Tingginya konsumsi telepon selular (ponsel) tanpa disadari telah mengancam separuh kesehatan penduduk bumi. Pasalnya, sekitar 40-50 juta ton limbah beracun ponsel dikirim ke negara berkembang setiap tahunnya.

“Kemampuan ponsel dirancang untuk delapan tahun. Namun kebanyakan konsumen hanya memakainya selama satu sampai dua tahun saja,” kata Chairman Mobile Phone Patnership Initiative (MPPI) Marco Buletti di sela-sela Konferensi Antarbangsa untuk Pengelolaan Limbah Beracun, di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Bali, Selasa (24/6/2008).

Buletti mengatakan, sejak diperkenalkan pertama kali pada 1970, kebutuhan produk ponsel terus berkembang. Berdasarkan catatan MPPI, pada 2004 terdapat sebanyak 1,76 miliar pengguna ponsel. Jumlah itu naik hampir dua kali lipatnya pada 2008 menjadi tiga miliar.

Aktivis lingkungan Yuyun Yunia Ismawati yang hadir dalam pertemuan mengatakan, sampah elektronik merupakan salah satu jenis limbah bahan beracun dan berbahaya (B3). Ironisnya, limbah beracun produk elketronik itu kebanyakan dibuang ke negara berkembang.

Menurutnya, negara-negara berkembang telah sepakat menolak perpindahan sampah elektronik beracun. Namun celakanya, kesepakatan tersebut ditolak oleh beberapa negara maju, seperti Jepang.

Negara industri, kata dia, justru menawarkan program daur ulang sampah elektronik dengan dalihnya bisa didaur ulang menjadi barang kebutuhan lainnya. “Padahal kalau dipikir, kenapa tidak didaur ulang di negara mereka sendiri saja,” ujar Direktur Yayasan Bali Fokus ini. (Miftachul Chusna/Sindo/jri)

3 Miliar Calon Sampah Ponsel

Jumlah sampah elektronik, khususnya ponsel, akan menjadi bahasan khusus pada pertemuan lima hari tentang pengelolaan limbah.

Konvensi Basel yang akan diadakan di Bali ini mengundang lebih dari 1000 delegasi dari 130 negara. Dalam keterangan resmi yang dikutip Okezone melalui AFP, Selasa (24/6/2008), limbah elektronik dari penggunaan perangkat ponsel, yang kini mencapai 3 miliar unit seluruh dunia, menjadi bahasan paling penting konvensi ini.

Para perwakilan negara akan mendiskusikan panduan baru untuk mengatur sampah ponsel, yang disinyalir sangat berkontribusi paling besar dari banyaknya timbunan sampah dalam kurun waktu bertahun-tahun.

“Penggunaan ponsel telah tumbuh secara eksponensial sejak tahun 1970. Hingga bulan April tahun ini, data menunjukkan terdapat 3 miliar ponsel yang tersebar di dunia dan akan menjadi calon sampah,” ujar perwakilan konvensi. [Okezone]