Militer Filipina meningkatkan serangannya di Moro. 13 kaum Muslim dikabarkan telah tewas

Tindak kekerasan kian meningkat di kawasan selatan Filipina menyusul serangan udara militer terhadap kamp-kamp kaum MILF, Front Pembebasan Islam Moro.

Pihak militer mengatakan, 13 orang Muslim dan seorang warga sipil tewas, dan lima orang tentara terluka dalam pemboman itu yang disusul dengan tembak-menembak.

Menurut koresponden Radio Australia di Manila, serangan udara angkatan bersenjata Filipina terhadap kamp-kamp MILF dan tembak-menembak sudah berlangsung selama dua hari.

Kalangan pejabat pemerintah menduga, jumlah korban akan meningkat dan warga kampung setempat bakal terpaksa mengungsi, khususnya di provinsi Maguindanao di Barat Daya Mindanao.

Pihak militer mengatakan, serangan udara itu merupakan pembalasan terhadap serangan MILF terhadap satuan-satuan tentara, yang antara lain menewaskan seorang tentara dan seorang warga sipil.

Jurubicara kaum muslimin mengkonfirmasi serangan udara dan pertempuran yang terjadi, dan mengatakan bahwa beberapa orang tentara juga tewas.

Sebagaimana diketahui, sejak beberapa pekan terakhir, puluhan ribu orang melarikan diri meninggalkan kediaman mereka di wilayah selatan Filipina yang mayoritas penduduknya beragama Islam sejak beberapa pekan terakhir. Eksodus ini terjadi ketika pasukan pemerintah meningkatkan serangan menghadapi Front Pembebasan Islam Moro.

Menurut Mishael Argonza, pejabat Program Pangan Dunia PBB, WFP, ribuan orang meninggalkan rumah dan pertanian di Maguindanao, sebuah propinsi di Wilayah Otonomi Muslim Mindanao (ARMM).

Militer meningkatkan gempuran menyusul gagalnya perundingan damai dengan MILF, kelompok muslim terbesar di Filipina. Dalam beberapa pekan ini, militer menembakkan artileri dan mortir ke wilayah itu. Hampir 500 orang tewas, banyak dari mereka adalah warga sipil yang terjebak dalam pertempuran. Sekitar 2.000 rumah di Maguindanao terbakar.

Tahun lalu, laporan PBB menunjukkan sekurangnya 600.000 orang meninggalkan rumah di wilayah itu. Ini jumlah terbesar untuk penduduk yang kehilangan tempat tinggal di dunia.

Mindanao merupakan tempat pertama penyebaran Islam di Filipina pada abad ke-13 Masehi, sekitar 200 tahun sebelum penyebaran agama Kristen. Di wilayah ini dihuni lebih dari 5 juta umat Islam. [au/hid/www.hidayatullah.com]