Gagasan penambahan satu jam bagi waktu Indonesia bagian barat mencuat. Menghemat listrik dan menguntungkan dunia penerbangan.

Lampu ruang tamu di kediaman Sunarti selalu menyala pukul 18.00. Ibu rumah tangga yang tinggal di Menteng Atas, Jakarta Selatan, ini juga menghidupkan penerangan listrik di kamar atas rumahnya yang terbuat dari papan, termasuk dapur dan kamar mandi. Menjelang pukul 22.00, sebelum berangkat ke pera­duan bersama suaminya, dia mematikan pesawat televisi dan semua lampu.

Rutinitas itu sudah dijalani Sunarti sejak 30 tahun lalu. Sukadi, suami­nya, membayar listrik setiap bulan sekitar Rp 50 ribu. ”Kami larang anak-anak nonton TV di atas pukul 21.00,” kata pria yang baru pensiun sebagai guru di Sekolah Dasar Negeri Menteng Atas ini.

Pelanggan listrik golongan R-1 dengan daya 450 watt memang paling banyak jumlahnya. Bagi golongan rendah ini, mematikan lampu penerangan menjelang waktu tidur membantu mengurangi tagihan rekening listrik. Seperti warga lainnya, pemakaian puncak listrik memang terjadi pukul 18.00 hingga 22.00. Dalam istilah PLN, empat jam itu merupakan waktu beban puncak.

Biaya listrik yang dikeluarkan Sukadi-Sunarti akan semakin berkurang bila saja gagasan menggeser Waktu Indonesia Barat (WIB) menjadi bagian tengah (Wita) yang dilontarkan A. Sonny Nursutan Hotama dan kawan-kawan diterima oleh pemerintah. Sonny mempresentasikan gagasannya itu di Jakarta tiga pekan lalu. ”Sejak empat bulan lalu kami melakukan riset bersama PLN,” kata Sonny, Ketua Tim Studi Kajian tentang Zona Waktu dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Airlangga, kepada Tempo, Rabu pekan lalu.

Menghemat energi listrik? Dengan mengambil contoh kasus Sunarti, Sonny menjelaskan Sunarti akan menghidupkan lampu di rumahnya pada pukul 19.00 Wita, yang sama dengan pukul 18.00 pada saat WIB. Untuk waktu lainnya sama, misalnya mematikan lampu pukul 22.00, bangun tidur dan menghidupkan lampu pukul 05.00.

Dari kasus Sunarti, bakal terjadi perubahan waktu beban puncak yang dimulai pukul 19.00 hingga 22.00. ”Konsumsi tenaga listrik untuk pelanggan berkurang selama satu jam,” kata Sonny. Artinya, menurut Sonny, PLN akan mengurangi pasokan pada beban puncak selama satu jam dibanding yang berlaku saat ini.

Tak hanya itu, pemadaman bergi­lir yang biasanya berlangsung sebelum matahari terbenam akan bertambah satu jam karena cahaya matahari masih ada hingga pukul 19.00. Dari sini bahan bakar bisa lebih dihemat. ”Pulau Jawa dan Bali menyerap 80 persen konsumsi listrik nasional,” kata Ario Subijoko, juru bicara PLN.

Menurut Sonny, menggeser satu jam akan menyamakan waktu Jawa dan Sumatera dengan Malaysia dan Singapura. Waktu dua negara jiran ini sama dengan Indonesia bagian tengah. Jika ide ini terealisasi, kata Sonny, bakal terjadi optimalisasi kawasan antara Jakarta, Singapura, Kuala Lumpur, dan Hong Kong, khususnya di sektor ke­uangan serta bisnis lainnya. ”Orang Singapura dan Hong Kong sudah bertransaksi di lantai bursa pada saat kita masih tidur,” ujar Sonny memberikan ­peng­andaian.

Selain itu, perubahan waktu ini ­berpengaruh positif bagi dunia pener­bang­an. Selama ini, pesawat dari Jakarta dan Surabaya menuju Papua harus berangkat lebih pagi. Sampai di tempat tujuan, waktu memasuki sore hari. Bagi maskapai udara, pasar untuk penerbangan kembali ke arah barat relatif sedikit. Alhasil, pesawat dan awaknya harus bermalam sehingga pemanfaatannya tak maksimal. ”Banyak kesempatan bisnis yang hilang,” kata mantan Direktur Utama Merpati Nusantara Airlines Hotasi Nababan ketika berbicara dalam diskusi mengenai zona waktu bulan lalu.

Pada 2004 ada 1.353.084 penumpang Merpati dari Jakarta menuju wilayah timur. Hotasi memprediksi bakal terjadi pertumbuhan penumpang 10 persen andai kata Waktu Indonesia Barat bertambah satu jam. Dia juga menunjuk terjadinya inefisiensi jam kerja di 36 kantor perwakilannya. Ketika kantor di Jayapura sudah buka, karyawan Merpati di Jakarta baru bangun tidur. Hotasi melihat kondisi itu mempengaruhi tampilan pelayanan kepada pelanggan.

Apakah mungkin ide penggeseran waktu itu diterapkan? Subarjo, pejabat di Badan Meteorologi dan Geofisika, menjelaskan tak ada persoalan teknis jika perubahan waktu itu diterapkan. Pada 1987 Presiden pernah mengeluarkan keputusan yang memasukkan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah ke dalam Waktu Indonesia Barat. Hanya, kata Subarjo, Waktu Indonesia Barat yang dipakai sekarang lebih riil secara geografis jika dihitung tujuh jam dari Greenwich Mean Time ketimbang waktu yang dipakai Singapura.

Oleh Untung Widyanto, Iqbal Muhtarom
(Tempo Interaktif)