Oleh Chandra Setiawan

Pro dan kontra atas kenaikan harga BBM masih terus terjadi, terlebih lagi dengan disetujuinya hak angket oleh DPR. Kita merasakan kenaikan harga BBM telah mengakibatkan melonjaknya harga barang-barang kebutuhan pokok. Kini kita membutuhkan rupiah lebih banyak untuk membeli barang yang sama, khususnya bahan bakar dan tentunya barang/jasa yang terkena dampak kenaikan harga BBM.

Dengan demikian, hampir dapat dipastikan kebutuhan akan kredit perbankan pun meningkat. Akibatnya, bertambah pula jumlah uang beredar. Akhirnya inflasi pun terjadi. Namun kemampuan daya beli menurun.

Biasanya kita mengenal inflasi adalah kenaikan harga-harga barang dan jasa. Padahal hakikatnya terjadi penurunan daya beli sebagai akibat bertambahnya jumlah uang beredar.

Untuk mengatasi daya beli masyarakat yang menurun tersebut, rakyat yang tidak mampu diberikan bantuan langsung tunai (BLT).

Dapat dipastikan BLT hanyalah memberikan kegembiraan sesaat karena sifatnya memberi “ikan”, bukan cara bagaimana “menangkap ikan”. BLT hanya mampu memberi penghiburan 1-2 hari saja, setelah itu rakyat miskin kembali miskin, dan terus menderita, terus berusaha mencari rupiah untuk berbelanja, atau ada yang mengharapkan nominal BLT dibesarkan jumlahnya.

Pertanyaannya, bagaimana mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap rupiah tetapi masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara normal?

Caranya tentu bermacam-macam. Penulis mencoba memberi salah satu alternatif saja.

Jawabannya, hal yang terpenting adalah mengubah paradigma masyarakat tentang hakikat uang. Kalau ditanya soal uang, ingatan kita selalu ke ‘rupiah’ atau ‘dolar’. Seakan-akan tidak ada lagi definisi lain yang dimaksudkan dengan uang.

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap rupiah, kita harus menggunakan definisi uang secara berbeda. Yang dimaksud uang tidak terbatas pada wujud rupiah, dolar, yen dan lain sebagainya. Jangan hanya terpaku bahwa yang dimaksud uang adalah mata uang nasional yang dipaksakan oleh negara untuk dijadikan satu-satunya alat pembayaran yang sah.

Kita harus keluar dari kungkungan itu dan menjadikan masyarakat lebih mandiri serta bekerja sama di dalam memenuhi kebutuhannya.

Dengan demikian, ‘uang’ pada hakikatnya adalah suatu perjanjian di antara komunitas/masyarakat tertentu untuk menggunakan sesuatu sebagai alat pertukaran (Bernard Lietaer, 2003, Ahmad Aziuddin, 2008)… >>Selengkapnya…