Oleh Akhmad Taufik, S.T.P.

SALAH satu agen penyebab penyakit yang timbul melalui makanan (foodborne disease) adalah virus. Ada beragam jenis virus yang dapat menularkan penyakit melalui makanan, yang paling umum adalah virus hepatitis. Sedikitnya ada lima jenis virus hepatitis yang dapat menyerang manusia yaitu virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Namun, hanya virus hepatitis A dan E yang biasa menular melaui makanan dan minuman.

Virus hepatitis A dapat menular melalui berbagai cara seperti kontak orang ke orang atau melalui konsumsi makanan dan minuman yag telah terkontaminasi. Orang yang telah terinfeksi virus hepatitis A dapat menjadi sumber penularan virus yang mengontaminasi makanan sehingga orang-orang ini tidak diperbolehkan menangani makanan meskipun mereka tidak terlihat sakit. Oleh karena itulah, orang-orang yang bekerja menangani makanan, seperti di restoran atau pabrik makanan, harus diberi vaksinasi hepatitis A .

Setelah tertelan, ketahanan virus hepatitis A terhadap asam memungkinkannya lewat dalam perut dan masuk ke usus halus. Virus ini menginfeksi sel-sel epitel mukosa, berkembang biak dan menyebar ke sel-sel yang berdekatan dan kemudian masuk ke hati (liver) lewat peredaran darah keluar. Virus Hepatitis A menginfeksi sel-sel parenkimal hati. Setelah sel dipenetrasi, Virus hepatitis A akan mengambil alih sistem sel tersebut untuk menghasilkan komponen-komponen virus yang baru dan memicu respons antibodi tubuh.

Masa inkubasi (masa antara pertama kali terpapar virus sampai munculnya gejala-gejala virus hepatitis A adalah 15-50 hari (rata-rata 28 hari). Gejal-gejala awalnya adalah sakit otot, sakit kepala, hilang nafsu makan (anoreksia), tidak enak perut, demam kemudian diikuti sakit kuning yaitu penguningan kulit, mata, dan selaput lendir serta air kencing berwarna lebih gelap.

Segera setelah sakit kuning muncul, gejala-gejala awal biasanya mereda. Kebanyakan penderita akan sembuh dalam waktu enam minggu setelah gejala-gejala awal muncul. Selama masa pemulihan gejala-gejala hepatitis bisa kambuh kembali.

Berat-ringannya gejala-gejala dan lamanya sakit tergantung pada seberapa banyak sel-sel hati yang dirusak. Jika kurang dari setengahnya dari total sel yang dirusak, penderita hanya akan mengalami gejala-gejala ringan. Pada beberapa penderita, gejala-gejala tidak timbul dan hanya tahu bahwa mereka telah terinfeksi melalui tes darah. Jika sel hati yang rusak begitu banyak, misalnya sampai tiga perempatnya, hati tidak lagi berfungsi.

Untuk diagnosis hepatitis A yang akurat diperlukan tes darah untuk mendeteksi antibodi immune globulin (Ig) M yang muncul ketika sistem kekebalan tubuh merespons virus hepatitis A. Pencegahan hepatitis A bisa dilakukan dengan selalu menjaga kebersihan, membasuh tangan dengan air dan sabun setelah dari kamar mandi, mengganti popok bayi, dan sebelum menangani makanan; memasak makanan sampai suhu 85 oC atau lebih tinggi akan menginaktivasi virus hepatitis A. Jika diketahui telah terpapar virus hepatitis A, pemberian suntikan immune globulin bisa dilakukan.

Perlindungan terbaik dari hepatitis A adalah dengan vaksinasi. Vaksinasi hepatitis A disarankan bagi anak-anak, bagi mereka yang akan bepergian ke daerah yang dikenal memiliki tingkat kejadian hepatitis A tinggi, homoseks, pengguna obat-obatan suntik dan nonsuntik, penderita hemofilia, dan penderita liver kronis.

Hepatitis E banyak terjadi di lingkungan dengan sanitasi yang buruk. Virus Hepatitis E dapat menular melalui makanan dan air yang terkontaminasi. Tidak ada bukti penularan virus ini melalui seks dan transfusi darah. Gejala-gejalanya mirip dengan hepatitis A dengan masa inkubasi 3-8 minggu (rata-rata 40 hari) Virus Hepatitis E jarang menyebabkan peyakit hepatitis yang kronis, namun bisa sangat berbahaya bagi wanita hamil.

Tidak ada terapi khusus untuk hepatitis E dan cara terbaik yang bisa dilakukan bersifat pencegahan. Menjaga kebersihan lingkungan dan pribadi dapat mengurangi risiko hepatitis E. Pencegahan lain adalah air dan makanan dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.

Akhmad Taufik, S.T.P., alumnus Teknologi Pangan Universitas Padjadjaran. [PR]