service di Singapura menilai posisi Malaysia cukup kuat untuk menghadapi tekanan inflasi. Anindra juga menilai lonjakan harga tak akan terlalu mempengaruhi profil negara jiran tersebut. “Momentum ekonominya kuat. Saya kira mereka mampu bertahan dengan kebijakan moneter yang agak ketat,” katanya.

Pihak yang menentang, sebaliknya, langsung beraksi mengecam kebijakan baru itu. “Warga Malaysia marah. Kenaikan harga BBM kali ini terlalu tinggi,” seru Lim Kit Siang, ketua Partai Aksi Demokrat (DAP), dalam aksi di Kuala Lumpur dan kawasan utara Kota Ipoh kemarin.

Seperti diberitakan kemarin, pemerintah Malaysia memutuskan menaikkan harga BBM untuk menekan subsidi yang ditaksir mencapai MYR 45 miliar (sekitar Rp 130,5 triliun) tahun ini. Harga bensin naik sekitar 40 persen dari MYR 1,92 (Rp 5.500) menjadi MYR 2,7 (sekitar Rp 7.800) per liter. Minyak disel bahkan naik 67 persen dari MYR 1,5 menjadi MYR 2,5 (sekitar Rp 7.350) per liter.

“Saya harap warga Malaysia tidak bergolak menghadapi keputusan ini. Kita harus memikirkan kepentingan terbaik bagi rakyat,” kata Perdana Menteri (PM) Malaysia Abdullah Ahmad Badawi sesaat setelah mengumumkan kenaikan harga BBM pada Rabu (4/6) malam.

Namun, gelombang protes langsung memadati jalanan utama negeri jiran itu kemarin (5/6). “Ini menunjukkan Abdullah (Badawi) tidak mampu memimpin negara,” seru Mukhriz Mahathir, putra Mahathir Mohamad yang sekaligus politikus senior di parlemen. Menurut dia, Badawi tidak berempati kepada beban berat yang harus dipikul rakyat Malaysia saat ini.

Beberapa kelompok oposisi dan sejumlah LSM juga menyiapkan aksi besar-besaran di seluruh penjuru Malaysia jika pemerintah tak membatalkan kenaikan harga BBM hingga 12 Juni. ”Kami siap mengerahkan 100.000 orang ke jalan,” kata pemimpin koalisi, Hatta Ramli.

Pengumuman kenaikan harga BBM itu juga langsung berdampak terhadap sektor ekonomi Malaysia. Kemarin, pasar saham Malaysia turun hingga 2,4 persen. Para pelaku pasar, tampaknya, mengkhawatirkan bayang-bayang inflasi yang diramalkan mencapai 5 persen. Kurs MYR terhadap USD juga melemah dari 3,2430 pada Rabu (4/6) menjadi 3,2650 kemarin (5/6). (Jawa Pos Online)