Volume air di Waduk Darma, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, saat ini kritis karena hanya tersisa 14,58 juta meter kubik. Padahal, air dari waduk itu masih dibutuhkan untuk pengairan dan aktivitas pabrik gula hingga berakhirnya musim kemarau, sekitar dua bulan ke depan.

Kepala Koordinator Waduk Darma, Taryono, Senin (28/7), menyebutkan, volume air yang tersisa di waduk itu hingga kemarin 14.580.000 meter kubik. Padahal, lahan sawah di Kabupaten Kuningan dan Cirebon masih membutuhkan air dari waduk hingga September 2008. Air yang disalurkan juga sangat dibutuhkan pabrik gula di Kecamatan Babakan, Cirebon.

Meski air yang tersedia di waduk masih sesuai dengan rencana Balai Pengelola Sumber Daya Air (BPSDA) Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung, 14.428.000 meter kubik hingga akhir Juli, jumlah itu sangat terbatas. ”Idealnya, volume air di Waduk Darma pada akhir Juli 24 juta meter kubik,” ujar Taryono.

Selain di Waduk Darma, penyusutan tinggi muka air juga terjadi di Bendung Rentang, salah satu bendung utama pengairan di Indramayu dan Cirebon.

Kekeringan menyebabkan pula tinggi muka air Waduk Ir H Djuanda, Jatiluhur, di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, terus menurun. Namun, menurut Direktur Teknik Perum Jasa Tirta (PJT) II, Achmad Godjali, Senin, volume air diperkirakan mencukupi kebutuhan hingga akhir Desember 2008.

Disebutkan, kebutuhan air untuk irigasi sawah seluas sekitar 240.000 hektar di Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu 2,668 miliar meter kubik. Adapun kebutuhan air baku minum dan industri di Bekasi dan DKI Jakarta 435 juta meter kubik.

Kekeringan saat ini membuat warga Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, di wilayah barat, terutama di Kecamatan Donorojo, kesulitan air bersih. Warga yang mendapatkan air bersih dari jaringan pipa PDAM Pacitan pun mengeluhkan pasokan sering mati.

Dua kali lipat

Sementara itu, kekeringan yang melanda lahan tanaman padi di Jawa Tengah hingga pertengahan Juli 2008 naik dua kali lipat daripada periode sama tahun 2007. Berdasarkan pantauan Dinas Pertanian Jateng hingga 15 Juli, lahan kekeringan seluas 14.527 hektar untuk masa tanam April-September.

Dinas Pertanian Lampung memastikan bahwa 8.189 hektar areal padi, jagung, dan kedelai di provinsi itu kekeringan. Areal seluas 446 hektar di antaranya puso atau gagal panen. (KOMPAS Cetak)