Kandungan minyak di wilayah itu mencapai 90 miliar barel. Selain itu, terdapat kandungan gas alam sekitar 1,670 triliun kubik.

Krisis minyak yang terus melanda dunia memaksa para ilmuwan untuk melacak keberadaan sumber-sumber minyak baru. Tak hanya di darat dan dasar laut, para ilmuwan juga melakukan pemantauan kemungkinan kandungan minyak di wilayah yang diliputi es di Antartika.

Menurut data dari badan survei geologi Amerika Serikat (USGS), kandungan minyak di wilayah berdaratan es itu mencapai 90 miliar barel. Tidak hanya minyak bumi, kandungan gas alam pun terdapat di dasar kutub dengan jumlah sekitar 1,670 triliun kubik.

USGS menduga, kandungan minyak bumi di kutub tersebut dapat dieksplorasi dan dapat digunakan untuk hajat hidup manusia selama tiga tahun lamanya. Sebanyak 90 miliar barel minyak tersebut dapat dieksplorasi sehingga mampu menyediakan 86,4 juta barel per hari selama tiga tahun.

”Data seperti ini harus diketahui sebelum memutuskan bersedia atau tidak menggunakan energi minyak atau gas. Bahkan, data ini pun cukup membantu menghindari punahnya spesies langka di sana dan mempertahankan kelangsungan hidup di bumi,” ujar Direktur USGS Mark Myers, seperti dikutip kantor berita AFP, Kamis (24/7).

Laporan tentang dugaan kandungan minyak tersebut dikeluarkan USGS bersamaan dengan perseteruan antara Rusia, Kanada, Denmark, Norwegia, dan Amerika Serikat (AS) yang berniat mengambil seluruh sumber energi di wilayah tersebut. Daerah kutub diprediksi sebagai wilayah dengan kandungan sumber daya alam yang cukup potensial. Apalagi jika dampak pemanasan global mampu melelehkan semua es di wilayah tersebut sehingga wilayah kutub dapat diakses dengan mudah.

Mungkin kondsi ini bisa dianggap sebagai sisi positif dari pemanasan global. Jika dulu perusahaan minyak, misalnya, harus berpikir berkali-kali sebelum menanam rig di lepas pantai Laut Barents yang beku, kini mereka malah bisa menjelajah lebih jauh ke utara. Mereka seolah tersihir prediksi USGS. Mencair dan menipisnya lapisan es kutub juga membuka ‘kotak harta’ lainnya seperti rute pintas pelayaran.

Para perusahaan operator kapal bisa bersorak karena untuk jalur Tokyo-London, misalnya, mereka tidak perlu lagi memutar seperti biasanya. Es yang mencair membuat mereka bisa mengambil jalan yang lebih pendek 40 persen.

Para ilmuwan memprediksi, wilayah kutub memiliki sekitar 13 persen dari total minyak bumi dunia. Kandungan tersebut dapat ditemukan di tiga wilayah geografis kutub yaitu Alaska dengan kandungan sekitar 30 miliar barel, Ameriasia Basin dengan kandungan 9,7 miliar barel, dan East Greenland Rift Basins sekira 8,9 miliar barel. Selain itu wilayah kutub juga dipercaya memiliki sekitar 30 persen kandungan gas alam dunia dan 20 persen kandungan gas alam cair.

Perusahaan minyak dan energi dikabarkan juga telah menemukan 400 titik kandungan minyak dan gas di sekitar kutub. Dari 400 titik tersebut kemungkinan besar akan dihasilkan sekitar 40 miliar barel minyak, 1100 triliun kubik gas dan 8,5 triliun barel gas alam cair.

Namun demikian, di lain pihak, lembaga nonprofit Clean Air Watch menolak aksi pencarian sumber sebagai tambahan energi tiga tahun ke depan tersebut. Menurut Clean Air Watch, habitat asli kutub dipastikan akan punah seiring dengan eksplorasi yang dilakukan pemerintah negara-negara tersebut dalam mencari minyak.

President Clean Air Watch Frank O’Donnell. menyatakan, wilayah kutub memang potensial tapi harga yang harus dibayar untuk mengubah lingkungan ini akibat eksplorasi minyak akan sangat mahal. ”Belum lagi perubahan pola lingkungan yang akan terjadi seiring dengan maraknya perusahaan industri yang akan mengebor minyak di sana,” tegasnya. eye

Ikhtisar:
– Para ilmuwan memprediksi, wilayah kutub memiliki sekira 13 persen dari total minyak bumi dunia.
– Wilayah kutub juga dipercaya memiliki sekitar 30 persen kandungan gas alam dunia dan 20 persen kandungan gas alam cair.
– Perusahaan minyak dan energi dikabarkan juga telah menemukan 400 titik kandungan minyak dan gas di sekitar kutub. [Republika]