Pemerintah mencekal sejumlah petinggi enam perusahaan batu bara yang sengaja tidak mau membayar royalti kepada negara sekitar Rp3,3 triliun. Mereka membangkang sejak 2001.

Lima perusahaan yang membangkang itu adalah pemain-pemain utama di sektor batu bara yang sekarang–bahkan sejak 2001–menikmati rezeki nomplok dari kenaikan harga batu bara di pasar dunia yang berlipat ganda. Mereka tiba-tiba menjadi orang-orang kaya kelas dunia karena rezeki batu bara itu.

Kalau demikian, mengapa membangkang? Mereka toh tidak kekurangan uang untuk membayar royalti. Mereka tidak dalam krisis keuangan sehingga akan bangkrut kalau membayar royalti. Jadi, apa maksud pembangkangan? Mungkin merasa kuat dan karena itu ingin melawan negara.

Regulasi di sektor pertambangan, termasuk batu bara, memperlihatkan posisi tawar pemerintah yang lemah. Dulu pemerintah memberlakukan batu bara sebagai barang kena pajak pertambahan nilai. Dengan ketentuan itu, pengusaha batu bara menikmati restitusi.

Tetapi sejak 2000 pemerintah mengubah kebijakan… >>Selengkapnya