Suasana lingkungan yang baru, masih asing, serta sangat jauh berbeda dengan kondisi asal jamaah haji Indonesia, menjadi penyebab seringnya jamaah tersesat di tanah suci. Hampir setiap hari jamaah haji Indonesia tersesat jalan, saat kembali dari Masjid Nabawi usai menunaikan sholat wajib, apalagi ketika usai sholat Isya. Dan hampir sebagian besar jamaah yang tersesat itu merupakan jamaah haji lanjut usia, yang diantara mereka pun tidak memahami bahasa Indonesia,apalagi bahasa asing.

Jumlah jamaah haji Indonesia yang tersesat jumlah bisa mencapai ratusan orang, akan tetapi menanganinya jamaah tersesat petugas siaga mengantar hingga sampai ke pemondokan mereka. Akan tetapi terkadang, petugas yang menangani sempat kawalahan, karena tak jarang jamaah haji yang tidak mampu berkomunikasi secara baik itu menolak untuk diantar oleh petugas ke pemondokannya. Karena mereka, mengkhawatir akan dibawa ke tempat yang salah.

Sikap kehati-hatian yang ditanamkan oleh jamaah haji Indonesia sangat baik, akan tetapi kalau sudah tersesat atau lupa pulang alangkah baiknya mempercayakannya pada petugas. Toh petugas sudah dilengkapi pakaian seragam, baik baju, rompi ataupun jaket yang dilengkapi dengan lambang bendera Merah Putih, lagi pula wajah Indonesia sangat khas berbeda dengan orang Arab.

Menemukan jamaah tersesat ternyata menjadi suasana keseharian yang terjadi di Daerah Kerja Madinah, bukan hanya petugas yang memang bertugas mengurusi kasus tersebut. Akan tetapi, siapa pun yang menggunakan seragam petugas mempunyai kewajiban juga untuk mengantar jamaah yang sedang kesulitan. Hal itu pun dialami oleh Eramuslim bersama Tim Media Center Madinah yang tengah mencari bahan berita, mesti rela membiarkan mobil dinasnya dipakai untuk mengantar jamaah yang tersesat.

“Kayanya kalau disini bisa nabung pahala ya, sering-sering aja mengantar jamaah yang sesat, insya allah ada pahalanya,” ujar Salah satu Anggota Jeddah yang berkesempatan singgah di Madinah.

Memang untuk memberikan pengertian bagi jamaah yang sesat jalan ini terkadang agak sulit, rasa trauma, ketakutan menghantui pikiran mereka. Meski petugas telah berupaya untuk menenangkannya. Hal ini kami rasakan, saat bertemu dengan tiga orang jamaah sesat usai sholat Isya. Kami mencoba mengantar ketiganya ke sektor I Madinah, kedua jamaah langsung dibawa ke pemondokan yang tidak jauh dari sektor I.

Sementara itu, ternyata satu dari ketiga itu merupakan jamaah sektor 3. Ibu Dasiyah, warga Banten, Jawa Barat itu terpisah dari teman satu kamarnya usai sholat Isya di Masjid Nabawi. Sepanjang perjalanan, Ibu Dasiyah, bersama rombongan kami antar menuju pemondokan di wilayah Markaziyah (perhotelan) Badar Muhammadiyah, Madinah.Selama perjalanan itu pun, wanita berusia 56 tahun itu terus menangis menyesali keteledorannya sehingga bisa terpisah dari teman-temannya.

“Sudah Bu Istigfar saja, kan sekarang kita sudah mau anterin Ibu pulang,” kataku menenangkan Ibu tersebut.Serta merta, Ibu Dasiyah pun mengusap air matanya. ” Iya neng, untung Ibu bisa ketemu, sama kalian semua, Ibu takut neng, apalagi kalau denger ceritanya. Tadi saya udah nanya polisi eh cuma nunjuknya kesitu, situ mana saya bingung,” ujarnya.

Sudah berkali-kali jamaah diingatkan agar kejadian serupa itu tidak terulang, akan tetapi memang suasana masjid yang sesak dengan jamaah, ditambah lagi perubahan dari siang ke malam, apabila jamaah bertahan sejak Ashar sampai Isya di Masjid tentu suasana berbeda, ditambah lagi bentuk gedung disekitar Masjid Nabawi yang hampir sama wajar apabila membuat jamaah bingung. (Eramuslim)