Oleh: Muhaimin Iqbal

Isu Flu Burung –terutama flu babi—telah ikut membuat repot perekonomian global. Tetapi dinar tak pernah terusik oleh isu apapun

Belum juga krisis finansial berakhir, dunia sudah dikejutkan dengan potensi krisis berikutnya yaitu krisis Flu Babi. Menurut estimasi Bank Dunia yang disiarkan CNBC kemarin malam, bila krisis ini menjadi pandemic global – maka dampak kerugian ekonomis yang ditimbulkannya bisa mencapai US$ 3 trilyun atau dapat memotong GDP negara-negara di dunia sampai 5 %.

Pada saat Flu Burung yang hanya merebak di Asia Tenggara saja pada tahun 2003, negara-negara di kawasan ini mengalami penurunan GDP rata-rata 0.6 %.

Pada awal krisis Flu Babi ini yang sudah terkena dampaknya antara lain adalah :

Enam negara sudah melarang impor daging apa saja dari sebagian negara bagian Amerika Serikat.

Hotel dan Airlines tiba-tiba mengalami penurunan penjualan yang sangat tajam karena orang menjadi takut bepergian. Penurunan penjualan ini langsung di response juga dengan penurunan saham-saham mereka di bursa saham.

Di Mexico City pemerintah setempat  sudah menutup seluruh sekolah sampai tanggal 6 Mei Mendatang; sebagian aktifitas bisnis juga sudah mulai ditutup

Sejauh ini hanya perusahaan obat seperti Roche dan GlaxoSmithKline yang masing-masing memproduksi Tamiflu dan Relenza – dua obat yang dipercayai masih efektif melawan Flu Babi – yang melonjak penjualannya dan otomatis harga  sahamnya.

Bila krisis berlanjut maka akan lebih luas lagi aktifitas ekonomi dan sosial yang terganggu, dan bila ekonomi terganggu maka mata uang juga akan terganggu. Negara-negara yang dianggap aman dari Flu Babi ini akan semakin kuat mata uangnya dan sebaliknya negara-negara yang dianggap tidak aman atau tidak mampu mengatasi Flu Babi akan semakin lemah mata uangnya.

Untuk sementara mata uang US$ masih tetap kuat di awal krisis Flu Babi ini karena pelaku ekonomi dunia masih berpersepsi bahwa US$ lebih mampu mengatasi krisis ini dibandingkan dengan negara tetangganya, seperti Mexico yang korbannya telah mencapai 149 orang.

Namun bila krisis ini ternyata tidak bisa diatasi oleh AS, misalnya dengan jatuhnya beberapa korban meninggal karena positif Flu Babi – maka kepercayaan pasar akan runtuh bersamaan dengan jatuhnya korban tersebut. Ini yang nantinya akan mengganggu keperkasaan mata uang US$.

Berbeda dengan uang fiat yang keperkasaannya tergantung dari (persepsi) kekuatan ekonomi suatu negara, uang emas atau Dinar keperkasaannya terletak pada daya beli bendanya itu sendiri.

Jadi insyaallah emas atau Dinar akan netral atau tidak akan terkena dampak negatif dari gonjang-ganjing Flu Babi ini. Wa Allahu a’lam. [www.hidayatullah.com]

Penulis Direktur GeraiDinar dan kolumnis di http://www.hidayatullah.com