Dua terdakwa kasus insiden Monas, Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab dan Panglima Komando Laskar Islam Munarman, kembali mendapat angin. Saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) lagi-lagi memberikan keterangan yang menguntungkan terdakwa.

Saksi-saksi yang dihadirkan cenderung memberikan keterangan simpang siur. Bahkan, keterangan mereka kerap berbeda dengan yang ditulis dalam BAP (berita acara pemeriksaan). Saat sidang dengan terdakwa Habib Rizieq, misalnya. JPU mendatangkan saksi aktivis Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) Nasir Ahmad.

Nasir memberikan keterangan berbeda antara kepada JPU dan tim pengacara Habib Rizieq. Kepada JPU Teguh Suwarsono, Nasir mengatakan pergi ke Monas dengan keponakannya. Tapi, kepada tim pengacara Habib Rizieq, Ari Yusuf Amir, Nasir mengaku pergi ke Monas bersama panitia AKKBB.

Bukan hanya itu. Nasir juga memberi keterangan berbeda saat menyebutkan anggota FPI yang melakukan penyerangan di Monas. Dalam BAP, Nasir menyebut ada 1.000 anggota FPI yang hadir dan melakukan penyerangan. Namun, di sidang Nasir menyebut 300 orang.

Puluhan pendukung Habib Rizieq yang memadati ruang sidang tampak emosi mendengar keterangan saksi yang berbelit-belit. Beberapa aktivis FPI ini menggerutu karena mendengar keterangan saksi yang tidak jelas dan tidak konsisten. Melihat ruang sidang makin gaduh, Ketua Majelis Hakim Panusunan Harahap mengancam mengeluarkan massa FPI dari ruang sidang. ”Jika Anda (massa FPI) tetap buat keributan, saya bisa mengeluarkan dari ruang sidang. Karena Anda mengganggu jalannya sidang,” kata Panusunan.

Rencananya, ada empat saksi yang diperiksa. Namun, tiga saksi dari anggota kepolisian Polda Metro Jaya absen dan hanya satu saksi yang hadir bernama Nasir Ahmad. Uniknya, saksi yang dihadirkan JPU sebenarnya untuk terdakwa Munarman. Namun, dia dihadirkan juga di sidang Habib Rizieq yang dimulai lebih awal dari sidang Munarman.

Ini diketahui saat Panusunan memberi kesempatan kepada Habib Rizieq untuk bertanya. Apa terdakwa ada pertanyaan? ”Yang bersangkutan diperiksa untuk Munarman dan tidak ada hubungan dengan saya,” kata Habib Rizieq.

Kurang lebih satu jam kemudian, sidang dilanjutkan dengan terdakwa Munarman dalam kasus yang sama. Dalam sidang Munarman, saksi yang dihadirkan adalah Sugiyono. Pria itu adalah sopir truk yang membawa pengeras suara dari kelompok AKKBB ketika menggelar acara memperingati Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni 2008.

Seperti Nasir Ahmad, kesaksian Sugiyono juga berbelit-belit, bahkan lebih parah. Misalnya, dalam BAP Sugiyono menyebutkan mengetahui beberapa anggota AKKBB dikeroyok. Namun, di sidang Sugiyono tidak tahu ada yang dipukuli dan dikeroyok itu.

Dalam sidang, Sugiyono menyebut massa yang mengeroyok adalah berseragam putih. Namun, dalam BAP dia mengatakan massa yang mengeroyok adalah FPI. Bahkan, dengan lugu Sugiyono sempat menyebut bahwa kesaksian di BAP itu diketikkan dulu oleh polisi, kemudian Sugiyono tinggal menyetujui.

”Habis diketik polisi lalu dilihatkan kepada saya, dan saya bilang betul, Pak,” kata Sugiyono. Mendengar penuturan Sugiyono, salah seorang tim pengacara Munarman, M. Assegaf, mengatakan keterangan yang paling benar adalah di pengadilan, bukan di BAP. ”Kasihan, saksi adalah orang yang jujur,” kata Assegaf.

Sugiyono juga tidak tahu bahwa truknya disewa untuk demo yang dilakukan AKKBB. ”Saya tahunya ya besoknya, saat truk saya dipakai untuk acara peringatan Hari Kesaktian Pancasila,” katanya. Sugiyono juga mengaku tidak tahu apa itu organisasi AKKBB. ”Saya tidak tahu apa AKKBB. Saya juga tidak tahu kepanjangannya. Saya tahu setelah baca BAP itu,” ujarnya. (Jawa Pos)