Tiga warga Israel di kota Ashkelon diangkut ke rumah sakit gara-gara syok oleh tembakan roket Grad yang jatuh di kota itu, hari Selasa pagi waktu setempat. Israel mengklaim tembakan roket itu berasal dari wilayah Gaza dan untuk pertama kalinya roket yang digunakan adalah roket jenis Grad.

Tembakan roket Grad itu membuat warga Ashkelon yang berada di selatan Israel panik, karena biasanya para pejuang Palestina di Gaza hanya menggunakan roket al-Qassam.

Tembakan-tembakan roket ke wilayah Israel terjadi sepanjang Senin kemarin. Pada pagi hari, sedikitnya tiga roket menghantam kota Eshkol dan pada sore hari sebuah roket al-Qasssam jatuh di lapangan terbuka di Sha’ar Hanegev. Semua tembakan roket itu tidak menimbulkan kerusakan dan korban jiwa di pihak Israel.

Namun sebagai balasan atas tembakan roket tersebut, Israel melakukan serangan udara ke selata Jalur Gaza yang menyebabkan satu warga Palestina syahid dan tiga orang lainnya luka-luka. Israel mengklaim target serangan mereka adalah kelompok orang yang melakukan tembakan roket ke Israel.

Para pejuang Palestina sesekali menembakkan roketnya ke Israel karena Israel tidak juga membuka perbatasan dan mengakhiri blokade sebagai syarat gencatan senjata yang diajukan para pejuang.

Yahudi Tak Boleh Masuk, Anjing Boleh

Semua gadis Yahudi selalu ingin tinggal di Turki. Impian mereka adalah bisa menikah di Sinagog terkenal Neveh Shaleom yang berada di Istanbul.

“Tempat yang indah,” ujar Sheila, seorang gadis Yahudi. “Tapi saya dan tunangan saya tak mungkin lagi menikah di sana. Ketika ibu saya pergi ke kantor kementerian di Istanbul untuk mengambil berkas-berkas pernikahan, mereka sama sekali tidak menolongnya. Itu karena ibu saya seorang Yahudi. Sekarang situasinya menjadi tak terkontrol.”

Sheila melanjutkan, “Semuanya menjadi buruk. Semua toko di Istanbul memasang banner ‘Yahudi Tak Boleh Masuk, Anjing Boleh.’ Anda semua bisa membayangkan bagaimana perasaan orang Yahudi sekarang ini. Gerakan anti-Yahudi di Turki mencapai tahap paling parah sepanjang sejarah.”

Sheila tidak sendiri. Nathalie, seorang imigran Yahudi yang berada di Istanbul juga merasakan hal yang sama. “Sekarang, rakyat Turki bukan hanya menentang Israel, tapi juga semua bangsa Yahudi. Semuanya ini tidak masuk akal.”

Pemerintah Israel sebenarnya sudah membuat pernyataan agar orang Yahudi yang menetap di Turki untuk segera kembali ke Israel. Tapi seruan ini ditolak mentah-mentah oleh banyak kaum Yahudi. “Saya katakan yang sejujurnya, saya sangat mencintai Turki. Siapapun tidak akan pernah bisa membuat saya meninggalkan Turki, walaupun saya dibayar mahal.” ujar Itzik Bahar, Yahudi yang tinggal di Istanbul sejak tahun 1948. “Sekarang kami tengah hidup dalam suasana teror yang kami buat sendiri.”
(Eramuslim)