Oleh Rani Hardjanti, Nurfajri BN, Widi Agustian

Alokasi beban subsidi BBM yang ditanggung pemerintah sangat besar. Tapi, bagaimana saat harga minyak mentah dunia turun, seperti saat ini?

Logikanya, ketika harga minyak dunia turun maka biaya impor minyak juga akan turun. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang digunakan sebagai landasan penghitungan subsidi, pastinya juga akan turun. Dan pastinya, anggaran negara untuk subsidi energi tahun ini juga bakal tersisa banyak.

Namun jangan berharap banyak dulu. Harapan agar pemerintah menurunkan harga bahan bakar masih jauh panggang di atas api. Hingga kini pemerintah masih berpegang teguh pada ICP yang masih tinggi.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Departemen ESDM Evita H Legowo mengatakan, harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang tidak juga kunjung turun, adalah karena perhitungannya berdasar pada harga rata-rata ICP yang masih tinggi.

“Kita menghitung subsidi berdasarkan asumsi makro satu tahun. Yakni harga rata-rata ICP dari Januari hingga Desember harus USD95 per barel, sedangkan hingga hari ini harga rata-rata ICP hanya USD108,7 per barel,” ujarnya, saat dihubungi okezone, Jumat (24/10/2008).

Karena rata-rata harga ICP itu dihitung dari Januari hingga Desember, maka perhitungannya tidak bisa dilakukan sekarang. Evita mengungkapkan, saat ini hal tersebut sedang dalam proses. “Kami sedang dalam proses untuk melihat kemungkinan penurunan,” ujar Evita.

Artinya, bisa disimpulkan pemerintah hingga kini masih belum memiliki political will untuk mengubah asumsi ICP yang dipakai dalam menentukan harga BBM dalam waktu dekat. Padahal, jika mau, pemerintah bisa saja mengubah ICP menjadi harga rata-rata antara asumsi pada APBNP dan ICP riil.

Seperti diketahui, saat ini harga minyak dunia sudah turun lebih dari 50 persen dibandingkan harga tertingginya pada 11 Juli yang mencapai USD147,27 per barel. Pada perdagangan Kamis kemarin, harga minyak jenis light sweet diperdagangkan USD67,84 per barel, sedangkan harga minyak mentah jenis brent naik USD1,40 menjadi USD65,92 per barel.

Bandingkan dengan harga USD120 per barel saat pemerintah menaikkan harga BBM domestik sebesar 28,7 persen pada 24 Mei. yang ketika itu mencapai USD120 per barel. Artinya, sejak 24 Mei itu, harga minyak mentah sudah turun lebih dari USD50 dolar per barel.

Mengenai perubahan asumsi pada APBNP, Kepala Bappenas Paskah Suzetta punya jawabannya sendiri. Menurut dia, pemerintah belum bisa memenuhi keinginan menurunkan BBM karena masa fiskal tahun 2008 akan segera berakhir. “Dan membutuhkan waktu untuk mengubahnya,” kata dia dalam diskusi di kantor harian Seputar Indonesia, kemarin.

Selain itu, menurut politisi Golkar ini, ada sisi politis dalam setiap kebijakan mengubah anggaran. “Kalau ada perubahan APBN, pasti ada banyak lembaga atau departemen yang meminta tambahan belanja,” kata dia.

Jawaban Evita dan Paskah itu tentu tidak melegakan, di saat ekspektasi masyarakat terhadap turunnya harga bahan bakar sangat tinggi. Kita tahu, di tengah krisis yang melanda dunia saat ini, penurunan harga BBM tentu akan membantu menguatkan daya beli masyarakat, sehingga akan meningkatkan penyerapan produk industri dari sektor riil.

Sementara bagi dunia usaha, di tengah seretnya likuiditas, tingginya suku bunga pinjaman, dan ketidakpastian nilai tukar, turunnya harga BBM akan menjadi penyejuk yang menyemangati dunia usaha untuk terus tumbuh dan berproduksi.

Yang menjadi pertanyaan kini, jika pemerintah baru akan melakukan penghitungan perubahan ICP belakangan –dimungkinkan akhir tahun–, lalu ke mana selisih penurunan harga yang sudah terjadi? PT Pertamina (Persero) selaku satu-satunya operator migas pelat merah yang mengimpor minyak pasti bisa menjawab.

Selama ini perusahaan berslogan “Kita (Pertamina) Untung Bangsa Untung” itu selalu meminta porsi dana yang besar. Namun apakah itu masih pantas ketika harga minyak turun lebih dari 50 persen?

Kita berharap, berkah turunnya harga minyak dunia saat ini jangan hanya menguntungkan Pertamina, namun membuat buntung masyarakat dan pelaku dunia usaha.

DPR Bahas Wacana Penurunan BBM Desember

Oleh Widi Agustian

DPR akan melihat kembali masalah penurunan harga BBM subsidi pada awal Desember mendatang. Padahal, sebelumnya pemerintah telah menyatakan belum akan menurunkan harga BBM di tengah jatuhnya harga minyak

“Kita akan lihat kembali pada awal Desember nanti. Sedangkan kita akan review ulang mungkin pada Januari mendatang. Yang potensial turun itu adalah pada 2009,” ujar anggota DPR Komisi VII dari Fraksi PDIP Ramson Siagian, saat dihubungi okezone, di Jakarta, Jumat (24/10/2008).

Dia menjelaskan, untuk menurunkan harga jual BBM oleh PT Pertamina (persero), harus dilakukan penghitungan terlebih dahulu. Pasalnya bicara soal BBM maka akan berkaitan dengan masalah fiskal dan harus dilihat pula dari sisi APBN. “Kalau nanti naik lagi setelah diturunkan bisa habis kita,” paparnya.

Sedangkan ketika disinggung mengenai BBM nonsubsidi yang seharusnya turun mengikuti harga pasar, Ramson mengiyakan hal tersebut. “Yang nonsubsidi seharusnya mengikuti harga pasar,” katanya.

Wapres: Harga BBM Belum Akan Turun

Oleh Lamtiur Kristin Natalia Malau

Pemerintah belum akan menurunkan harga BBM meski harga minyak dunia sudah berkisar USD70 per barel.

Meski kalangan DPR dan pengusaha terus mendesak, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menyatakan mekanisme menurunkan harga BBM tidak semudah yang dibayangkan.

“BBM itu kita tidak pernah tau kapan naiknya. Kita susah memprediksi tapi yang jelas kita masih subsidi. Kalau ada yang jamin tetap USD60 per USD, oke. Kita tidak bisa ambil keputusan hanya karena hari ini (penurunan harga minyak sesaat),” ujar Wapres di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (24/10/2008).

Menurut Wapres, saat ini harga komoditi dunia sama sekali tidak beraturan. Karena itu, pemerintah tidak bisa menggunakan harga minyak hari ini sebagai patokan. “Pemerintah tidak bicarakan ini dulu,” tandasnya. (Okezone)